
*** Chapter 99 ***
Budi masih mengamati kalung di tangannya. Sampai ia yakin dengan apa yang dia ketahui.
"Wira kemarilah!" seru Budi.
"Kenapa, yah?"
"Coba kau lihat ini, dia memakai kalung mendiang istrimu."
Budi menyerahkan kalung dengan liontin foto tersebut pada Wira. Wajah pria itu langsung terperanjat, dahinya menampakkan garis-garis halus keseriusan.
"Darimana kau dapatkan ini?" tanya Wira menghampiri Tia.
"Aku tak tahu, saat aku dibuang ke panti asuhan hanya itu yang menemaniku dalam kardus," ucap Tia.
Wira menarik kepala Tia untuk menunduk, apa yang dia cari berhasil di temukan. Sebuah tanda lahir hitam di leher belakang paling bawah, berada di permukaan kulit gadis itu.
"Kau, kau pastilah anak Laras, anakku..." Wira memeluk Tia seketika itu juga.
Apa ini, apa yang baru kudengar ini?
Laki-laki menyebalkan ini ayahku?
Tia menatap lekat ke arah Wira saat pria itu mengusap kedua pipinya dan mengamati wajahnya sambil terisak.
"Kau tau nak, setelah aku menerima sambungan telepon dengan kakekmu, dia memberitahukan bahwa aku harus mencari putriku yang dibuang oleh Laras, ibumu. Aku langsung datang ke kota ini. Kau tahu apa yang ku dapati saat tiba di sini, kematian kakekmu."
"Kakek?"
"Ya, walikota sebelumnya, Husein Kertanegara adalah kakekmu. Aku terjebak dalam pembunuhannya karena ulah dia."
Budi menunjuk ke arah Pak Sahrudin.
"Lalu apa hubungannya dengan Nathan?" tanya Tia menoleh pada Sarah.
"Karena Nathan yang memimpin operasi penangkapan atas diriku," sahut Pak Budi.
"Tapi Nathan hanya mengikuti perintah atasan," ucap Tia dengan lantang.
"Tapi dia tak mengikuti hati nuraninya, saat ibuku membawa adikku yang berumur lima tahun dan sedang sakit, ia memohon pada Nathan agar memberikan pembebasan bersyarat pada ayahku, tapi apa yang dia bilang, dia hanya meminta maaf karena lebih patuh dengan aturan atasannya."
Sarah menjelaskan sambil menangis.
"Ibuku semakin depresi, ditambah dengan cibiran tetangga. Risa makin parah sakitnya dan butuh ayahnya, lalu tanpa pikir panjang lagi, ibuku membawa Risa untuk bunuh diri."
"Lalu apa itu semua salah Nathan? salahkan ibumu!" bentak Tia.
Sarah mencekik leher Tia secara spontan penuh amarah, tapi Wira langsung menghentikan aksi Sarah.
__ADS_1
"Dia anakku," ucap Wira.
"Tapi sayang dia sudah menyakitiku," lantang Sarah.
"Sudah hentikan! kita urus Sahrudin dulu sembari menunggu si polisi itu," ucap pak Budi menghampiri sel.
"Lani pergilah, aku tak berurusan denganmu, tapi aku akan mengunjungimu dan Rania segera!"
Budi menarik tangan Lani.
"Hentikan Budi, tolong jangan seperti ini," pinta Nyonya Lani dengan nada memelas.
"Hutang nyawa harus dibayar nyawa!"
Lani berusaha menahan tangan Sahrudin agar tak menyentuh suaminya tersebut. Namun, tepisan tangan pria itu sangat kuat sampai mendorong tubuh Lani jatuh. Kepalanya membentur dinding lalu jatuh menimpa peti kayu dengan keras. Kepala belakang wanita itu tertancap paku dari peti kayu tersebut.
"LANI...!!!" Sahrudin dan Budi berteriak bersamaan.
***
"Ini gedungnya kan Bran?" Nathan menoleh ke arah Gibran yang menjawab dengan anggukan.
"Oke, aku ke arah belakang kamu ke depan ya, hati-hati!"
"Sip!"
