
“Baiklah, aku akan membiasakannya. Tapi, manusia, kan, punya sifat lupa. Jadi, ingatkan aku jika aku lupa,” tutur Zhi. Padahal jika dipikir-pikir Zhi memiliki kecerdasan di luar batas manusia.
Wanita itu menyilangkan kakinya sembari menatap Calvin yang tengah berdiri di depannya.
"Itu bukan masalah besar, Zhi. Kau tak perlu risau. O iya, obrolan kita yang di mobil tadi belum selesai, kamu ingin melanjutkannya lagi.”
“Yang mana?” tanya Zhi dengan mengernyitkan dahinya.
“Tadi kamu belum sempat menjawab pertanyaanku. Jadi, sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini dan tinggal bersamaku?" Calvin begitu penasaran. Dia ingin menanyakan semuanya kali ini, hingga rasa penasaran itu terjawab. Hanya berharap Zhi akan jujur mengatakannya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Kehadiranku ini, karena memang kamu yang mengambilku, Calvin. Kamu sudah tahu itu. Tapi kembali lagi, semua sudah menjadi takdirku. Aku hanya menjalankan walau sebenarnya aku tidak menyukainya. Kalau disuruh memilih, lebih baik aku tinggal di bumi sebagai manusia. Karena di sini aku akan aman dan tidak diganggu lagi.”
“Diganggu siapa, Zhi? Dan kenapa dia menganggumu?”
“Erdo. Dia adalah lelaki penguasa yang tamak dan gila wanita. Dia akan menikahi siapa pun yang disukainya. Bahkan, sejak umur 15 tahun, aku sudah dipantau olehnya. Lagi, bukan hanya pernikahan normal, tapi dia menjadikan semua wanita pemuas napsunya." Zhi menarik napas panjang, dia membayangkan perilaku Erdo yang menyeramkan.
Calvin berusaha menerima penjelasan Zhi dan terus mendengarkan cerita itu, walau baginya memang susah diterima dengan akal sehatnya. Calvin lalu duduk di kursi kosong samping Zhi. Pandangannya fokus menatap wanita itu layaknya seorang pendongeng.
“Lalu, bagaimana bisa kamu sampai di lautan itu? Apa kehidupanmu memang di laut?”
“Bukan, tempatku ada di dimensi lain, Calvin."
"Apa hal utama yang paling kamu inginkan di bumi in, Zhii?" Calvin mulai mengimbangi bahasa Zhi yang terdengar sedikit aneh.
__ADS_1
“Aku menginginkan cinta yang tulus. Aku ingin hidup normal layaknya manusia di dunia,” ujar Zhi. Paras ayunya yang semula ceria, kini terlihat pilu, getaran dalam hatinya tak dapat dihindari bahwa dia sangat merindukan orang tuanya.
“Bukankah sekarang kamu sudah menjadi manusia normal?”
“Ya, memang. Tapi aku bisa saja kembali ke liontin itu dan berada di laut lagi jika aku tidak menemukan cinta yang tulus. Orang tuaku bilang, aku harus mendapatkan laki-laki yang mau menjadi pendamping hidupku, agar aku terbebas dari kutukan itu. Dengan begitu, aku bisa menjadi manusia biasa dan tidak lagi kembali ke negeri terkutuk itu. Padahal, aku sangat merindukan orang tuaku."
Sesedih apa pun Zhi, dia berusaha agar tidak mengeluarkan air matanya. Air mata itu terlalu berharga jika terbuang begitu saja.
“Boleh aku tahu, Zhi, bagaimana sebenarnya permasalahan yang kamu hadapi, hingga kamu diharuskan mencari cinta yang tulus?” tanya Calvin menelisik, dia begitu ingin tahu semua tentang Zhivanna tanpa terkecuali.
Zhi kemudian menceritakan mengenai asal usulnya yang terlahir di dimensi lain, yaitu Negeri Luchania. Dia juga memberitahu Calvin tentang kutukan yang diperoleh dari seorang lelaki penguasa di negerinya. Zhi di kutuk dalam liontin batu opal, agar dia aman dan tidak dilirik oleh lelaki mana pun di negerinya. Itu karena Erdo ingin memiliki Zhi dengan keadaan utuh dan tak terjamah lelaki lain.
