Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Ingat Umur, Pa!


__ADS_3

Sesampainya di kamar tamu, Calvin menyuruh Zhi masuk dan melarangnya untuk keluar sampai orang tua Calvin pergi dari rumahnya.


Saat memasuki kamar yang sebelumnya tertutup rapat tanpa hawa udara yang masuk, Zhi merasakan pengap dan gerah. Wanita itu pun mengipasi dirinya dengan telapak tangan yang mengayun ke depan wajahnya. Calvin yang melihat itu, dia langsung bergerak cepat mencari remote air conditioner.


Pendingin ruangan itu tiba-tiba menyala dengan sendiri, padahal Calvin masih mencari remote. Dia pun tercengang, pandangannya ke langit kamar bagian sudut di mana terdapat AC di sana.


“Zhi, apa ini juga ulahmu?” tanya Calvin.


“Kelamaan jika menunggumu menyalakannya, harus mencari benda itu sampai dapat,” kata Zhi dengan wajah yang cuek. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk berseprai putih itu. Wanita itu merebahkan tubuhnya, menikmati betapa empuknya kasur itu tanpa menyadari keberadaan Calvin yang masih berdiri di depannya.


Calvin yang tak mau berlama-lama di dalam kamar bersama Zhi, dia lantas memilih untuk membalikkan badannya dan gegas keluar.  Namun, dia teringat akan sesuatu, dia kembali lagi masuk dan berpesan pada Zhi.


“Zhi, jangan keluar dulu sebelum aku menyuruhmu untuk keluar, paham?” tekan Calvin, dia begitu menghindari percakapan antara Eryn dan Zhivanna karena tak ingin mamanya terus menginterogasi Zhi dengan asal usulnya yang dari antah berantah.  


“Paham Calvin, lagi pula aku juga malas jadi patung di bawah. Bahkan, aku napas pun seperti kesusahan.”


“Apa yang kau katakan itu!” Calvin menggelengkan kepala dan memilih untuk pergi. Dia memegang handle pintu dan mulai mengayunkan langkahnya.


 “Calvin!" teriak Eryn dari lantai dasar memanggil Calvin, memberi isyarat agar dia segera turun dan tidak berlama-lama di kamar dengan seorang perempuan.


“Iya, Ma!” seru Calvin yang langsung mempercepat langkahnya.


“Kenapa masih di atas? Cepat turun!” teriaknya lagi, suara itu secara tidak langsung membangunkan Armand yang tengah tertidur di lantai dasar. Benar-benar memekakkan telinga jika Eryn sudah mengeluarkan suara lantangnya.


“Iya, ini Calvin turun, Ma.” Calvin mengela napas panjang dan membuangnya kasar. Satu per satu, kakinya menuruni tangga.

__ADS_1


“Pa, sudah bangun? Makan dulu, Pa. Kita sudah makan duluan tadi,” ucap Calvin saat berpapasan dengan Armand yang baru saja keluar dari kamar.


“Bagaimana papa nggak bangun jika suara terompet tahun baru sudah menggema. Benar-benar membangunkan orang yang lagi bermimpi indah!” gerutu Armand sambil memasang wajah kesal, tetapi tak mengurangi kesan humoris pada dirinya. Calvin pun terkekeh.


“Ya sudah, Calvin ke mama dulu, ya, Pa. Nggak apa-apa, kan, kalau Papa makan sendirian?”


“Papa bukan bayi yang minta disuapi, Vin!” Armand melenggang ke meja makan. Calvin hanya menggeleng melihat tingkah papanya itu.


Calvin duduk di samping Eryn yang sedang menonton acara televisi. Tatapannya serius tak berkedip saat dia melihat sinetron ikan terbang yang menyaksikan penderitaan sang istri teraniaya karena dipoligami.


“Ma, apa tidak ada acara lain selain itu?” Calvin mulai kesal melihat Eryn membanting remote televisi ke sofa beberapa kali karena geram dengan peran suami di sinetron tersebut.


“Ma, Calvin ke papa aja, ya. Buat apa Calvin di sini.” Calvin terus menggerutu seperti bocah.


_______


Beberapa menit kemudian, Zhi merasakan tenggorokannya kering. Dia merasa kehausan, sehingga dia memutuskan untuk keluar kamar menuruni tangga tanpa alas kaki agar dia tak terdengar dari ruang santai. Sesampainya di meja makan, ternyata papa Calvin sudah berada di sana sedang menikmati makanannya.


Armand tercengang saat melihat kehadiran Zhi, matanya melotot, makanan yang sedang di kunyah pun seakan terhenti di tenggorokan. Lelaki paruh baya itu terasa susah menelan makanannya.


Zhi pun tersenyum, menunduk kepadanya tanpa berkata basi-basi. Armand—papanya Calvin terus memandang Zhi hingga dia berlalu pergi sambil membawa segelas air. Dia berpikir jika wanita itu adalah bidadari cantik yang turun ke bumi.


“Calvin!” suara bariton itu tiba-tiba menggelegar, menggema di setiap sudut ruang.


“Ya, Pa.” Calvin gegas menghampiri Armand yang berada di meja makan. Calvin merasa heran, sejak tadi dirinya hanya diteriaki oleh kedua orang tuanya seperti anak kecil, padahal memanggil dengan suara pelan pun pasti akan terdengar juga, mengingat ruangan santai dengan ruang makan jaraknya tak begitu jauh.

__ADS_1


“Kenapa teriak-teriak, Pa?” tanya Calvin seraya menggeser kursi di dekat Armand dan memperhatikan wajah yang mulai mengeriput itu.


“Siapa tadi?” tanya Armand setelah berhasil meneguk minumannya dari gelas yang dipegang.


“Siapa? Siapa sih, Pa, maksudnya?” Calvin kebingungan dengan pertanyaan Armand yang entah mengarah ke siapa.


“Dia siapa? Tadi ada wanita cantik ke sini? Apa papa masih berhalusinasi tentang mimpi papa tadi, ya?” Armand mulai menerawang, dia mengerlingkan matanya beberapa kali karena kebingungan.


“Oh, maksud papa Zhivanna?” Dia temanku, Pa. Sekretaris baruku,” ucap Calvin dengan santainya.


“Yang benar kamu, Vin? Dapat dari mana perempuan secantik itu? Namanya juga sangat cantik,” tutur Armand dengan berbisik yang mendapat lirikan tajam dari Calvin.


“Papa nakal, ya! Aku bilang sama mama nih.” Calvin tertawa menggoda, barisan gigi itu terlihat sangat rapi saat meringis.


“Papa tanya serius Calvin. Dari mana dapatnya perempuan secantik itu? Bahkan, mamamu dulu tak secantik dia. Apalagi sekarang, dia sudah mulai keriput.”


"Pa! Ingat umur!" ucap Calvin sedikit menyerukan suaranya hingga terdengar di telinga Eryn.


.


.


Bersambung...


Guys, jangan lupa komen dan likenya ya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2