
Keesokan harinya, Calvin membuka mata, saat masih tergolek di atas ranjang kamarnya. Selimut tebal masih melilit di tubuh kekarnya. Beberapa kali matanya mengerjap, mencoba menyadarkan pikirannya. Dia begitu bingung saat melihat sekitarnya, berusaha mengingat-ingat kejadian akhir-akhir ini yang seperti mimpi, tetapi terasa sangat nyata. Entah ada apa dengannya kini, yang jelas hanya ling lung yang ada di kepalanya.
Enggan membuang waktunya untuk berlama-lama di atas tempat tidur, dia pun segera beanjak dan bergegas menjalani ritual mandinya dan bersiap untuk bekerja seperti biasa.
Calvin telah rapi dengan setelan jas hitam, rambutnya tesisir rapi. Dia berdiri di depan cermin, memandangi pantulan diri. Gurat sedih dan juga kebingungan terlihat jelas di wajahnya. Calvin membayangkan wajah seseorang, mengingat semua kejadian yang dia lakukan sebelumnya.
“Apa semua ini hanya mimpi? Pernah berada di dimensi lain, bertemu seorang perempuan cantik bernama Zhivanna. Bahkan aku menikah dengannya di sana. Sungguh sangat sulit di percaya,” gumam Calvin.
Tak mudah untuuk Calvin mengingat semuanya, seolah apa yang sudah terjadi hanyalah semu. Tak ada lagi yang bisa menjelaskan, hanya tanya tanpa jawab yang menghantui pikirannya.
__ADS_1
Calvin kembali memutar ingatannya sejak pertama kali bertemu dengan Zhi, dia begitu yakin sosok itu memanglah ada. Apalagi, sudah beberapa orang yang memang menemui zhi secara langsung, Calvin ppun bisa lanngsung menanyakannya pada asisten rumah tangganya, orang tua, bahkan sahabatnya untuk memastikan bahwa sosok zhivannna memang bennar-benar ada.
Kesepian dan kesendirian menyelimuti hati Calvin saat dirinya melewati kamar yang biasa Zhi tiduri. Calvin melangkah masuk ke dalam, memastikan keberadaan Zhi. Namun, tidak ada siapa pun di dalam. Kosong. "Zhi, ke mana kamu?" rintihnya sembari bersender di lemari tersebut.
Dadanya terasa sesak saat dia membuka lemari dan benar masih banyak pakaian Zhi di sana. Calvin memeluknya erat sebentar, diciumnya aroma Zhi pada helaian kain tersebut, aroma yang sepalu dia rindukan. Selang beberapa saat kemudian Calvin terkesiap lalu mengusap kasar wajahnya yang sudah mulai basah karena air mata. Rasa kehilangan itu begitu mendalam dirasakannya. Dia benar-benar putus asa sekarang.
"Zhi!" teriaknya kencang. Suara Calvin menggema di seluruh ruang, berharap ada sahutan dari wanita yang diharapkannya.
Calvin lalu menuruni tangga dan menuju dapur. Rumah masih tertata rapi. Tak ada satu orang pun di lantai bawah, termasuk asisten rumah tangganya. Ganya dia seorang diri di rumahnya, sepetti dulu saat dia belum bertemu Zhi. Kini hidupnya terasa hampa.
__ADS_1
Calvin meneguk segelas air di meja makan. Dia duduk termenung, lagi-lagi pikirannya mengarah pada pernikahannya dengan Zhi yang tampak begitu nyata. Namun, semua terasa aneh saat dirinya tidak bisa lagi mengingat kejadian terakhir kali di negeri Zhi. Sebenarnya dia sendiri pun masih ragu akan dimensi alam lain itu, antara masih tak percaya dan semua memang terasa mimpi.
“Aku begitu yakin kamu juga mencintaiku, Zhi, tapi ... ke mana kamu sekarang? Kenapa kamu meninggalkanku?” Calvin terus berbicara sendiri. Dia tak tau lagi bagaimana harus menormalkan pikirannnya agar tak terpusat pada Zhi terus. “Zhi, kalau memang benar kamu nyata, kembalilah! Jangan membuatku terus berpikir kalau ini hanya mimpi. Rasa itu benar-benar mengusikku dan masih kurasakan sampai saat ini. Aku mencintaimu, Zhivanna. Bagaimana ke depannya jika aku nggak bisa melihatmu lagi? Bagaimana hidupku, Zhi?"
__ADS_1