
*** Chapter 76 ***
Tia merebahkan dirinya di atas kasur empuk dengan ranjang bergaya bak di istana itu.
"Aku harus telepon Nathan nih, semoga aja belum tidur," gumam Tia seraya menghubungi Nathan.
Tia menceritakan semua kejadian mengenai pertemuannya dengan Madam Laura, termasuk informasi mengenai perdagangan anak kecil yang siap di jadikan pemuas kenikmatan para pria hidung belang itu. Tak perlu pikir panjang, Nathan segera mengerahkan tim Gibran untuk melacak kepastian informasi tersebut.
Nathan menghubungi Gibran yang langsung terbangun dan bersiap menuju jalan Laksana. Tempat di mana ia dan timnya akan menggerebek dan menggagalkan pemindahan para anak kecil yang akan di paksa menjajakan dirinya pada pria hidung belang di beberapa kota itu.
Pukul satu dini hari informasi akurat yang di berikan Tia membuahkan hasil. Ada lima belas anak perempuan yang berusia 8 sampai 12 tahun di amankan tim Gibran. Beruntungnya lagi, salah satu anak tersebut adalah Yana, seseorang yang selama ini di cari keberadaannya oleh Tia.
***
Pukul empat dini hari, sebenarnya Tia ingin berusaha kabur tapi tak bisa karena ada dua penjaga yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Seseorang membuka kamar Tia yang masih tersadar sebenarnya. Tia sembunyikan ponselnya di bawah kasurnya dan ia berpura-pura tertidur lepas.
"Aku tak ingin buruan pak walikota ini lepas dan mengecewakan bos besar," ucap Madam Laura pada si Jambrong.
Ia suntikan cairan yang mengandung canabis dosis tinggi pada leher Tia yang langsung tubuhnya mengalami kejang-kejang.
"Aku pikir aku tak tahu ulahmu bersama Mayang, ckckckc... kau sungguh sangat berani, dasar rubah kecil," ucap Madam Laura.
"Suruh Ita dan Dina untuk mengganti pakaiannya, pakaikan lingerie itu padanya, agar dapat menyenangkan hati Tuan walikota," ucap Madam Laura.
"Kenapa gak saya aja Madam," pinta Jambrong dengan pikiran yang penuh dengan niat kotor.
__ADS_1
Madam Laura tak menjawab permintaan Jambrong. Dia hanya menjawabnya dengan tatapan tajam.
"Maaf Madam..." Jambrong meringis memperlihatkan giginya yang hitam pada Madam Laura.
***
Pagi itu Nathan menuju kantor walikota dan menemui Pak Sahrudin Yusuf, ayahnya Rania sahabat Setta.
"Maaf Pak Nathan, tapi bapak walikota hendak pergi dinas ke luar kota sekarang," ucap Pak Wira ajudan bapak walikota.
"Tapi saya punya keperluan penting dengan bapak Sahrudin," ucap Nathan menepis Pak Wira lalu membuka pintu ruang kerja pak walikota.
"Selamat pagi pak!" sapa Nathan lalu duduk di hadapan Pak walikota tanpa meminta ijin dulu. Rasanya hatinya sudah panas membara mengingat penuturan cerita Tia tadi malam. Ingin rasanya Nathan memukul wajah sang walikota di hadapannya ini, tapi ia hanya bisa mengepal tangannya di atas lututnya.
"Maaf pak saya berusaha mencegahnya tapi..."
"Sudah biarkan saja Wira, silahkan kamu keluar dulu!" ucap Pak walikota memberi perintah pada ajudannya itu.
"Oh maaf pak, saya kesini hendak memberitahukan ini," Nathan menekan tombol on remote tv yang dia raih dari atas meja di hadapan pak walikota.
Berita di tv nasional itu menayangkan penangkapan sejumlah tersangka perdagangan manusia di bawah umur yang berhasil di amankan oleh tim Gibran.
"Bravo, bravo, bravo, hebat sekali... harus aku rayakan ini upacara tim mu, benarkan bapak Nathan yang terhormat," ucap Pak walikota.
"Maaf pak, saya menunjukkan hal tersebut karena ingin memperingatkan, jika Madam Laura sampai buka mulut dan menyeret nama anda, maka saya sendiri yang akan membawa anda ke hadapan awak media dengan tangan diborgol!" seru Nathan memberi peringatan pada sang walikota yang tangannya sudah mengepal itu. Bibirnya bergetar tapi tak berbicara. Ia memandang Nathan dengan tatapan marah.
"Anda mengancam saya pak Nathan?" tanya Pak walikota dengan nada gemetar.
__ADS_1
"Terserah pendapat anda, yang jelas saya harap hentikan dan tutup Blue House!" ucap Nathan lalu pergi meninggalkan pak walikota yang cemas dan marah.
Pak walikota melempar gelas beling di hadapannya ke arah pintu yang dilewati Nathan barusan. Ajudan walikota itu langsung panik dan masuk ke dalam ruangan walikota.
Nathan yang mendengar suara gaduh dan pecahan gelas tadi menoleh ke arah ruangan kerja walikota sambil tersenyum kecil di wajahnya.
Nathan bergegas menuju Blue House untuk menangkap Madam Laura bersama Bejo dan tim gabungannya.
***
Sesampainya di Blue House, Nathan dan pasukannya berhasil mengamankan dan menangkap para penjahat. Meski sangat sengit dan terjadi pertempuran hebat antara polisi dan para anak buah Madam Laura, tapi mereka tak bisa mengalahkan Nathan dan pasukannya.
Sandi yang menjabat sebagai perwira polisi itu ikut terlibat dalam tindak kejahatan Madam Laura di Blue House. Sayangnya Madam Laura berhasil kabur lewat pintu rahasia saat Jambrong mengorbankan diri tewas tertembak untuk melindungi majikannya tersebut.
Nathan membuka kamar tempat Tia berada. Tubuh mulus nan molek milik Tia tergeletak dengan posisi menggoda di atas kasur tersebut. Sebagai seorang pria yang normal, Nathan menekan air liurnya dengan berat saat melihat lekukan tubuh Tia yang sempurna bagi seorang perempuan. Tia membuka kedua matanya dan melihat Nathan dengan wajah sumringah.
"My baby Nathan..." Tia menarik Nathan paksa melingkarkan tangannya di leher Nathan sambil mencium bibir Nathan paksa.
***
Bersambung ya....
Jangan lupa mampir ke
Pocong Tampan (UP)
Kakakku Cinta Pertamaku (END)
__ADS_1
9 Lives (END)
Gue Bukan Player (END)