
*** Chapter 41 ***
Setta masih terdiam seolah tak berselera melihat banyak makanan lezat di hadapannya.
"Ta... ayo makan!" Nathan menepuk bahu Setta.
"Iya bang..." ucap Setta sambil mencoba mengunyah ayam bakar bumbu padang di hadapannya.
"Kok sayurku tiba-tiba asem, yak?" gumam Aryo.
"Tangan kamu kali habis garuk-garuk ketek makanya asem!" sahut Jin.
"Heh lagi makan gini ngomongin ketek, malu tuh sama Pak Idris," ucap Rania.
Setta menoleh ke samping Aryo yang terdapat sosok makhluk kerdil seperti tuyul sedang memandangi Aryo sambil menganga. Air liur dan air lendir yang keluar dari lubang hidungnya menetes di mangkuk sayur daun singkong punya Aryo.
"Baca doa dulu kak sebelum makan, maaf aku mau ke toilet," ucap Setta yang buru-buru menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang mual melihat hantu tuyul tadi.
"Hah maksud Setta apa ya?" tanya Aryo.
"Nyuruh kita doa makan, elo belum doa kali main embat aja," sahut Jin.
"Eh iya sih aku lupa, hehehehe," ucap Aryo.
Rania menertawakan Aryo, tapi dia juga langsung membaca doa makan dalam hatinya karena terlupa berdoa tadi.
***
Selesai menyantap masakan padang sampai kenyang, Rania mengajak Setta membeli oleh-oleh manisan dan keripik bayam terlebih dahulu sebelum pulang.
"Buruan ah jangan lama-lama!" ucap Nathan.
"Iya abang ganteng..." sahut Rania.
Tiba-tiba ponsel Nathan berbunyi.
"Kenapa, Jo?" ucap Nathan.
"Kasus pembunuhan Tan, di pabrik roti Enaak, korban berjenis kelamin perempuan, dia di panggang dalam oven roti sampai gosong," ucap Bejo menjelaskan dari seberang sana.
"Astagfirullah, itu yakin pembunuhan bukan kecelakaan? itu di pinggir kota kan pabriknya?" tanya Nathan.
"Ada rekaman cctv, pembunuhnya lihai dia pakai topeng dan tertutup rapat saat melakukan pembunuhan, dan saat kejadian sedang shift malam, hanya ada tiga karyawan termasuk dia di area ini."
"Dua karyawan lainnya sudah kamu amankan?"
"Sudah, lagi di interogasi sama Tia," sahut Bejo.
"Oke, aku kesana tapi nanti suruh ridwan standby antar Setta sama yang lainnya pulang pas gue sampe sana ya," ucap Nathan lalu menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Tan buruan!" Nathan meneriaki Setta dan Rania.
"Bang Nathan manggil siapa? manggil setan gitu?" bisik Aryo pada Jin.
"Itu panggilan sayang Nathan ke Setta, yaitu Setan," ucap Jin.
"Buseh adek sendiri di panggil setan mah bukan panggilan sayang namanya cuy," ucap Aryo.
"Emang dari sononya begitu, hadeh itu pak Idris cepet banget molornya mentang-mentang habis makan kenyang ckckckck," Jin berdecak heran melihat sang guru sudah terlelap di dalam mobil Nathan.
Setelah Setta dan Rania selesai berbelanja, Nathan melajukan mobilnya menuju Pabrik roti Enaak.
"Kok gak arah pulang bang, kita mau kemana?" tanya Jin.
"Mau ke pabrik roti, ada kasus pembunuhan di sana," jawab Nathan.
"Wuih seru tuh kalah lihat TKP nanti," sahut Aryo.
"Jangan macem-macem ya, sampai sana kalian di antar pulang sama Ridwan," ucap Nathan tegas.
"Korbannya mati bang?" tanya Jin.
"Yang namanya korban pembunuhan ya udah gak hidup kak... kecuali percobaan pembunuhan, udah ah diem ah berisik tau, mau tidur nih, ambilin aku tisu Ta, Pak Idris ngorok gede banget lagi," Rania menggerutu.
