With Ghost

With Ghost
Chapter 47 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 47 ***


Nathan dan Tia sampai di pabrik Roti.


"Ibu ini gimana sih, kan sudah saya bilang kalian tuh dalam pengawasan kami, maka di mohon jangan melakukan kunjungan ke luar kota maupun luar negeri," ucap Nathan pada Ibu Emi saat wanita itu menuturkan kalau suaminya pergi ke luar kota dalam perjalanan bisnis.


"Tapi... kalau suami saya tidak hadir di sana maka calon investor kami akan pergi dan tidak akan menanamkan modalnya di pabrik saya," sahut Ibu Emi.


"Saya minta alamat Pak Richard di luar kota bu," pinta Nathan.


"Sebentar saya hubungin suami saya dulu, saya juga kurang tau tepatnya ia menginap dimana," sahutnya.


"Tia, kamu ikuti ibu itu!" Nathan memberi perintah pada Tia.


"Siap pak!" sahut Tia.


"Ini kenapa pabrik beroperasi sih bandel banget masih dalam penyelidikan juga?" gumam Nathan.


"Mbak, ini oven di tkp kemarin beroperasi?" Nathan menegur pekerja wanita di depan oven yang tempo hari memakan korban tersebut.


Karena tak ada sahutan, Nathan menepuk wanita tersebut. Wanita itu menoleh dan mengejutkan Nathan.


"Astagfirullah..." Nathan mundur beberapa langkah, wanita itu berwajah hantu Mirna yang pucat dengan lidah terjulur. Bekas jeratan tali di lehernya sangat terlihat jelas.


"Pak..." Tia menepuk pundak Nathan yang langsung memeluknya.


"Aku lihat hantunya Mirna," ucap Nathan dengan nada gemetar.


"Ih si bapak berhalusinasi kali, orang gak ada apa-apa di sana," Tia menunjuk ke arah depan oven.


"Tadi ada di sana," Nathan melepas pelukannya dari Tia menoleh ke arah tempat dia melihat hantu Mirna tadi.


"Sudahlah pak, tak usah di pikirkan lagi, ini alamat dari Ibu Mey dimana suaminya berada," Tia menyodorkan buku catatannya pada Nathan.


"Hubungi kepolisian yang bertugas di sekitaran wilayah ini untuk memantau keberadaan bapak Richard."


"Baik pak," sahut Tia sambil mengamati ke sekeliling oven.


"Bu Emi kemana Tia?" tanya Nathan.


Tak ada sahutan dari Tia, Nathan mengamati Tia dari belakang. "Tiaaaaa..."


"Eh kenapa pak?" Tia menoleh pada Nathan.


"Ibu Emi kemana?"


"Ada di kantornya, pak sini deh lihat!" Tia menunjukkan sesuatu pada Nathan.


"Lihat deh pak, di dalam oven ini ada kancing baju di sudut sana!" Tia menunjuk ke dalam oven.


"Kamu bawa plastik buat barang bukti?"


"Enggak, tapi bentar aku ambil plastik roti di sini dulu buat ambil tuh kancing," ucap Tia.

__ADS_1


Nathan membuka tutup oven yang masih terasa anyir darah dan bau busuk karena belum di bersihkan.


"Ih bau banget, aku coba ambil ya pak."


"Saya aja Tia," ucap Nathan meraih plastik di tangan Tia, lalu memasukkan tangannya ke dalam plastik tersebut dan meraih kancing itu di dalam oven.


Saat mencoba menjangkau kancing dan akhirnya dapat, Nathan melihat bayangan perempuan yang berwajah gosong di dinding kaca oven. Karena terkejut, kepala Nathan terantuk bagian atas pemanggang.


"Awww...!!!"


"Bapak gak apa-apa," Tia mengusap kepala Nathan dengan menaikkan ujung kakinya agar bisa meraih kepala Nathan.


"Masih sakit gak Pak?" tanya Tia sambil meniupkan udara dari bibirnya yang entah apa ada hubungannya dengan efek meringankan sakit atau tidak.


