Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Kelicikan


__ADS_3

Buat apa? Calvin juga sekarang, kan, lagi di kantor."


"Bukan, Ma. Maksud aku, kita mengecek keberadaan perempuan itu. Siapa tahu sekarang dia ada di rumah sendirian," jelas Gracella yang langsung mendapatkan anggukan dari Eryn.


Meskipun Eryn masih belum sepenuhnya percaya pada Gracella soal perselingkuhannya, tetapi dia ingin membuktikan ucapannya tentang Zhi yang tinggal di rumah Calvin. Dia begitu penasaran, seberapa jauh hubungan Calvin dengan Zhivanna.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Tapi, ingat ya, bukan berarti aku sudah memercayaimu soal perselingkuhanmu itu!" Grace terdiam, setidaknya langkahnya untuk mendekati Eryn.


Eryn dan Gracella pergi bersamaan mengendarai satu mobil menuju rumah Calvin. Jalanan saat ini sangat lenggang saat jam menunjukkan pukul sembilan pagi, karena sudah tak ada lagi orang yang berangkat kerja dan juga makan siang karena belum jam istirahat.


Tiga puluh menit berlalu, Eryn dan Gracella telah sampai di depan rumah Calvin. Eryn membuka pagar rumah tersebut dengan remote yang diberikan oleh Calvin saat membeli rumah itu.


Saat memasuki rumah, mata Eryn dan Gracella mengitari sekeliling ruangan, menelisik ke setiap sudut mencari keberadaan Zhi. Nihil, tak ditemui seorang perempuan di sana. Mereka lantas menaiki tangga, karena penasaran dengan kamar tamu, kemungkinan besar, Zhi memang berada di sana.


Suara derap kaki sepatu wanita terdengar jelas di indra pendengaran Zhi. Zhi yang tengah merebahkan tubuhnya di ranjang, dia terkesiap dan gegas menghampiri pintu, kemudian, Zhi membukanya. Ketiga orang itu saling tatap karena terkejut.


"Hei! Apa-apaan ini, ngapain kamu di sini?" pekik Eryn, matanya membeliak menatap Zhi dari atas sampai bawah.


Begitu juga dengan Gracella, pandangannya tak berkedip saat menatap kalung berliontin opal yang menggantung di leher Zhi. Dia teringat mimpinya semalam.


"Bener, kan, Ma. Wanita murahan itu tinggal di sini." Gracella melengos dengan tatapan sinis.


Zhi kebingungan, dia tak bisa berkata apa pun, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Zhi berdiri terpaku, menatap bergantian wanita yang ada di depannya.


"Ikut saya!" perintah Eryn, dia menyuruh Zhivanna untuk turun ke bawah. Eryn dan Gracella berniat hendak menginterogasinya. Tanpa sahutan satu kata pun, Zhi menurut. Gracella menarik tangan Zhi kasar agar cepat berjalan. Zhi bersabar ketika mendapat perlakuan itu. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam.


"Buatkan Mama Eryn minum, cepat!" Zhi


"Ma, aku mau ke dapur sebentar, ya. Grace mau memastikan, Zhi tidak menaruh racun dalam minuman kita." Gracella berpamitan, dia segera menuju dapur untuk mengawasi Zhi yang sedang membuatkan minuman.


Beruntung, sebelumnya Calvin sudah mengajari cara membuat minuman, jadi kali ini Zhi tak terlihat bodoh.

__ADS_1


"Hei! Wanita jallang, siapa kau sebenarnya!" tanya Gracella, tatapannya menghunus tajam terhadap Zhi.


"Bukan urusanmu! Minggir!" Zhi menabrak tubuh Gracella ketika hendak keluar membawa minuman. Wanita itu terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Namun, dia berhasil menjaga keseimbangannya.


Gracella melihat pisau yang tertata rapi di depannya, dia segera mengambil dan menarik tangan Zhi. Tak peduli jika dia harus melukai Zhi, memang itulah niat awalnya. Dia hanya ingin mengetes kemampuan Zhi. Apa wanita itu benar-benar makhluk dari dimensi lain, atau memang hanya manusia biasa.


