With Ghost

With Ghost
Chapter 64 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 64 ***


Nathan tak mau membuat Tia lebih malu, jadi dia putuskan untuk beranjak pergi hendak masuk ke dalam kamarnya, tapi Gibran menahannya.


"Eh Tan, aku pamit ya, makasih makan malamnya," ucap Gibran.


"Oke hati-hati ya, makasih kamu udah jemput Setta pulang," sahut Nathan menjabat tangan Gibran.


"Iya sama-sama," Gibran lalu melangkah menuju luar rumah sementara Nathan masuk ke dalam kamarnya


"Kak Gibran bentar," Setta menahan Gibran saat berada di halamannya.


"Cie Gibran... seneng banget tuh pastinya di tahan Setta," celetuk Tia saat mengintip dari balik pintu meledek Gibran dan Setta.


"Apaan sih kak Tia jangan mulai deh, aku cuma mau bahas soal Yana, Kak Gibran gimana nih caranya kita bisa lepasin anak itu dari Madam Laura?" tanya Setta.


"Tuh kan apa kataku, kalau ni anak udah niat nolong, sampe tamat juga dia tolong," ucap Tia menghampiri Setta.


"Hmmm... besok aku tanya sama Nathan," ucap Gibran.


"Jangan dong kak, abang Nathan jangan sampai tau dia pasti melarang aku buat terlibat," pinta Setta.


"Hmmm berat," gumam Gibran.


"Ayo dong kalian berdua, aku mohon bantuin aku untuk menemukan Yana, kasian kan..." Setta menyentuh lengan Gibran yang bersedekap.


Deg...


Gibran menatapi tangan Setta yang berada di lengannya tak menyangka tangan gadis mungil ini bisa ada di lengannya.


"Woi anak kecil, lepas gak!!!" Jin berteriak dari halaman rumahnya saat melihat tangan Setta menyentuh Gibran.


Setta tersadar dan buru-buru melepas tangannya.


"Wuih seru nih, duduk dulu ah nyimak," Tia tertawa kecil sambil duduk di teras rumah Setta.


"Malam-malam masih ada di rumah perawan, gak baik tau!" Jin menggerutu pada Gibran.

__ADS_1


"Ini aja aku mau pulang, oke kalau gitu besok kita omongin lagi ya, aku pamit dulu," ucap Gibran seraya mencolek dagu Setta untuk membuat Jin makin panas.


Betul saja dugaan Gibran, Jin langsung melompati pagar pembatas rumahnya dan Setta. Dia langsung mendorong bahu Gibran dengan kesalnya.


"Pulang sana!" bentak Jin.


"Weits selow, sabar dong, ni juga mau pulang dah Setta, dah Tia..." Gibran masuk ke dalam mobilnya.


Jin langsung mengusap dagu Setta dengan ujung kausnya yang ia tarik.


"Daaahhh..." Tia melambaikan tangannya sambil tertawa dengan gelinya melihat kelakuan Jin.


"Apaan sih kak Jin, huh..." Setta mendengus kesal lalu melirik ke perut Jin yang rata dan kotak-kotak. Setta lantas menutupi wajahnya dengan kedua tangganya.


"Mataku..." ucap Setta lalu menghampiri Tia.


"Hahahaha... dasar kocak... Aduh perutku sakit aduh..." Tia memegangi bekas lukanya yang terasa nyeri saat ia tertawa.


"Pada ngapain sih, ada apa kok lucu banget kelihatannya?" tanya Nathan pada Tia dari sisi daun pintu.


"Setta masuk!" Nathan memberi perintah sambil menatap tajam ke arah Jin.


"Yah bang, baru bentar ketemu Setta," ucap Jin.


"Besok juga ketemu di sekolah," sahut Nathan.


"Oh iya ngomong-ngomong sekolah ya Ta, masa hari ini aku sama Rania ketemu..."


"Setta masuk!" ucap Nathan menghentikan ucapan Jin.


"Dah..." Setta melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil melambai pada Jin.


"Kamu mau ngapain Jin, sana pulang masuk botol dulu tuh!" ucap Nathan menahan tawanya.


"Hmmm... assalamualaikum," ucap Jin lalu pulang ke rumahnya.


"Lucu ya?" ucap Tia.

__ADS_1


"Apanya yang lucu?" Nathan menoleh pada Tia sembari duduk di bangku teras rumahnya.


"Ya lucu si Jin sama Gibran rebutan Setta, eh menurut kamu ya, kamu lebih suka adik kamu itu sama Jin apa sama Gibran?" tanya Tia menatap ke arah Nathan.


"Gak dua-duanya, Setta masih kecil biar dia sekolah yang bener," ucap Nathan.


"Kelas satu SMA tuh udah gede, udah dapet mens udah baligh, apanya yang masih kecil?"


"Buat aku dia masih kecil Tia, janganlah pacar-pacaran dulu," Nathan menatap balik Tia dengan memiringkan posisi duduknya menghadap Tia.


"Hmmm... Kalau abang Nathan cocok gak ya sama aku?" ucap Tia mencoba menggoda Nathan menjahilinya.


"Hmmm cocok gak ya? eh kamu masih mau ulangi taruhan yang waktu itu, sama aku?" Nathan balik menggoda Tia menyentuh kursi Tia mendekatkan lutut Tia sampai menyentuh lutut Nathan.


Wajah Tia berubah merona, mungkin sudah memerah bagai kepiting rebus menurutnya. Jantungnya berdegup makin kencang tak menentu. Apalagi tatapan mata Nathan yang tak lepas dari wajahnya tak beranjak juga. Tia malah tak bisa menatap Nathan seperti biasa. Dirinya tertunduk malu menghindari tatapan Nathan.


"Biasanya berani godain saya, kok ini di godain balik malah malu sih..." ucap Nathan.


"Duh... gimana gak malu kalau kamu bahas yang waktu itu," Tia mencoba menutup wajahnya dengan kedua tangannya tapi Nathan menahannya.


"Hahaha merah banget mukanya," ucap Nathan seraya menahan kedua tangan Tia yang mencoba berontak minta di lepas.


Keduanya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih berada di sekolah akademi kepolisian bersama.


****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2