Nathan menatap wajah Tia yang terasa lebih dekat.


Manis...


"Masih sakit gak, Pak?" tanya Tia lagi.


"Eh udah kok udah gak sakit, nih ketemu kancingnya," ucap Nathan agak gugup menunjukkan hasil temuannya.


"Oh... bagus deh, udah sore pak, pulang yuk!" ajak Tia.


"Tapi makan dulu ya, saya laper nih," sahut Nathan.


"Oke," Tia mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya.


***


"Sore Non Setta," ucapnya.


"Kok ibu tau nama saya?" tanya Setta.


"Iya saya bawa foto Non Setta sama den Nathan katanya saya di suruh kesini untuk bekerja di rumah ini," ucapnya.


"Siapa yang nyuruh, bu?" celetuk Rania.


"Aden Bejo, dia bilang temannya den Nathan butuh pembantu, biarpun saya dari kampung, tapi saya bisa kok bersih rumah, masak, cuci baju, setrika semua kerjaan rumah saya bisa," sahutnya dengan logat jawa yang khas.


"Rumah ibu dimana?" tanya Setta.


"Jangan panggil ibu, nama saya Darsinem, panggil aja mbok Inem, saya tinggal di kampung, saya sepupu jauhnya ibunya den Bejo," sahutnya.


"Keluarga ibu di kampung semua?" tanya Setta.


"Suami saya sudah pergi dengan perempuan lain, dan anak saya, sebulan yang lalu meninggal non, sakit demam berdarah ndak sempat tertolong," raut wajah cerianya itu berubah sedih.


"Duh jadi mbok Inem sendirian di kampung?" tanya Rania.


"Iya non, makanya den Bejo bawa saya kesini, saya janji akan menjaga kepercayaan Den Bejo dengan baik, saya tidak akan mengecewakan non Setta dan den Nathan


"Mbok Inem mau tinggal di sini?" tanya Setta.

__ADS_1


"Memangnya boleh non? saya sih tadi sudah mencari kontrakan jadi sudah tidur di kontrakan saja," sahutnya."


"Daripada buang uang buat kontrakan, mending tinggal di sini, nanti tidur di kamar nenek," ucap Setta.


Lalu Setta membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan Rania dan mbok Inem masuk ke dalam.


"Rumahnya anget banget non," ucap Mbok Inem.


"Anget gimana mbok?" tanya Rania.


"Ya meskipun lagi ditinggal pergi para penghuni, tapi seperti ada saja yang menghuni rumah ini," ucapnya sambil mengamati sekeliling rumah.


"Ini kamarnya mbok, nanti beresin sendiri ya," ucap Setta membuka kamar neneknya.


"Iya non makasih banyak, eh maaf bu permisi ya saya mau numpang tidur di sini," suara mbok Inem jelas sekali terdengar ke telinga Setta dan Rania kalau ia menyapa seorang ibu di dalam kamar.


Rania menatap Setta lalu berlindung di balik tubuh gadis tersebut menuju ke kamar tadi.


"Mbok Inem, ngomong sama ibu siapa?" tanya Setta.


"Ndak kok non, ndak apa-apa."


"Mbok ngomong sama nenek?" tanya Setta.


"Non bisa lihat?"


"Lihat nenek yang duduk di tepi kasur?" tanya Setta.


"Saya ndak mau nakutin non, tapi ternyata mata batin non juga terbukanya seperti saya?"


"Aduh pusing aku kalau bahasnya pada kayak gitu, aku mau ke dapur ya Ta, ambil minum," ucap Rania ketakutan lalu menuju dapur.


"Saya sejak kecil sudah melihat hal seperti itu, apa non juga?" tanya Mbok Inem.


"Iya mbok, terus mbok gak takut?" tanya Setta.


"Takut pasti, tapi ada gusti Allah yang harus kita takuti lebih dari apapun, jadi mbok sudah terbiasa," sahutnya.


*********


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2