
*** Chapter 43 ***
Setelah selesai mencari petunjuk pada tempat kejadian perkara, Nathan mengajak semua tim untuk makan dulu di sebuah restoran sunda.
"Menurut kamu nih, kita perlu curiga gak sama pemilik pabrik?" tanya Bejo sambil memilih makanan yang ingin dia santap dari buku menu.
"Boleh, kamu selidiki semua asuransi pabrik yang mereka punya kali aja ada yang terkait, terus bagaimana dengan dua pegawai lainnya?" tanya Nathan menoleh pada Tia.
"Mereka sih punya alibi yang kuat untuk tidak terlibat saat cctv itu merekam si pelaku, cuma yang namanya Mirna, kok menurut saya ya pak agak mencla mencle gitu saat memberikan keterangan," sahut Tia.
"Ya udah kalau gitu kamu awasi mereka, dan pastikan selama penyelidikan berlangsung dua orang pegawai tadi dan pemilik pabrik tidak boleh keluar kota maupun keluar negeri," ucap Nathan memberi titah.
"Siap pak!" sahut Bejo dan Tia bersamaan.
"Udah sih makan dulu, urusan kerjaanya nanti di bahas lagi," ucap Sarah dengan senyum manisnya menatap Nathan.
"Haduh makin panas nih hawanya," celetuk Bejo mencoba menggoda Tia.
"Coba Jo, minta sama pelayan, itu air cooler di kencengin lagi," pinta Nathan yang tak menyadari gurauan Bejo.
Tia mencubit pinggang Bejo dari bawah meja.
"Awww... sakit...!" pekik Bejo menoleh pada Tia.
"Kalian pada kenapa, sih? Hayo jangan-jangan kalian..."
"Idih najissss, amit-amit jangan sampe ih..." ucap Tia memotong ucapan Sarah. Tia langsung paham kalau Sarah mencoba menggoda dia dan Bejo.
Nathan tertawa melihat adegan Tia dan Bejo itu.
***
Mobil Ridwan sampai di rumah Pak Idris. Rumah yang bergaya minimalis dan bercat hijau itu tampak asri dengan banyak pepohonan yang di tanam oleh istri Pak Idris.
"Mari turun mampir dulu ke rumah saya, tuh wangi kue kan? pasti istri saya sedang membuat kue," ucap Pak Idris mengajak semuanya turun.
"Duluan pak saya parkir mobil dulu biar enak pas pulangnya nanti," ucap Ridwan.
"Assalamualaikum bu... bapak pulang nih," ucap Pak Idris.
"Waalaikumsalam... kok telat sih pak pulangnya?" tanya istri Pak Idris yang datang dari arah dapur mengenakan daster lengan panjang dan jilbab bergo berwarna hitam.
"Nanti bapak ceritakan, oh iya kamu lagi buat kue kan? hidangkan untuk anak-anak ini ya, bapak mau ganti baju dulu," ujarnya.
"Iya pak, ayo semua duduk dulu," ucap Ibu Idris mempersilahkan semua untuk duduk.
__ADS_1
"Iya bu terima kasih," ucap Jin.
"Hai adik!" sapa Setta pada seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ia lihat.
"Adik?" tanya Rania berbisik pada Setta.
"Iya itu adiknya lucu banget, ih," sahut Setta.
Ibu Idris memandang Setta dengan tatapan aneh dan agak takut. "I-ibu, ibu ke dalam dulu ya ambil kue untuk kalian," ucap Ibu Idris seraya bergerak menuju dapur.
"Ta... kamu yakin liat anak kecil?" tanya Rania.
"Iya nih lagi main di sampingku, duduk di lantai situ," sahut Setta.
Jin dan Aryo saling merapatkan diri, keduanya tampak ketakutan menatap ke lantai yang di tunjuk Setta.
"Pada kenapa sih, Ran?" tanya Setta.
Ridwan masuk ke dalam rumah Pak Idris.
"Awas kak, masa ada anak kecil lagi main gitu di tabrak aja," ucap Setta lalu tersadar Ridwan menembus anak kecil tadi.
"Kamu ngomong apa sih, Ta?" tanya Ridwan yang tak mengerti dengan ucapan Setta dan merebahkan bokongnya di samping Aryo.
"Yang kamu liat itu kayaknya..." ucap Rania menoleh ke arah Jin dan Aryo.
"Han-hantu..." sahut Aryo dengan gemetaran memeluk Jin dari samping.
"Ih lepas ah..." Jin melepas pegangan Aryo.
"Jadi gimana sih ini maksudnya?" Ridwan masih tak mengerti.
Anak perempuan berambut panjang sepunggung itu ternyata hantu. Hantu anak perempuan itu masih ada di samping Setta. Anak itu berdiri menuju ke arah Setta. Gaun putih yang Ana kenakan berlumuran darah. Perutnya tiba-tiba berongga dengan usus halus yang hampir menyeruak keluar dari dalam. Anak itu kini menatap Setta dengan wajah pucatnya. Bola mata hitamnya menghilang menyisakan semua warna putih di sana. Mulutnya menganga dengan lebarnya lalu berteriak sampai memekakkan telinga. Setta menutup kedua telinganya dengan tangannya. Sementara yang lain tak dapat mendengar teriakan hantu anak perempuan yang sekarang menghilang itu.
"Kamu kenapa, Ta?" tanya Rania mulai cemas dia takut peristiwa tadi menimpa Setta lagi.
"Enggak Ran, aku enggak apa-apa," ucap Setta lirih dengan bibir gemetar.
Tak lama Ibu Idris datang bersama pak Idris, raut wajahnya terlihat sangat ketakutan. Tangannya terlihat gemetar saat membawa nampan berisi lima gelas air es sirup dan secangkir kopi bersama sepiring kue brownies coklat buatannya tadi.
"Silahkan di minum, di cicipi juga kuenya," ucap Bu Idris dengan nada gemetar yang masih terdengar.
"Ayo, silahkan di minum!" ucap pak Idris mempersilahkan.
"Iya pak makasih, ayo minum jangan pake malu-malu," ucap Ridwan meraih gelas sirup di atas meja dan sepotong brownies itu.
__ADS_1
Aryo saling bertatapan sekilas lalu buru-buru meraih gelas dan kue bersamaan.
"Maaf nak kalau bapak boleh tanya, tadi apa benar kamu melihat anak kecil?" tanya Pak Idris.
Setta mengangguk.
"Tapi sekarang udah hilang, pak," jawab Setta.
"Sebentar ya," Pak Idris meraih sebuah foto di atas buffet tv yang terbuat dari kayu yabg terletak di ruang tengah.
"Apa anaknya seperti ini?" tanya Idris menunjukkan sebuah foto dengan bingkai kayu berwarna perak di tangannya.
"I-iya Pak," sahut Setta pelan.
"Wah horor nih, pulang yuk, bang!" bisik Aryo pada Ridwan.
"Iya pulang aja yuk!" bisik Jin menimpali.
"Ah udah sih nyimak aja, lagi seru gini tau gue mau liat soalnya," ucap Ridwan.
Bu Idris langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan menangis. Suara tangisan pilunya terdengar sampai ke luar.
"Ini anak bapak, anak kami satu-satunya, namanya Ana," ucap Pak Ridwan dengan raut wajah sedih.
Setta meraih bingkai foto Ana dari tangan Pak Ridwan.
***
Hari itu Pak Idris dan istrinya baru saja membuat pesta kecil untuk memperingati ulang tahun Ana yang ke lima. Ada badut juga yang mengisi acara di rumah tersebut, sesuai permintaan Ana yang tak pernah ditolak permintaannya oleh Pak Idris karena Ana merupakan anak satu-satunya.
***********
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1