"Yaa Allah, ibu walikota..." Nathan menutup mulutnya menahan diri karena sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
Tak lama kemudian pertarungan Sahrudin dan Budi pun terjadi dengan sengit. Sang Walikota itu kalah telak pastinya dari Budi yang lebih ahli bela diri.
"Hebat ayah...!!!" Sarah berteriak dengan senangnya menghampiri Pak Budi kala melihat sang walikota kalah telak.
"Sekarang tugasmu mencari adik tirimu, Rania."
"Ah ayah haruskah aku menerimanya sebagai adikku?" tanya Sarah dengan raut wajah agak kesal.
"Harus!" tegas Pak Budi menjawab lalu menyeret tubuh Pak Sahrudin ke kebun belakang. Ia berniat mengubur tubuh pria itu hidup-hidup. Sarah mengikutinya.
"Apa? Rania adiknya Sarah?" batin Nathan saat mendengar pembicaraan dua orang itu.
Selang beberapa waktu kemudian, Wira membuka ikatan tangan Tia lalu memeluknya.
"Anak ayah... ayah mohon jangan pergi lagi ya," ucap Wira lirih saat memeluk gadis itu.
"Apalagi ini ya ampun, Tia anaknya Wira? Astagfirullah benar-benar semua misteri hanya Allah yang tau," batin Nathan, lalu ia bersiap untuk memberi aba-aba pada Gibran agar bisa menjatuhkan Wira.
Betapa terkejutnya Nathan saat melihat Gibran sudah berada di samping Setta.
Bagaimana Gibran bisa sampai ke sana tanpa ketahuan? benar-benar membahayakan nyawanya dan Setta saja.
__ADS_1
Nathan mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan lokasi terkini pada Ridwan, lalu ia masukkan ke dalam sakunya. Pria itu bergegas memasuki gedung tua itu seraya menodongkan pistolnya.
"Lepaskan adikku, Wira!" teriak Nathan.
"Nah ini dia yang sudah ku tunggu sedari tadi," ucap Wira seraya bertepuk tangan.
Bug...
Tia memukul punggung ayahnya sampai tak sadarkan diri.
"Maaf ayah, tapi aku lebih memilih membela kebenaran daripada hubungan darah," ucap Tia lirih sambil menyeka air matanya.
Nathan langsung menghampiri adiknya dan menurunkannya. Pria itu memeluk adiknya dengan erat. Hembusan udara masih terasa hangat dari lubang hidung Setta.
"Alhamdulillah... Ta bangun, Ta!" seru Nathan menepuk pipi adiknya pelan.
Gadis di pangkuannya itu membuka kedua matanya perlahan. Setta menangis dan memeluk abangnya.
"Pak, kita tangkap Budi dan Sarah segera," ajak Tia seraya meraih pistol di saku celana Wira.
"Oke! kamu sama Gibran ya," Nathan melepas pelukan Setta lalu melangkah menyusul Tia.
"Hai, kamu enggak apa-apa kan?" tanya Gibran mengusap air mata Setta yang tak berhenti keluar.
"Hiks... Aku, aku takut kak," ucap Setta.
Gibran memeluk Setta menenangkannya seraya mengusap rambut panjang milik gadis itu.
"Kamu udah aman sekarang, kita ke mobil ya," ujarnya.
Keduanya berdiri dan melangkah menuju mobil polisi di halaman depan. Gibran memapah Setta sampai gadis itu duduk di kursi belakang. Sakit kepala hebat menyerang gadis itu sampai ia merebahkan kepalanya di atas paha milik Gibran.
Lelaki itu mengusap kepala Setta dan berucap, "Istirahatlah, Ta. Sebentar lagi bantuan datang."
***
Nathan menodongkan pistolnya pada Budi begitu juga dengan Tia yang menodongkan pistolnya pada Sarah.
"Wow, sang polisi panutan kota datang juga," sapa pak Budi.
"Halo sayang..." Sarah tersenyum dengan memegang sekop di tangannya.
Keduanya telah selesai mengubur hidup-hidup sang walikota.
*****
Bersambung...
Episode-episode terakhir nih, kira-kira kejutan apa lagi ya yang akan Vie berikan untuk kalian mengenai kelanjutan kisah ini, so staytune...
__ADS_1