
Calvin memasuki rumahnya dengan hati tak karuan, walaupun dia tengah bingung menyiapkan jawaban serta alasan untuk menjawab pertanyaan mamanya soal Zhi, dia memilih bersikap tegas saat ini karena ada Gracella di sebelah mamanya.
Calvin menatap tajam Gracella, pandangannya menghunus hingga relung. Wanita itu langsung menundukkan kepalanya dan tak berani membalas sorotan mata Calvin padanya.
"Maaf, Ma. Calvin harus ke atas dulu."
"Calvin!" teriak Eryn. Suara lantang mamanya tak dipedulikan oleh Calvin. Dia terus berjalan menaiki satu persatu tangga menuju kamar Zhi.
"Calvin! Berani sekali kamu mengabaikan Mama!" Eryn masih menyeru, bola matanya mengikuti ke mana arah anak lelakinya berjalan. Tak biasanya Calvin bersikap dingin pada Eryn, biasanya dia anak yang paling manis dan santun terhadap orang tua.
"Lihat, kan, Ma. Calvin sekarang sudah berani kurang ajar sama Mama. Itu pasti bujukan setan Zhi deh!" sungut Gracella.
"Diam kamu, ini semua gara-gara kamu, bikin kekacauan di rumah anakku!" ketus Eryn, dia melirik Gracella dengan ekor matanya. Kemudian, Eryn memilih untuk mengabaikan Gracella. "Satu lahi, jangan terus-terusan memanggilku dengan sebutan 'Mama', aku sudah tidak menganggapmu sebagai menantuku lagi."
Gracella mendengus kesal. Namun, dia masih berusaha bersikap baik dan menurut. Tujuannya hanya untuk mengambil kepercayaan Eryn terhadapnya. Bagi Gracella, semua harus dia lakukan dengan sabar dan sangat hati-hati.
Derap langkah sepatu terdengar semakin mendekat di depan kamar Zhi. Calvin berdiri di ambang pintu, sejenak, dia menarik napas panjang saat mengingat, dia harus menyiapkan jawaban pada mamanya soal Zhivanna nanti.
Calvin mengetuk daun pintu itu dan memanggil nama Zhi. Wanita itu pun langsung menyuruhnya masuk. Calvin gegas memutar gagang pintu dan membiarkan pintu terbuka agar tak menimbulkan fitnah karena berduaan di dalam kamar.
Seketika pandangan Calvin tertuju pada Zhi yang tengah duduk di depan meja rias sambil memandangi wajahnya yang penuh darah. Mata Calvin membeliak sempurna dia menatap Zhi tak berkedip. Calvin mempercepat langkahnya untuk mendekat ke arah wanita itu karena khawatir.
"Astaga apa yang terjadi denganmu, Zhi?"
__ADS_1
Zhi malah tersenyum, dia menunjukan tangannya yang berlumuran darah. Bahkan tak hanya tangannya, bajunya yang berwarna putih pun sudah seperti kain lukisan yang ditumpahi cat berwarna merah.
"Lihatlah, Vin. Darahku warna merah!"
"Apa? Kau gila? Aku tanya serius, Zhi. Jangan main-main!" Calvin menelangkup wajah Zhi, memastikan luka yang ada di wajah wanita itu.
"Astaga! Ini luka ... seperti sayatan pisau? Benar Zhi? Apa yang kamu lakukan? Kamu mau bunuh diri?"
"Bunuh diri? Enak aja! Kau pikir aku bisa mati hanya dengan goresan pisau seperti ini. Murah sekali nyawaku!" Zhi mengumpat dan mengempaskan tangan Calvin yang masih berada di dagu Zhi, memperhatikan luka itu.
"Dasar wanita aneh! Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti makhluk astral, hah?"
"Pelankan suaramu atau mereka akan mendengar ocehanmu itu, Vin." Zhi mendengus kesal.
"Maaf," singkatnya.
"Ayo, sini!"
"Calvin, kau mau apa?" tanya Zhi dengan senyuman manisnya yang begitu candu bagi Calvin.
"Jangan senyum-senyum seperti itu. Bukan saatnya bercanda. Duduk!" perintah Calvin, manik indah itu tak dapat berbohong bahwa saat ini dia sangat khawatir dengan luka yang ada di pipi Zhi.
Calvin membuka kotak itu dan memulai membersihkan darah yang bahkan sudah terlalu banyak keluar. Tangan kekar Calvin mengusap lembut pipi Zhi dengan kapas yang telah dibasahi alkohol.
__ADS_1
Sedetik, dua detik, hingga lima detik, keduanya saling berdiam diri tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Situasi menjadi canggung karena jarak mereka terlalu dekat hanya beberapa senti. Apalagi Calvin yang tak terbiasa mendapat tatapan dari wanita seperti Zhi yang hampir tak ada rasa malu.
"Pejamkan matamu, jangan melihatku seperti itu!" dalih Calvin agar dia dapat menutupi rasa gugup dan jantungnya yang mulai tak sopan saat berdegup kencang.
Sial, kenapa jantungku selalu begini kalau dekat dengan Zhi. Sangat meresahkan!
Calvin tak mau aksinya mengobati Zhi kali ini membuat dirinya tak dapat berkonsentrasi hanya karena tatapan maut Zhi.
"Vin, harusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Aku bisa saja menghapus luka ini dengan sekali sentuh. Tapi ... ah aku lupa, pasti nanti akan menghebohkan wanita di bawah sana. Ya sudah, lanjutkan saja. Aku menikmati perlakuanmu." Zhi tersenyum dengan elegan, tetapi dengan cepat Calvin malah menjentikkan jarinya ke dahi Zhi.
"Jangan bicara ngawur, Zhi!"
"Auw! Lelaki kasar!"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ini ulah nenek sihir tau! Berani-beraninya dia menggores wajahku dengan pisau."
"Apa! Kamu serius?" Kedua bola mata Calvin seakan hampir terlepas begitu mendengar penuturan dari Zhi. Tangannya yang tadi fokus ke pipi Zhi. Kini dilepasnya kasar. Calvin langsung berdiri berniat untuk menemui Gracella di bawah.
"Calvin! Mau ngapain?" Zhi menarik tangan lelaki itu, mencegahnya agar tidak turun.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...