
*** Chapter 84 ***
"Aku pantau kalian dari dalam mobil ya," ucap Tia yang meminjam mobil kijang milik Aryo.
"Beres kak, doain rencana kami berhasil," sahut Jin.
Setta, Jin dan Aryo berada di depan gerbang rumah Rania yang besar dan tinggi. Di bagian tengahnya berlambang singa emas.
"Maaf ada keperluan apa ya?" tanya seorang satpam penjaga rumah Rania.
"Kami temennya Rania pak, kan katanya nih Rania sakit terus ada tugas kelompok yang harus di kumpulkan besok. Jadi, kita kesini mau mengerjakan tugasnya. Harus dikerjakan lho pak kalau enggak kita bakal dapat nilai nol bahkan di skors nanti kalau nama Rania jelek kan ayahnya juga yang malu," tutur Jin menjelaskan panjang lebar.
"Coba saya tanya pak Wira dulu ke dalam, soalnya bapak dan ibu sedang ke luar negeri," ucapnya.
"Pak Wira gak ada tadi pergi kan," ucap satpam satunya lagi.
"Terus gimana ini?"
"Ya udah suruh masuk aja, daripada gak dapat nilai semua nanti, anakku aja kalau gak ngerjain tugas sekolah di suruh pulang nanti, kasian juga," sahut satpam satunya itu.
"Nah itu bener pak, kasihanilah kami..." ucap Jin dengan wajah memelas.
"Oke deh, kalian boleh masuk!"
"Siapa tuh, Yo?" tanya asisten rumah tangga Rania.
"Mbak manggil saya?" Aryo menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan kamu, itu si Karyo," tunjuknya.
"Mereka ini tukang sapu komplek... ya liat dong mereka pakai baju sekolah gini kan berati temennya non Rania," sahut Karyo.
"Ya mau ngapain, non Rania kan gak boleh terima tamu," ucapnya.
"Ngerjain tugas kelompok doang mah boleh kali, bukain deh kuncinya, pak Wira kan gak ada," ucap Karyo.
"Ya udah nih sekalian titip makanan buat non Rania, aku gak mau di lempar kuah sop lagi huh!" perempuan itu menyerahkan nampan berisi nasi dan lauk pauk untuk Rania.
__ADS_1
Akhirnya pintu kamar Rania terbuka juga. Rania terbaring di atas ranjangnya dengan kondisi mengenaskan. Kondisinya lemas, wajah pucat dan sayu. Sepertinya Rania juga tak beranjak untuk mandi kecuali buang air.
"Ran..." Setta mengguncang tubuh Rania pelan.
"Oh... Setta? hmmm cuma mimpi kali nih, Setta kan marah sama aku." Rania membenamkan wajahnya di atas bantal.
"Ran... ini aku Setta, aku gak marah kok," ucap Setta sekali lagi sambil mencubit lengan Rania kali ini.
"Awww... sakit...!!!" pekik Rania.
"Udah di bilang ini beneran aku, malah gak percaya," ucap Setta.
"Setta... maafin aku huhuhu..." Rania langsung menghamburkan diri memeluk Setta.
"Ya aku juga ngerti kok posisi kamu, gak seharusnya aku marah sama kamu," ucap Setta.
"Bapak mau ngapain di situ, mending balik jaga lagi," ucap Jin mengusir satpam tadi.
"Oh iya, saya ngapain ya diem di sini, oke kalau begitu, saya permisi ya."
Satpam tersebut bergegas pergi dari kamar Rania.
"Rencana apa?" tanya Rania.
"Kamu mau bebas gak?" Setta menoleh pada Rania.
"Mau... aku mau ketemu abang Nathan, aku kangen sama dia," sahut Rania.
"Ih... lebay!" celetuk Aryo.
"Tuh kak Tia nungguin di sana, kita keluar lewat jendela aja," ucap Jin.
"Di tas ku siap ada tali," ucap Aryo sambil mengeluarkan tali yang biasa dia gunakan untuk panjat tebing.
"Aaaaahhh aku sayang sama kalian semua," ucap Rania kegirangan.
"Ssstttt gak usah pakai berisik, ayo keluar dari sini!" ajak Setta.
__ADS_1
Mereka mengendap-endap menuruni kamar Rania di lantai dua menuju keluar rumahnya. Setta sempat menabrak batu nisan yang tertutup tanaman menuju ke pagar belakang. Dilihatnya sosok nenek memakai gaun putih khas noni Belanda sedang memperhatikannya.
"Duh gak napak lagi kakinya," gumam Setta.
Sosok nenek noni Belanda itu berbalik badan. Tubuh di punggungnya bolong memperlihatkan tulang rusuknya yang penuh darah.
"Ta... ayo buruan nanti ketahuan!" bisik Jin memanggil Setta menyentaknya dari perhatiannya terhadap hantu nenek belanda itu.
"Iya aku kesana," ucap Setta.
"Ah sial di kunci, mana tinggi banget lagi nih tembok belakang," umpat Jin memaki pintu gerbang di hadapannya.
"Kenapa gak bilang Ran, kalau ini di kunci?" tanya Jin.
"Mana aku tahu aku gak pernah ke kebun belakang sini, lagipula mami tuh sering nakut-nakutin aku kalau di sini ada hantu..."
"Nenek-nenek pakai gaun kayak noni Belanda, iya kan?" sahut Setta.
"Hmmm bener kan ada hantunya kalau kamu bisa lihat gitu," ucap Rania.
"Udah stop! kok jadi bahas hantu sih? pikirin gimana caranya kita keluar dari sini," gerutu Jin.
Tiba -tiba seseorang datang menghampiri. Pria tua yang mengenakan celana bahan sebetis dan kaus putih itu menghampiri Jin. Sebuah golok dengan sarungnya menempel di ikat pinggang pria tua tersebut.
"Haduh, mana bawa golok lagi, gimana nih Jin...? ucap Aryo ketakutan mendekatkan dirinya di samping Jin.
"Mana aku tahu, emangnya aku berani apa, ya takut lah, Ran ini gimana ini?" Jin menoleh pada Rania.
*****
To be continue alias bersambung...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku