
Pagi hari, cahaya mentari mulai memasuki jendela kaca kamar Zhi akibat tirai yang tersingkap. Zhi membuka matanya, dan segera membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu, dia lanjut menuruni tangga menemui Calvin di meja makan yang setiap pagi sudah menyiapkan sarapan untuknya, juga untuk dirinya sendiri.
Dia melihat Calvin duduk seorang diri di meja makan seraya memainkan ponselnya, lelaki itu selalu menunggu Zhi turun untuk sarapan.
"Pagi, Calvin!" sapa Zhivanan sambil berjalan menuruni tangga. Dia masih memakai baju piyama yang melekat di tubuhnya.
"Zhi, kamu nggak ikut ke kantor, kok belum rapi?" tanya Calvin pada Zhi yang tengah menggeser kursinya untuk duduk. Dia berada tepat di depan Calvin, tetapi terhalang meja makan.
"Enggaklah, kali ini aku mau istirahat aja, Vin. Aku capek pingin tidur. Kemarin, aku sudah bekerja keras belajar masak denganmu. Bahkan, kau tidak memperbolehkan aku istirahat, lelaki macam apa itu," gerutu Zhi, matanya melirik tajam dengan kesal.
“Gitu doang kamu bilang bekerja keras? Itu hanya memasak, Zhi. Bukannya lari keliling stadion!"
“Sama aja, Vin. Intinya badanku lelah, berdiri terus di dapur."
"Ya sudah ... baguslah, kalau kamu nggak ikut ke kantor. Aku bisa bebas hari ini tanpa mendengar kicauanmu." Calvin menyuapkan sesendok scrumble egg ke mulutnya. Zhi tak menjawab kalimat Calvin, dia terus mengunyah nasi goreng buatan lelaki itu.
Beberapa menit kemudian, saat mereka menyelesaikan sarapannya, Calvin izin berangkat pada Zhi. Lelaki itu dengan langkah tegapnya berjalan menuju pintu, tangannya menenteng tas berwarna hitam. Saat hendak memasuki mobil, Calvin membuka kaca jendela, menjentikkan jarinya sebagai isyarat agar Zhi mendekat.
"Zhi, jangan lupa kunci pintunya. Dan jangan pernah membukakan pintu atau pagar jika bel berbunyi. Semua orang tahu kalau aku tinggal sendirian di sini. Jadi, jangan sampai orang lain tahu kalau kamu tinggal bersamaku."
__ADS_1
"Baiklah, Tuan Bawel!" jawab Zhi. Wanita itu layaknya seorang istri yang setia mengantarkan suaminya dari ambang pintu hingga menaiki mobil, juga menyaksikan keberangkatannya. Akan tetapi, sepertinya hal itu mustahil bagi Calvin. Dia tak pernah mau berharap lebih pada Zhi.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah milik Gracella. Wanita itu sudah rapi dengan blazer merah dan rok mini di atas lutut berwarna hitam. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah Eryn—mamanya Calvin. Setelah berpikir panjang sejak bangun tidur tadi, dia mempunyai ide dan rencana untuk menjauhkan Zhi dengan Calvin, dan merebut kembali posisinya sebagai tunangan lelaki itu.
Dia begitu yakin rencana yang telah dia susun rapi kali akan berhasil karena bantuan Eryn. Gracella harus berusaha mengambil hati Eryn lagi.
Wanita dengan style feminim itu mengendarai mobil merahnya, membelah jalanan kota. Pagi ini, jalanan cukup lenggang. Itu sebabnya, tak memakan waktu lama, wanita itu sampai di tempat tujuannya.
Mobil itu melesat tepat di halaman rumah Eryn setelah dipersilakan masuk oleh seorang satpam yang bertugas menjaga keamanan.
Gracella membunyikan bel rumah yang berada di tepi pintu. Tak menunggu lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya. Tanpa persetujuan tuan rumah, wanita paruh baya itu mempersilakan gracella masuk dan menunggu di ruang tamu, karena dia berpikir jika Gracella masih sah menjadi tunangan Calvin. Padahal, dia sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan tuan mudanya itu.
