With Ghost

With Ghost
Chapter 74 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 74 ***


"Jadi maksud kamu dek, bioskop itu sengaja di bakar dan bukan si Toto pembunuhnya?" tanya Nathan yang akhirnya mau juga mendengar penjelasan Setta.


"Hooh, namanya Marni, aku ketemu kak Bejo deh, niat gambar sketsa wajahnya, aku masih inget banget lho bang," ucap Setta.


"Tapi kasus itu udah di tutup Ta, masa harus bang buka lagi sih?" ucap Nathan.


"Tapi para arwah di bioskop itu menuntut keadilan bang, dan biasanya mereka bisa bawa korban lain lho suatu saat buat nemenin mereka kayak tempat-tempat angker gitu yang suka makan korban," ucap Setta.


"Setta bener Tan, gak ada salahnya kalau kita bisa menemukan pelaku, kita buka lagi kasus ini, kita cari bukti baik-baik yang tim kamu terlewat tempo dulu," sahut Gibran.


"Oke, kita ketemu Bejo buat gambar si pelaku sesuai penglihatan kamu , dan kamu Tia, kamu yakin mau ngelakuin hal tadi demi deket sama Mama Laura?" tanya Nathan.


"Aku siap, aku cuma butuh kamu percaya sama aku," pinta Tia.


Ada rasa khawatir di wajah Nathan yang terlihat jelas, namun ia berusaha untuk percaya pada Tia. Nathan menepuk bahu Tia.


"Ngomong-ngomong nih, terusin makan dulu yuk, sepertinya enak juga menu di sini," ucap Rania.


"Iya bang makan dulu ya, aku lapar nih," pinta Setta.


"Oke, baiklah..." ucap Nathan akhirnya.


***


Satu minggu sudah Tia bekerja di Blue House. Satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui, mungkin itulah peribahasa yang tepat bagi Tia. Selain dia bisa mencari Yana, dia juga bisa mengumpulkan data mengenai segala hal ilegal yang ada di Blue House. Tia bekerja sama dengan seorang pekerja se*s komersil di sana. Perempuan malam itu bernama Mayang. Setiap saat Tia di pesan oleh para pria hidung belang, dia akan membuat si om senang itu mabuk dan tidur bersama Mayang. Atau malah jika om hidung belang itu terlalu mabuk, Mayang dan Tia cukup menertawakan kebodohan pria tersebut tanpa bersusah payah.


"Cukup untuk hari ini, ayo kita keluar dari ruangan ini," ucap Tia mengajak serta Mayang pergi diam-diam.


"Lepaskan om! lepaskan!" gadis cilik itu meronta-ronta di hadapan Tia.


"Mau di bawa kemana bang?" tanya Tia pada pria besar berkumis yang membawa gadis cilik itu.


"Ke ruang belajar," ujarnya.


"Ruang belajar? mau belajar apaan bang?" tanya Tia lagi.


"Belajar cara membuat senang bos besar lah!" ucapnya membentak.

__ADS_1


"Dih, biasa aja kali bang, ini anak mau belajar praktek langsung gitu?"


"Bukan begitu, mereka di kasih lihat video buat di pelajari, kalau siap praktek ya praktek hahahaha seru ya, neng mau praktek sama abang?" tanya pria besar itu menggoda Tia.


"Idih... najong...!!!" sahut Tia.


"Lah kalau abang gajian juga nanti di bayar," ucapnya.


"Bodo amat!" sahut Tia.


Pria besar itu tertawa seraya menarik paksa gadis cilik tadi. Tia masih mengamati dengan seksama. Dirinya memutuskan untuk mengikuti pria tadi diam-diam, siapa tau dia dapat menemukan Yana di dalam sana. Padahal wajah Yana saja dia tak tahu, bagaimana Tia bisa mencari gadis cilik itu dengan mudah, bagi Tia kalau bisa bukan hanya Yana yang si selamatkan, kalau perlu semua anak yang disekap di sini di selamatkan.


***


"Kok Tia belum keluar ya, biasanya jam segini dia keluar," gumam Nathan yang sedari tadi gelisah di dalam mobil bersama Gibran. Keduanya sedang mengintai di seberang gedung Blue House.


"Hmmm... katanya pacaran sama Sarah, tapi khawatir sama Tia, jadi cintanya sama yang mana nih?" Gibran menggoda Nathan.


"Ah kamu mah bisa aja, aku tetep setia kok sama Sarah. Tapi, si Tia kan sahabat kita, wajar dong kalau kita khawatir," sahut Nathan.


"Hmmm STP namanya tuh..."


"Sahabat tapi mesra, cieeee..."


Pluk...


Botol mineral jatuh tepat mendarat di wajah Gibran.


"Duh... parah nih! sakit tahu!" Gibran menggerutu.


Ponsel Nathan berbunyi, tertulis nama "Tia Imut" di layar ponselnya.


"Hmmm kerjaan Setta nih ganti-ganti nama kontak," gumam Nathan.


"Kenapa Tia?" tanya Nathan menekan tombol loud speaker agar Gibran juga ikut mendengarnya.


"Cek foto-foto yang aku kirim, ke whatsapp kamu ya, dan sepertinya aku gak bisa keluar malam ini," ucap Tia dari seberang sana.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Madam Laura ingin bertemu dengan ku, barusan si Jambrong yang kasih tau aku," sahut Tia.


"Jambrong siapa?" tanya Nathan.


"Penjaganya Madam Laura, maaf ya Tan, sebaiknya kamu pulang aja sama Gibran, nanti hape aku matiin, jadi aku hubungi kamu besok pagi," ucap Tia.


"Hati-hati ya!" ucap Nathan.


"I love you too." Tia menutup ponselnya.


Gibran menahan tawanya tapi terlanjur tertawa juga saat mendengar ucapan Tia barusan. Wajah Nathan menyemu merona menahan tawa, meski senyum kecil sudah menghiasi wajahnya.


"Si Tia ini ya bener-bener iseng banget ceplas-ceplas aja," gumam Nathan.


"Jadi, kita pulang?" tanya Gibran.


"Kita pulang, kita tunggu kabar Tia besok pagi," sahut Nathan.


"Yakin gak mau coba masuk ke dalam, aku udah jadi member nih?" Gibran menggoda Nathan.


"Bisa besar kepala si Sandi kalau kita masuk ke sana, paling gak nyamar lah," ucap Nathan.


"Ide bagus!"


****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya :


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2