
*** Chapter 54 ***
Rosi mencoba masuk ke dalam tubuh Setta agar bisa menggerakkannya. Akan tetapi tubuh Setta tak bisa ia gerakkan karena sudah tak berdaya.
"Mana Setta, Bran?" tanya Nathan dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari.
"Di dalam sini," tunjuk Gibran.
"Bang Udin kuncinya mana?" tanya Pak Tomo.
"Haduh tuh kunci mah ada di rumah, emang yakin anaknya di dalam sini?"
"Udah jangan pakai tanya, saya yakin cepetan cari kuncinya atau saya dobrak nih sampe rusak," ucap Gibran.
"Awas Bran, aku buka pakai ini aja," Nathan mengeluarkan pistolnya mengarah ke kunci pintu gudang.
"Eh jangan pak, iya saya ambil bentar ya, jangan di rusakin pintunya!" Bang Udin segera berlari ke rumahnya di belakang sekolah.
Rosi menyentuh Gibran memberitahukan tentang kondisi Setta.
"Tan, cepetan Setta pingsan sesek nafas," ucap Gibran mulai panik.
"Aku gak sabaran, minggir deh aku jebolin aja nih pintu," Nathan bersiap dengan pistol di tangannya.
"Tunggu... ini kuncinya pak!"
Bang Udin segera berlari saat datang membawa kumpulan kunci ke hadapan Nathan. Dengan menghela nafas dalam, si penjaga sekolah itu dengan cepat mencari kunci gudang dan membukanya. Setta tergeletak di lantai.
"Dek bangun dek, gimana ini Setta gak nafas..." Nathan panik dan sedih saat membawa adiknya di pangkuannya.
Gibran mengangkat Setta dan membawanya ke luar ruangan lalu memberikan pertolongan CPR bagi Setta, karena ia yakin gadis itu masih hidup.
"Sorry Tan, aku ngelakuin ini ke adik kamu," ucap Gibran lalu memberikan Setta nafas buatan tepat di hadapan Jin dan Rania yang baru saja sampai ke sekolah.
"Uhuk uhuk...!!!" Setta tersadar dengan nafas yang tak beraturan dan hembusan yang sempit.
Nathan segera menghampiri Setta dengan memberikan obat asma yang langsung Setta hisap.
"Abang..." Setta memeluk Nathan sambil menangis.
Rania langsung menghampiri Setta dan memeluknya.
"Kamu kenapa, Ta?" tanya Rania sambil menangis.
"Rania..." isak Setta makin jelas terdengar dengan nafas yang belum lega sempurna.
"Kita bawa dia ke rumah sakit, aku rasa dia butuh pengobatan lebih, biar nafasnya lega," ucap Gibran.
__ADS_1
"Iya Bran, makasih banyak ya," Nathan membopong tubuh Setta menuju ke mobilnya.
"Makasih pak atas kerja samanya," ucap Gibran pada Pak Tomo lalu ia menoleh ke arah gudang tadi tepat di mana hantu Rosi berdiri sambil tersenyum memandang Gibran.
"Makasih ya," ucap Gibran lirih.
"Hah apaan kak, makasih sama siapa kak?" tanya Rania yang mendengar ucapan Gibran.
"Oh enggak, aku cuma bilang makasih ya Allah, maksudnya gitu, karena berhasil menemukan Setta," ucap Gibran.
"Ooohhhh... eh kak Jin kenapa diem aja kayak gitu, nanti kesambet lho?" Rania menegur Jin.
"Enggak biasa aja, Ran, kamu mau ikut ke rumah sakit antar Setta?"
"Iya," sahut Rania.
"Lho kamu gak pulang?" tanya Jin.
"Aku mau nginep aja di rumah Setta, kak Jin mau pulang?"
"Ummm aku ikut deh mau lihat kondisi Setta dulu, kan aku numpang mobil kamu," ucap Jin.
***
Sesampainya di Rumah Sakit Kota, Setta langsung di larikan ke IGD untuk mendapatkan bantuan medis yang lebih akurat lagi padanya.
"Tan, ini minum dulu!" Gibran menyerahkan kopi susu dalam kemasan karton pada Nathan.
"Abang Nathan, kak Tia di rawat di sini kan?" tanya Rania.
"Iya, kenapa Ran?"
"Di kamar berapa aku mau nengok bentar?" tanya Rania.
"Lantai tiga ruang 305," jawab Nathan.
"Oke, yuk kak Jin anterin aku!" pinta Rania menepuk lengan Jin yang masih memandang Gibran dengan sinis.
"Woi...!!!" Rania menyentak Jin.
"Hmmm apa tadi kamu bilang?"
"Anterin aku nengok kak Tia," pinta Rania.
"Ya udah Ayo!"
***
__ADS_1
Di kamar perawatan Tia, Rania menceritakan semua kejadian yang menimpa Setta.
"Itu kira-kira siapa ya yang kunciin Setta di gudang, kan gak mungkin Setta masuk ke dalam sana sendirian terus di kunci dari luar?" tanya Tia sambil mengunyah potongan buah apel yang di bawa oleh Sarah tadi.
"Nah itu dia kak, aku juga curiga pasti ada yang iseng sama Setta," ucap Rania ikut mengambil potongan apel tersebut dan mengunyahnya.
"Atau Setta di isengin sama setan terus di kunciin di gudang sama tuh setan, bisa jadi kan?" Jin ikut meraih potongan apel tersebut tapi Rania menepis tangannya.
"Yah... Aku juga kan mau Ran, laper nih..." ucap Jin.
"Tuh masih ada, potong sendiri gih!" Rania menunjuk apel di meja samping ranjang Tia.
"Setau saya yah, hantu gak bisa ngunci pintu, paling nembus pintu bisa, mungkin Setta kaget ketemu hantu terus pingsan, eh di kunci sama penjaga sekolah, bisa jadi kan?" Bejo ikutan menerka apa yang terjadi dengan Setta tadi.
"Ah udah ih main tebak-tebakannya, sekarang Setta gimana?" tanya Tia.
"Masih di kasih alat uap di IGD, tapi udah stabil sih," sahut Rania.
"Alhamdulillah bagus kalau gitu," Tia mencoba meraih air minum dalam kemasan botol, tapi Rania sudah sigap membantu meraihnya.
"Makasih Ran," ucap Tia.
"Sama-sama," Rania tersenyum ke arah Tia.
"Coba tadi kita langsung ke sekolah Ran, harusnya aku tuh yang kasih nafas buatan buat Setta," gumam Jin dengan raut wajah kesal.
"Emang siapa yang kasih Setta nafas buatan?" tanya Tia mulai ingin tahu.
"Gibran..." sahut Jin.
Tia dan Bejo saling memandang satu sama lain.
"Cocok..."
Ucap Tia dan Bejo bersamaan.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Special nih dobel up buat kalian
Vie Love You All...😘😘