Saat bahaya mengancamnya, Zhi sangat peka untuk melindungi diri dan menghindar. Akan tetapi, kali ini dia memang sengaja berdiam diri. Zhi tak peduli jika dirinya harus terkuka oleh tusukan pisau. Toh dia juga akan cepat menyembuhkan luka itu dengan kekuatannya. Jika Gracella mengajaknya bermain-main, maka Zhi juga tak kalah licik untuk mengelabuhinya.


"Tunggu! Kenapa cepat-cepat sekali mau menghindar dariku? Kamu takut?" Grace menyeringai. Matanya terus menatap pisau tajam itu.


Zhivanna kembali meletakkan nampan yang dibawanya.


"Kenapa? Kau mau menyelakaiku? Silakan!" Zhi menantang.


Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, dia langsung melukiskan pisau itu ke pipi Zhi. Wanita itu langsung berteriak keras.


"Argh! Auwh!" pekik Zhi, dia sengaja mengeraskan suaranya untuk menarik simpati Eryn.


"Ma, tolong aku, Ma! Tadi dia hampir saja melukaiku, untung aku bisa menghindar." Gracella memasang wajah sedihnya, saat dia duduk di lantai, berpura-pura jatuh.


Zhi yang terus memgangi pipinya terus meringis, sebenarnya luka sekecil itu tak berpengaruh bagi Zhi. Dia tak merasakan sakit sama sekali, hanya saja, dia berakting layaknya tak mampu menahan perih.


"Apa-apaan kalian ini! Kalian mau jadi pembunuh satu sama lain?" tanya Eryn dengan nada tegasnya.


Wanita itu menatap Zhi kasian karena darah segar mulai menetes ke lantai. Zhi kemudian pergi dan masuk ke kamarnya. Dengan begitu, dia akan lolos dari wawancara aeryn dan Gracella.


"Permisi, Tante. Aku harus mengobati lukaku," tutur Zhi.


Zhi tersenyum puas saat membalikkan badan, dia berjalan menaiki tangga dengan girang. Wanita itu lalu mengunci pintu kamarnya, dia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.


"Yes, akhirnya aku bebas!" gumam Zhi.

__ADS_1


Jari lentik itu menye-croll daftar kontak san mencari nama Calvin di sana. Hanya menunggu dua kali deringan nada tunggu, Calvin langsung mengangkat telepon dari Zhi. Bahkan, dia membiarkan luka di pipinya itu mengeluarkan darah terus.


"Halo, Calvin! Cepatlah pulang. Di rumah sedang terjadi sesuatu!" Zhi berucap lirih di sambungan telepon agar Erny dan Gracella tak mendengar pembicaraannya.


"Ada apa, Zhi?"


"Ini mamamu sama annabelle datang kemari. Aku bingung harus berkata apa jika dihujani pertanyaan."


"Ah, sial!"umpatnya, "kamu sekarang di mana?"


"Di kamar, Vin. Aku sudah mengunci pintunya."


"Baiklah, kamu jangan dulu keluar kamar. Aku akan segera pulang." Calvin langsung menutup teleponnya dan gegas pulang.


Zhi yang sedang duduk di depan cermin rias, dia menatap wajahnya yang terluka dan bersimbah darah. Bukannya takut, dia malah bermain-main drngan darah itu.


"Ini terlihat sangat seru, seperti film-film hantu yang ditonton Calvin waktu itu," gumam Zhi, dia membiarkan darah itu menetes di baju putihnya.


"Ternyata saat aku berubah jadi manusia, aku bisa mengeluarkan cairan merah seprti ini, aku kira sama-sama hijau saat aku tinggal di Luchania.


Cairan yang mengalir ke tubuh Zhi bisa berubah seketika saat dia berbeda alam. Tak heran, jika dia sedikit menikmati warna darah itu. Di sisi lain, dia sengaja ingin meminta belas kasihan dari Calvin nanti saat tiba di rumahnya.


Gracella dan Eryn tengah asyik berdebat di ruang tamu karena dia juga sedikit menyalahkan Grace ketika Zhi terluka. Gracella pun terus menangis dan berakting pada Eryn agar percaya padanya.


Tiba-tiba, pintu terbuka lebar tanpa ketukan sebelumnya. Kedua pasang mata wanita itu melotot dan saling melempar tatapan.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2