
*** Chapter 46 ***
Rania melempar isi toples snack jagung itu ke arah Setta yang berlari tapi tak sengaja terkena Nathan yang baru saja tiba.
"Astagfirullah..."
"Yah... maafin Rania bang kaga sengaja soalnya, liat dah bang masa aku di kasih makanan bekas Otan," Rania mengadu.
"Idih enak aja, jelas-jelas dia ambil sendiri di rak," sahut Setta.
"Bhuaaahhaaa..." Nathan menertawai Rania.
"Jangan ketawa deh, tambah ganteng soalnya bang..." Rania mencoba menggoda Nathan.
"Haishh bisa aja kamu, eh Tan mana isi paket yang tadi Ridwan cerita ke abang?" Nathan menoleh pada Rania.
"Nih bonekanya sudah aku bersihkan, kalau abang mau cariin kelabang, ulet, belatung udah gak ada," sahut Setta.
"Ah dasar kamu, coba liat!" Nathan mengamati boneka itu sambil memejamkan mata.
"Wah abang kamu hebat nih jangan-jangan bisa lihat kayak kamu juga Ta," gumam Rania.
Nathan duduk di sofa dan menaruh boneka tersebut di atas meja dan mengamatinya.
"Lihat apaan bang?" tanya Rania sangat ingin tahu duduk mendekat di samping Nathan.
"Liatin boneka," sahut Nathan dengan datarnya.
"Hadeh... nenek nenek jompo juga paham kalau abang lagi liat boneka!" Rania memukul bahu Nathan spontan.
"Duh sakit Ran!" pekik Nathan.
"Kalian ini ya, aku gak bisa lihat apa-apa bang, siapa pemilik boneka itu juga aku gak tau, cuma tadi aku sempet lihat anak perempuan kecil berusia tiga tahun gitu lah, terus badannya basah semua, kayak mati tenggelam," ucap Setta.
Rania langsung melingkarkan tangannya di lengan Nathan, ketakutan mendengar penuturan Setta.
"Nih ngapain sih dempet-dempet gini?!" Nathan melirik ke arah Rania.
"Takut bang, kali aja tuh hantu anak kecil ada di sini," ucap Rania mengamati sekeliling masih memeluk lengan Nathan.
"Takut sama modus beda tipis lah ya..." Setta meledek Rania lalu menuju dapur membuatkan Nathan secangkir teh panas.
Nathan memandangi Rania dengan tatapan tajam sambil melirik ke arah lengan Rania yang masih menempel di lengannya.
"Dikit doang sih bang, begitu aja juga, dimana-mana tuh cowok bakalan seneng banget kalau aku peluk, heran ini mah abangnya Setta judes banget," Rania melepas lingkaran tangannya lalu berdiri menuju dapur menyusul Setta.
"Ran..." seru Nathan menghentikan langkah Rania.
Asik, dia manggil nih pasti mau di suruh duduk lagi nemenin.
__ADS_1
Rania menoleh pada Nathan.
"Ayah kamu mau mencalonkan diri jadi walikota ya?" tanya Nathan.
"Kok tahu? pasti mau nerusin jadi gombalan romantis nih ya..."
"Apaan sih, aku serius nanyanya, bukannya dia baru naik jadi wakil walikota ya?"
"Oh... kirain mau ngegombalin aku, Om Hendra walikota yang lama mau naik jadi gubernur, makanya papi mau gantiin dia jadi walikota, yang aku tahu sih gitu," sahut Rania.
"Ooh..."
"Udah cuma ooh...? ih mending dari tadi aku nyusul Setta," Rania melangkah kesal menuju dapur.
Nathan tersenyum sekilas memandangi Rania dari belakang, lalu ia masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Tanpa Nathan sadari boneka bayi perempuan yang ada di atas meja itu berpindah ke ujung sofa.
***
"HAH... MIRNA MATI...?!" teriak Nathan dari ponselnya.
Membuat Setta dan Rania menoleh padanya saat Nathan mengantarnya ke sekolah.
"Kenapa bang?" tanya Setta turun dari mobil ketika sampai di depan gerbang sekolahnya.
"Pegawai pabrik roti kemarin kan ada dua yang bekerja bareng korban, dan hari ini salah satunya bunuh diri," jawab Nathan.
Setta mengangkat kedua bahunya tak berani ikut menyimpulkan.
"Abang pergi dulu ya, nanti pulang sama Rania, oh iya Ta nanti pas pulang sekolah ada asisten rumah tangga baru ya yang mau datang, kamu urus cocok apa enggak dia kerja di rumah kita," ucap Nathan.
"Oke beres," Setta mencium punggung tangan Nathan.
"Salim juga lah sama calon imam ku," ucap Rania meraih tangan Nathan.
Jin yang baru datang langsung meraih tangan Nathan dari Rania dan ikut mencium punggung tangannya.
"Ngapain kamu salim sama saya?" Nathan menarik tangannya dari Jin.
"Salim bang sama calon abang ipar," sahut Jin pelan.
"Kamu ngomong apa?" Nathan tak begitu kelas mendengar.
"Kaga sih bang, biar sopan hehehe," sahut Jin.
Nathan mendengus lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.
"Cie aku denger lho kak, kamu bilang calon abang ipar, ya kan?" Rania menggoda Jin dengan menunjuknya.
"Ssttt salah denger coba dah kalau enggak percaya tanya Set... mana orangnya Ran?"
__ADS_1
"Lah mana orangnya, wuih keren Setta sekarang bisa menghilang semenjak kejadian di bumi perkemahan," gumam Rania.
"Noh temen kamu udah sampe tangga naik ke atas mau ke kelas tuh!" Jin menunjuk ke arah Setta berada.
"Aahhhh bener-bener si Setta, aku ditinggal gitu aja!"
Rania lari menyusul Setta.
***
Tiba di tempat kejadian dimana Mirna tergantung dan di temukan tadi subuh oleh jamaah perempuan yang pulang dari solat subuh di masjid.
"Hai Tan ini barang buktinya," Bejo menyerahkan tali dan kursi yang di duga di pakai untuk berpijak Mirna sebelum menendangnya jatuh dan menggantung.
"Ada sidik jari lain yang kamu temuin Jo?" tanya Nathan.
"Gak ada sih semuanya sidik jari Mirna," sahut Bejo.
"Panggil Tia, aku mau ketemu!"
Bejo bergegas memanggil Tia untuk menghadap Nathan.
"Kamu gimana sih, bukannya semalam kamu dari rumah dia, terus kenapa gak di awasin?" tanya Nathan.
"Loh bapak kan gak kasih perintah ke saya buat ngapain dia 24 jam, saya cuma kasih peringatan sama dia agar jangan keluar kota, bahkan saya nawarin diri untuk nemenin dia pulang kampung pas bilang kalau ibunya sakit," sahut Tia.
"Ah... makin repot aja nih, gak ada tanda-tanda dia ketakutan apa depresi gitu?"
"Kayaknya gak ada potensi deh dia bakal bunuh diri tapi kalau raut wajah yang selalu ketakutan ada Pak, cuma kan bapak tau sendiri dia aja plin plan kalau kasih keterangan berubah-ubah, muter aja gak jelas," ucap Tia.
"Ya udah kamu ikut saya balik ke tkp pabrik, biar di sini Bejo yang handle," ajak Nathan.
Ada raut senang di wajah Tia yang penuh semangat mengikuti Nathan di belakangnya.
***********
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1