
*** Chapter 58 ***
"Kenapa Bran? wajah kamu tuh kalau kayak gitu mirip Setta kalau lihat sesuatu?" tanya Nathan.
"Ah masa sih? jodoh ya berati aku sama adik kamu," Gibran tertawa kecil saat mengucapkannya.
"Ini apalagi sih, kalian pada kenapa? tadi si Jin yang ngegombalin, lah sekarang kamu ikut-ikutan juga, apa sih cakepnya si setan ini? tampang pas-pasan, badan kurus gini aja banyak yang suka hahahaha," Nathan meledek Setta dengan mencengkeram bahunya pelan.
"Apaan sih? abang nyebelin nih," ucap Setta menekuk wajahnya dengan kesal.
"Cantik kok, cantik banget malah ya Jin, ya Bran, tampang bidadari turun dari tanjakan puncak gini mah bikin klepek-klepek," sahut Tia.
"Apaan sih kak Tia mah, muji apa meledek?"
"Bercanda neng, jangan di masukin ke ampela, kamu mah jelas cantik, pasti turunan bidadari sama pangeran, orang abangnya aja ganteng gitu," celetuk Tia menyentak Nathan yang langsung memandang ke arahnya.
"Cie abang Nathan mukanya ungu..." Jin menunjuk wajah Nathan yang merasa malu di goda Tia.
"Muka ungu, memangnya aku habis dipukuli apa?" Nathan menampar pipi Jin pelan.
"Oh... jadi pria yang kamu taksir pas waktu itu kamu kasih tau aku saat kita pelatihan bareng tuh ini ya? hmmm ternyata seorang Nathan toh yang ditaksir Tia, cieeee..." Gibran menggoda Tia.
"Ih sembarangan aja kalau ngomong, emangnya iya apa kalau aku naksir dia, emang iya," ucap Tia dengan polosnya.
"Kalian ini ya bercanda aja, udah ah aku mau urus kepulangan kamu." Nathan menunjuk Tia lalu pergi keluar ruangan namun kakinya sempat terantuk kursi.
"Cie abang salah tingkah tuh," Setta makin menggoda Nathan yang melirik tajam ke arahnya saat keluar.
"Jadi kak Tia yakin udah sehat?" tanya Setta.
"Udah, aku udah sehat kok, kamu sendiri udah sehat?" tanya Tia.
"Udah, besok aku udah boleh pulang, nah berhubung kakak udah boleh pulang sekarang, gimana kalau nemenin aku dulu aja, besok baru kita pulang bareng, gimana?" tanya Setta.
__ADS_1
"Boleh, siapa takut," ucap Tia.
"Ide bagus aku juga ya?" pinta Jin.
"Gak boleh kamu kan besok sekolah, udah sih sana pulang!" Tia mengusir Jin secara halus.
"Ah si zebra sumbawa ini aja belum pulang, aku tunggu dia pulang baru aku pulang," ucap Jin.
"Apa kamu bilang? zebra sumbawa?" tanya Gibran menghampiri Jin.
"Iya zebra sumbawa, kenapa?"
"Ah dasar jerapah korea!" Gibran membalas Jin.
"Ini kenapa jadi nyebutin binatang gak jelas gini sih?" Tia mencoba melerai keduanya.
Suster Fira masuk ke dalam ruangan Tia, seperti perkataannya tadi dia akan melepas selang infus dari tangan Tia. Gibran dan Setta saling memandang sekilas kala melihat sosok nenek bungkuk yang rambutnya sudah beruban semua itu mengikuti suster Fira. Rambut panjang yang acak-acakan itu menutupi wajahnya.
Tau dirinya dapat dilihat oleh Setta dan Gibran, lalu dia menoleh pada Setta yang langsung berteriak.
Gibran menghampiri Setta dan menutupinya dari pandangan hantu nenek bungkuk itu. Wajah nenek itu menyeringai dengan giginya yang hitam dan gusi penuh darah saat mengangkat kepalanya menatap Nathan. Dari kedua mata nenek itu keluar makhluk kecil yang merayap dengan perutnya. Belatung itu makin banyak jumlahnya, mereka bergerak keluar masuk ke dalam kelopak mata dan rongga hidung. Hantu nenek bungkuk itu makin mendekat ke arah Gibran.
"Awww... sakit suster!" pekik Tia.
"Gak apa cuma gitu doang kok, gak sakit," sahut suster Fira dengan senyum sinisnya.
Tia hanya bisa menatap kesal ke arah suster tersebut sambil mengusap bekas tusukan jarum infusnya.
"Sudah selesai ya, saya pamit nanti kalau biaya administrasi sudah beres kamu lapor ke saya ya, biar gelang pasiennya saya lepas dan saya kasih tau penggunaan obat yang dibawa pulang nanti," ujar suster Fira menjelaskan.
"Iya suster, makasih," sahut Tia.
"Sama-sama."
__ADS_1
Suster Fira pergi dari ruangan tersebut bersama hantu nenek bungkuk yang mengikutinya.
"Kamu lihat kan Ta?" Gibran menoleh ke Setta yang mengangguk tapi tak mau menatapnya.
"Lihat apaan sih?" tanya Jin ingin tahu.
"Tadi di belakang suster itu ada hantu nenek-nenek, badannya bungkuk," sahut Gibran.
"Oh hantu... eh apa hantu?" Jin langsung mendekat ke samping kursi Setta dan ranjang Tia raut wajahnya berubah takut.
"Kira-kira tuh hantu nenek ngapain ya ngikutin tuh suster judes, apa mau ngejagain apa mau nuntut balas karena pernah tersakiti?" Tia mencoba menerka.
"Gak tau deh kak, tapi sumpah ngeri banget ih tadi aku ngintip, mukanya banyak belatung, terus..."
"Stop...!!! sudah hentikan ya, mending aku ceritain aja kamu belajar apa hari ini, soalnya tadi aku pinjem buku catatan Sandi temen sekelas kamu," Jin langsung memotong pembicaraan Setta.
"Oh iya, tadi belajar apa kak? ada tugas gak?" tanya Setta.
"Ada tugas pr matematika, bentar nih aku ajarin," ucap Jin lalu mengeluarkan buku catatan milik Sandi dan menjelaskan cara menyelesaikan soal matematika di buku tugas pekerjaan rumah milik Sandi.
Nathan memperhatikan Gibran dan Jin dari luar sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar perawatan Tia. Ada kelebihan dan kekurangan tersendiri yang ia dapat dari Gibran dan Jin jika ia harus memilih siapa yang pantas menjaga Setta kelak. Sungguh keputusan yang sulit diambil jika ia harus memilih pendamping Setta. Hal itu tetap harus ia putuskan jika sudah berumah tangga atau malah tak bisa lagi menjaga Setta.
******
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