***
Sesampainya di pabrik Roti, garis kuning kepolisian sudah menutupi sekeliling pabrik.
"Boleh lihat korbannya gak, bang?" tanya Aryo.
"Boleh kalau kuat, mayatnya gosong, terus kepalanya pecah otaknya berceceran saking panasnya terpanggang di oven, ayo gue anter," sahut Bejo menantang Aryo dan Jin.
"Gak jadi bang, makasih dah," Jin menepuk bahu Aryo dan menariknya menjauhi tempat kejadian perkara.
"Selamat sore pak, saya Ibu Emi pemilik pabrik Roti ini," sapa seorang ibu berambut keriting menjabat tangannya dengan Nathan.
"Selamat sore bu, saya Nathan, bisa kita berbincang sebentar di dalam, mari ikut saya!" ucap Nathan mengajak serta ibu Emi ke dalam pabrik.
"Woi pada bengong aja, ayo pada pulang sama gue," ajak Ridwan.
"Setta...!!!" Tia memanggil Setta lalu memeluknya.
"Kak Tia apa kabar?" tanya Setta.
"Baik alhamdulillah... Eh aku denger temen kamu ada yang meninggal ya di tempat kemping?" tanya Tia penasaran
"Iya kak, duh sadis banget deh kak, ngeri," sahut Setta.
"Mayat ini juga lebih ngeri, mau lihat?"
__ADS_1
"Gak usah kak, makasih, buat kakak aja," ucap Setta.
"Ya udah aku antar ke mobil yuk," Tia merangkul bahu Setta.
Tiba-tiba Setta melihat penampakan seorang perempuan yang bertubuh hangus menatap Setta dengan satu bola mata merahnya di sebelah kanan. Bola mata kirinya hilang hanya menyisakan rongga hitam yang mengelupas menunjukkan bagian dagingnya. Kepala hantu itu pecah di sebelah kiri memperlihatkan bagian otaknya yang sudah berceceran membasahi telinganya.
Setta menghentikan langkahnya dan merasa gemetar seluruh tubuhnya melihat penampakan seperti itu. Tubuh Setta lalu mendadak mengalami kejang-kejang setelah ia berteriak dengan kencangnya.
"Eh kenapa nih, Ta kamu kenapa?" pekik Tia.
Nathan langsung berlari dari dalam pabrik begitu mendengar kehebohan menimpa adiknya.
Jin dan Rania bergegas turun dari mobil milik Ridwan menghampiri Setta yang terlihat kesurupan.
"Dek... kamu kenapa, dek?" Nathan memeluk Setta dengan kuat untuk menghentikan tubuh adiknya yang masih saja kejang.
"Pegangin kakinya kak Jin, tahan yang kuat," ucap Rania pada Jin.
"Aaaarggghhhhh... Aarrghh... Aarrghh...!!!"
Setta terus saja berteriak seperti orang yang kesakitan. Kedua bola mata Setta berubah menjadi putih semua. Setta makin tak terkendali, bukan hanya Nathan dan Jin yang memeluk Setta, tapi Bejo, Tia dan Rania juga ikut memegangi tubuh Setta.
"Panggil Pak Ustad Naufal," ucap salah satu satpam ke satpam yang lainnya.
"Cepetan...!!!"
"Iya kang, saya panggil pak ustad sekarang," Satpam itu langsung berlari menuju rumah Ustad Naufal.
Nathan membacakan ayat kursi di telinga Setta berulang-ulang sampai dia tenang. Ketika Nathan berhenti, Setta mulai kejang lagi dan berteriak makin parah.
Setta mencengkeram tanah dengan kedua tangannya saat tubuhnya kejang. Beberapa kuku di jarinya patah dan terluka. Melihat hal tersebut Rania dan Tia menahan jari jemari Setta agar tidak melukai jarinya sendiri.
"Tahan yang kenceng Ran...!!" pekik Tia.
Nathan makin kencang membaca ayat kursi di telinga Setta sambil memeluknya tambah erat.
************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