With Ghost

With Ghost
Chapter 68 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 68 ***


"Mbok... aku berangkat ya," ucap Setta.


"Bawa bekal non!" seru Mbok Inem.


"Udah nih," Setta menunjukkan bekal makan yang langsung ia masukkan dalam tas ransel warna hijaunya.


"Ayam bacem mbok Inem juara banget ya," ucap Tia.


"Ya dong non, mbok itu jagonya masak di kampung," ucap Mbok Inem membanggakan dirinya.


"Pak aku boleh masuk kerja ya?" pinta Tia saat melihat Nathan keluar dari kamarnya.


"Jangan dulu, besok aja masuknya," ucap Nathan melarang Tia.


"Yah..." gumam Tia.


"Besok aja masuknya ya..." Nathan mengusap rambut di kepala Tia dengan gemas. Tia menoleh ke arah Nathan dan tersipu malu. Tangannya berada di kepala seakan tak percaya dengan usapan Nathan barusan.


Setta dan Mbok Inem saling menatap saat melirik yang Nathan lakukan bersamaan. Keduanya menahan senyum dan pura-pura tak tau.


"Ayo Tan berangkat!" ajak Nathan.


"Bapak gak sarapan dulu?" tanya Tia.


"Mmm nanti aja deh."


"Saya buatin bekal ya," ucap Tia segera meraih kotak makan di dapur lalu mengisinya dengan nasi lauk pauk untuk Nathan tanpa menunggu jawaban iya dari Nathan.


Setta menyenggol lengan sang kakak dengan bahunya sambil tersenyum menggoda menoleh ke Nathan.


***


Nathan sampai di gerbang sekolah mengantar Setta. Sepanjang jalan Setta melihat raut wajah sang kakak sangat bingung, seperti banyak masalah yang membuat Setta ingin bertanya.


"Abang kenapa sih, mukanya kusut, lecek banget?" tanya Setta.


"Enggak kok biasa aja, ya udah sana sekolah yang bener, bentar lagi ujian naik kelas kan?"


"Masih lama bang, tuh si kak Jin duluan yang ujian nasional, baru aku," sahut Setta.


"Cie sebut-sebut nama Jin," Nathan meledek Setta.


"Apaan sih!" Setta turun dari mobil Nathan seketika meninggalkan abangnya yang masih menertawakannya.

__ADS_1


Nathan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gibran dia teringat paket misterius yang terkirim ke kantornya. Di dalam paket tersebut terisi dengan bangkai tikus got yang tubuhnya terpotong jadi dua. Di sisi sampingnya ada tikus yang lebih besar dengan kondisi tubuh utuh dengan luka gorokan di leher yang menganga. Di dalam paket tersebut ada juga secarik kertas pesan tertulis...


"kau dan seluruh keluarga yang kau punya akan bernasib sama seperti ini".


"Dia kenal keluarga ku, dan dia tahu hanya Setta yang aku punya," gumam Nathan lalu ia keluarkan ponsel miliknya menghubungi Gibran.


"Ya Tan..." sahut Gibran dari seberang sana.


"Tolong jagain adik aku ya, aku mau selama aku kerja kamu yang jagain Setta," ucap Nathan.


"Ada apa sih kok serius banget nadanya, ada yang kamu belum ceritakan ya sama aku?" tanya Gibran.


"Hmm... nanti aku jelaskan, ketemu di kantor lima belas menit lagi ya!" Nathan menutup ponselnya.


***


"Ta, kamu udah tau belum kalau kak Santi koma?" tanya Rania sambil berbisik menuju kelas.


"Ah yang bener? aku belum tahu tuh," ucap Setta.


"Tadi aku denger sekilas gitu si Ratu lagi mohon-mohon sama kak Jin minta di anter ke rumah sakit, dia mau nengok Santi katanya koma," ucap Rania menjelaskan.


"Kita tengok yuk," ajak Setta.


"Idih ogah..! kamu aja situ nengok, aku gak mau, bukan temenku ini," ucap Rania dengan nada kesal.


"Iya... emang aku cantik!" sahut Rania memotong ucapan Setta.


"Hmmm percaya diri sekali anda, oke lah Rania cantik, ku mohon ya, tolong banget kamu bantu aku ya, anterin aku tengok kak Santi sebentar aja," pinta Setta.


"Liat entar pulang sekolah, aku mood apa enggak," ucap Rania.


Tiga jam bel istirahat berbunyi, Setta menuju kantin sekolahnya bersama Rania.


"Duh kebelet lagi, aku ke toilet dulu ya Ta," ucap Rania menuju toilet di seberang kantin.


"Baca doa dulu jangan lupa sebelum masuk wc!" seru Setta.


"Iya..." sahut Rania dari kejauhan.


Tak lama ia kembali lagi menarik tangan Setta.


"Ayo ikut!" ucap Rania.


"Lho kok...?"

__ADS_1


"Aku baru inget waktu itu pernah ketemu hantu kuntilanak di toiletnya," ucap Rania seraya menarik tangan Setta.


"Tunggu sini ya!" Rania memerintahkan Setta untuk menunggunya sementara ia masuk ke dalam.


"Doooor...!"


Jin tiba-tiba muncul di belakang Setta dan mengejutkannya. Setta yang tersentak kaget reflek menampar pipi kiri Jin.


"Ouch...!!!" pekik Jin.


"Eh maaf kak, habisnya aku kaget tadi," ucap Setta mengusap pipi Jin yang memerah.


"Sakit tau perih, tapi kalau di usap begini mah ya siapa yang nolak, langsung sembuh," Jin memegangi tangan Setta yang mengusap pipinya.


"Lepas gak! atau satunya lagi ku gampar ya!" ancam Setta yang membuat Jin langsung melepasnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Jin.


"Nungguin Rania, kayaknya pup deh lama banget sih, gak keluar-keluar," keluh Setta.


"Jangan-jangan dia pingsan lho."


"Kenapa bisa pingsan? oh iya jangan-jangan ketakutan habis ketemu hantu, terus pingsan ya kak?" Setta mulai panik hendak masuk ke dalam toilet tapi Jin menahan tangannya.


"Bukan, si Rania pingsan sama bau pup nya sendiri hahahaha," ucap Jin tertawa terbahak-bahak menertawakan leluconnya sendiri.


"Garing banget sumpah," gumam Setta menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hayo pada ngapain berduaan gini?" Rania keluar dari toilet tersebut.


"Nih Setta masa tadi aku di tampar tuh sampai merah," Jin mengadu.


"Wah parah kamu Ta, coba namparnya pakai sepatu seru tuh hahahaha," gantian Rania yang menertawai Jin.


*****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2