Erdo sengaja membiarkan Zhi tumbuh dalam batu opal, dan menjadikannya kalung. Awalnya, dia ingin merebut kalung itu, tetapi orang tua Zhi tidak memberikannya. Namun, begitu orang tua Zhi mendapatkan kalung itu, mereka malah membuangnya di lautan, agar Zhi terhindar dari Erdo si penguasa itu.
Cinta yang tulus adalah syarat utama Zhi untuk memperoleh kehidupan. Cara itu perantara paling aman, karena jika ada lelaki yang mencintainya, maka sudah dipastikan pria itu akan menjaga dan melindunginya. Orang tua Zhi sudah mengikhlaskan Zhi ke bumi manusia, dibandingkan dia harus tinggal di negerinya dan menjadi budak zex oleh Erdo.
Hal itu juga membuat Erdo murka sejak Zhi menghilang dari pantauannya. Dia tak dapat lagi menemukan keberadaannya, karena Erdo tak pernah berpikir jika Zhi akan berada di bumi manusia. Segala energi yang Erdo punya hanya bisa memantau sebatas Negeri Luchania. Namun, saat terjadi sesuatu hal yang menghebohkan di bumi akibat ulah Zhi, maka dengan mudah Erdo akan mengetahuinya. Sudah dipastikan Erdo akan muncul dan mencari keberadaan Zhi.
"Ah, jadi begitu. Mulai sekarang, aku akan berusaha menerima kehadiranmu, Zhi. Aku akan membantumu mencarikan lelaki yang terbaik untukmu, yang bisa mencintai kamu dengan tulus," jelas Calvin, dia menggenggam tangan Zhi, tangan satu lagi menepuk tautan tangan tersebut seolah memberi semangat.
"Calvin! Kamu jangan jadi pria yang tak peka dong! Kenapa kamu mau mencarikanku pria lain, kalau kamu aja bisa?" ketus Zhi, ucapannya yang frontal membuat Calvin terkejut.
Lelaki itu pun menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. " Mulai, baru saja kamu bersikap manis. Bisa berbicara dengan suara pelan. Sekarang kenapa berteriak? Dan please, jangan terus memaksaku untuk menyukaimu, Zhi. Aku sendiri pun tak tahu, apa aku bisa jatuh cinta lagi atau tidak." Calvin mengucapkan kalimat itu dengan begitu mudahnya tanpa memikirkan perasaan Zhivanna.
__ADS_1
"Aku percaya kamu bisa, Calvin. Jangan terus menyiksa hatimu sendiri, aku tahu kamu mulai menyukaiku," tutur Zhi dengan rasa penuh percaya diri. Calvin pun juga masih bingung, apakah dia bisa hidup dengan wanita seperti Zhi, sedangkan asal-usulnya saja bukan manusia asli.
"Kamu memang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, ya, Zhi." Calvin tersenyum manis, manik mata indah itu kini bertemu dengan pemilik mata berwarna biru. Tatapan keduanya semakin lama semakin dalam, hingga menimbulkan desiran di antara mereka. Kali ini Zhi mengikuti nalurinya, dia ingin menikmati perasaan jatuh cinta yang sebenarnya.
Selama ini wanita itu hanya bertemu dengan lelaki yang membuangnya kembali saat menemukannya, sedangkan dengan Calvin, dia sangat percaya jika lelaki itu mampu mencintainya suatu saat nanti. Sebab, dia lelaki yang berbeda, dia mampu memahami posisi Zhi saat ini.
"Calvin, karena aku mempercayaimu, aku akan mengatakan satu hal. Tujuanku mengatakan ini, agar kamu bisa melindungiku dari orang-orang yang berniat jahat kepadaku. Jika suatu saat nanti, aku lengah, dan posisiku mulai lemah terancam, tolong bantu aku." Kedua tangan Zhi meraih tangan Calvin yang tadi terlepas dari tautan.
Wajah Zhi tampak sayu mengatakan hal itu, dia hanya takut, suatu saat nanti tidak dapat lagi bertenu dengan orang tuanya lagi karena benda berharga miliknya jatuh ke tangan orang lain.
"Apa itu, Zhi? Semampuku, aku pasti akan berusaha membantumu. Jangan khawatir. Beritahu aku, apa saja yang membuatmu lemah dan aku janji tidak akan ada sagu orang pun yang tahu akan hal ini. Aku bahkan mengira, kamu tidak akan pernah terkalahkan, Zhi."
.
.
Bersambung ...
Guys, jangan lupa komen dan likenya ya, butuh penyemangat nih. Terima kasih.
__ADS_1