With Ghost

With Ghost
Chapter 67 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 67 ***


"Jadi gimana nih, kak?" tanya Setta.


"Kamu di sini dulu ya, aku coba tanya sama satpam buat gabung jadi member di club itu," ucap Gibran.


"Perlu bawa kak Tia, gak?" tanya Setta.


"Nanti coba aku omongin sama Tia, baiknya gimana, masalahnya ada pejabat juga yang terlibat untuk melindungi usaha haram ini, dan masa iya Nathan gak tau atau gak bisa sentuh ini Blue House," ucap Gibran lirih pada Setta.


"Ini pesanannya, silahkan di nikmati," pelayan tersebut meletakkan dua piring roti bakar dengan irisan pisang dan diberi taburan coklat dan keju di atasnya.


"Kamu makan dulu ya, aku ke sana dulu," ucap Gibran.


"Oke kak," sahut Setta dengan senyum manisnya.


"Coba senyum lagi, Ta!" pinta Gibran.


"Apaan sih, udah sana!" Setta menutup wajahnya.


"Serius Ta, coba senyum kayak tadi, biar aku tenang nih gak grogi buat jalan kesana," ucap Gibran.


Setta menghela nafas panjang lalu terpaksa menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum.


"Masha Allah cantik banget ya bidadari ini," ucap Gibran lalu pergi melangkah dari hadapan Setta sambil tersenyum puas.


"Apaan sih garing banget!" gerutu Setta sambil melahap roti bakarnya.


***


Gibran menemui Tia di rumah Setta untuk membicarakan perihal tentang Blue House.


"Kamu tahu gak Tia..."


"Enggak!" sahut Tia memotong pembicaraan Gibran.


"Yee dengerin dulu, tadi aku ke tempat Madam Laura sama Setta," ucap Gibran.


"Ah parah kamu, masa Setta masih bocil gitu kamu bawa ke tempat gak bener," ucap Tia dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Dengerin dulu, Setta tuh nungguin di kedai ropang, aku yang masuk ke dalam mau gabung jadi member, dan aku tuh keluarin uang satu juta lima ratus buat jadi member hadeh..." gerutu Gibran.


"Sampai segitunya kamu bela-belain bantuin Setta, mantap...!" Tia mengacungkan jempolnya.


"Ya habisnya mau gimana lagi, udah gitu ya yang aku denger, emangnya tuh rumah biru gak bisa ke sentuh polisi ya?" tanya Gibran.


"Sebenarnya sih itu bukan wilayah Nathan ya, kan dia mah cuma ikutin aturan Kapten Ghani, dan setau aku yang pegang wilayah di sana itu si Sandi," ucap Tia.


"Wah pantesan aja Itu kan emang saingannya Nathan, nanti malam aku mau kesana kamu mah ikut gak?" tanya Gibran.


"Nanti kalau ada yang ngenalin kita gimana?" tanya Tia.


"Kita nyamar lah," ucap Gibran.


"Aku ikut!" sahut Setta sambil meletakkan dua cangkir teh manis di atas meja teras rumahnya.


"Gak bisa Ta, ini bahaya banget nanti Nathan bisa marah banget sama kita," ucap Tia.


"Pokoknya aku ikut!" pinta Setta masih keras kepala.


"Susah ya sama kerasnya sama Nathan, nanti deh aku kasih kabar kapan kesana nya," ucap Gibran.


***


Ponselnya berdering dan tertulis nama Bara di layar ponselnya.


"Kenapa lek?" tanya Ratu yang memanggil Bara dengan nama panggilan jelek.


"Tolongin aku Tu, aku denger suara tangisan bayi kemanapun aku pergi, terus pas aku mandi aku tuh lihat muka serem Rosi di cermin," ucap Bara dengan nada ketakutan.


"Ngaco kamu, jangan kebanyakan mabuk deh!"


"Aku gak lagi mabuk Tu, ini tuh bener-bener nyata, semenjak aku main truth and dare sama temen-temen aku di club tau-tau arwah Rosi ngikutin aku terus," ucap Bara.


"Gila kamu, bener-bener sinting! udah ah mau mandi nih!" Ratu menutup ponselnya dan melemparnya ke atas ranjang.


Ratu terbaring di bath tub, memejamkan kedua matanya, sambil mendengarkan musik dengan earphone dan menghirup lilin aromaterapi di dalam kamar mandi tersebut.


Suara lagu cinta yang dia dengar tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


"Kenapa sih, kok gak kedengaran?" gumam Ratu.


Ia coba dengarkan lagi lagu dari earphonenya tapi tetap tak terdengar.


"Jangan-jangan putus lagi nih!" gumam Ratu.


"Aaaaaahhhhh...Ra...tu..." terdengar suara desahan menyeramkan seketika mengejutkan Ratu dan melepas earphonenya segera dari telinganya.


"Halusinasi nih aku," gumam Ratu lalu ia pasang lagi ke telinganya namun malah terdengar suara musik yang sangat keras mengejutkan telinga gadis itu.


"Aaaaaaa...!!!" Ratu melempar kembali alat eerphonenya ke lantai kali ini.


"Rusak kali nih!" gumamnya lalu dia pejamkan lagi kedua matanya untuk menenangkan diri.


Ada tangan misterius yang menyentuh kedua bahunya dan menyentaknya.


"Astaga apa itu ya?" Ratu menoleh ke kanan dan kirinya.


"Kok aku jadi halusinasi gini sih," gumam Ratu.


Dia mencoba memejamkan matanya lagi, akan tetapi saat dia membuka kedua matanya dan melihat langit-langit kamar mandinya, sosok perempuan dengan rambut menutupi wajahnya menekan bahu Ratu. Sosok itu menenggelamkan ratu ke dalam bak mandi tersebut. Sulit melihat dan sulit bernapas Ratu rasakan. Sampai akhirnya sosok tersebut melepas Ratu yang sudah sangat ketakutan.


"Aku gak halu ini nyata, hiyyy..." Ratu bergegas keluar dari bath tub dan segera keluar dari kamar mandinya. Ratu menutup kencang pintu kamar mandinya dengan sengaja.


Sosok Rosi tersenyum menyeringai ke arah Ratu yang sangat ketakutan.


***


Sementara itu di rumah Santi, ia juga mendapat teror yang sama dari hantu Rosi. Tirai jendelanya sempat menutupi wajahnya dengan ketat sampai ia kesulitan bernapas. Santi yang ketakutan menuruni tangga rumahnya dengan terburu-buru sampai ia terjatuh menggelinding. Terdengar tulang punggung yang patah saat dia jatuh. Bahkan lehernya juga terkilir serta kepalanya membentur meja makan di samping tangga. Santi tak bisa bernapas karena saluran pernapasan yang tersumbat. Santi melihat sosok Rosi di lantai dua sedang menatap ke arahnya sebelum ia memejamkan matanya tak sadarkan diri.


*****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2