Sebentar saya panggilkan nyonya dulu ya, Non. Silakan duduk!" Bi Inah naik ke atas untuk memanggil Eryn. Gracella pun mengangguk dengan senyumannya yang dibuat seramah mungkin.
Satu menit kemudian, Eryn menuruni tangga dan menemui Gracella. "Mau apa kau datang kemari? Rupanya tak punya malu juga menginjakkan kaki di rumahku." Wajah Eryn jelas terlihat kebencian. Dia menghela napas panjang saat melihat Gracella yang sedang duduk di ruang tamu.
Jangan panggil aku dengan sebutan 'mama' lagi, aku sudah tidak sudi menganggapmu anak jika kelakuanmu saja sangat memalukan! Apa kamu lupa, kamu sudah menyakiti hati anakku. Bisa-bisanya wanita yang aku kira tulus, nyatanya berselingkuh di belakang Calvin dan mengejar harta suami orang. Sangat menjijikkan!" umpat Eryn, dia masih berdiri dengan kibasan kipasnya yang terus mendinginkannya ketika emosi memuncak.
"Ma, tolong percayalah! Beri Grace kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Grace akan menceritakan kejadian sebenarnya," tutur Gracella. Dia mendekati Eryn, dia menggandeng tangan wanita itu dan membawanya ke sofa.
Gracella menjelaskan suatu kebohongan, dia berpura-pura dijebak oleh seorang fotografer hingga akhirnya, Calvin memergokinya di hotel waktu itu.
Bujuk rayuan Gracella mampu membuat Eryn berpikir dua kali untuk percaya padanya. Grace memasang muka sendu agar mendalat belas kasihan Eryn.
__ADS_1
"Ma, sekarang Calvin sudah tidak mau melihatku lagi. Aku benar-benar menderita karena dia tidak percaya padaku. Apalagi, sekarang dia dekat dengan Zhivanna. Wanita yang hanya ingin memanfaatkan Calvin. Aku sangat mencintainya, Ma. Aku tidak rela jika Calvin bersama wanita lain." Gracella mengeluarkan air mata mautnya yang berhasil membuat Eryn simpati, wanita itu lantas memeluk Gracella yang duduk di sampingnya. saat dia menunduk dan menghapus air matanya yang sudah banjir membasahi pipinya.
"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi." Eryn menepuk pelan pundak Gracella, lalu dia menanyakan soal Zhivanna. Eryn teringat saat terakhir kali dia berkunjung ke rumah Calvin, dia juga bertemu seorang wanita cantik bernama Zhi.
"Zhivanna?" Eryn mengernyitkan dahinya. "Asisten Calvin?"
"Hah? Asisten? Bukan, Ma. Dia hanyalah wanita liar yang entah dari mana datangnya, bahkan saat ini dia tinggal nersama Calvin. Aku takut dia akan memperdaya Calvin ke depannya."
"Omong kosong apa yang kamu ucapkan itu! Jangan bicara sembarangan. Calvin tidak mungkin berduaan dengan seorang wanita di rumahnya." Eryn tak percaya dengan penuturan Gracella.
"Kalau Mama tidak percaya, aku bisa membuktikannya sekarang. Jika kita tidak bergerak cepat, maka Zhi akan menguasai Calvin, Ma." Lagi-lagi, Gracella mengeluarkan buliran hangatnya untuk membuat Eryn semakin percaya padanya.
"Tidak akan kubiarkan wanita asing itu menguasai anakku!"
"Mereka tega sekali Calvin membohongi Mama, ini pasti ulah Zhi," ungkap Grace yang sengaja memanas-manasi Eryn agar semakin membenci Zhivanna.
Eryn sejenak terdiam dan bergelut dengan pikirannya.
Jadi, mereka membohongiku? Kelewatan sekali Calvin, beraninya berbohong pada mamanya. Napasnya mulai memburu, garis wajahnya sedikit menegang mengingat kebohongan anaknya, padahal selama ini Calvin anak yang sangat baik, sekali oun dia tak peenah berbohong pada orang tuanya.
"Ma, bagaimana kalau sebaiknya kita ke rumah Calvin sekarang? Mama, kan, ada kunci rumahnya Calvin," usul Gracella dengan tiba-tiba.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...