
*** Chapter 35 ***
"Hayo pada ngapain...?" Rania dan Setta mengejutkan keduanya yang langsung berteriak bersamaan.
"Aaaaaaaaaaa...!!!"
Jin dan Aryo berlari menarik Setta dan Rania membuat semua peserta yang hampir bubar menoleh kepadanya.
"Kalian pada kenapa sih?" tanya Pak Idris.
"Tadi, tadi, kita lihat..." ucapan Jin terhenti saat kibasan tangan Pak Idris yang tak mau mendengar itu terarah padanya.
"Sekarang kamu suruh anak-anak kembali ke tenda masing-masing dan selesaikan seluruh kegiatan besok jam delapan kita pulang," ucap Pak Idris.
"Baik pak," sahut Jin dan Aryo bersamaan.
Setelah Pak Idris pergi, Jin menarik tangan Setta menunjukkan layar kamera milik Aryo.
"Ini lihat Ta, ini hantu kan?" bisik Jin.
"Udah-udah sih kita mau tidur kak, emangnya Setta mama loreng apa pakai nanya-nanya soal hantu," Rania menarik tangan Setta dan membawanya menuju tenda.
Setta menoleh pada Jin sambil menganggukkan kepalanya saat tangannya di tarik oleh Rania menuju tenda.
"Tuh kan bener Yo," Jin menepuk punggung Aryo karena terlalu kencang, aryo sampai terjatuh berlutut di tanah.
"Astaga, Jin kenapa sih kamu?!" pekik Aryo.
"Sorry bro, kekencangan ya, ini lho aku mau bilang kalau ini beneran hantu, empat orang perempuan ini, udah gitu coba deh kamu perhatiin satu orang ini cewek bule tau Yo," tunjuk Jin.
"Masa sih, coba sini aku lihat?" Aryo mengamati layar kameranya dengan seksama.
"Udah ah nih."
"Kenapa kamu?!" tanya Jin.
"Takut aku! eh iya kamera aku ya, kemariin!" Aryo meraih kamera nya dan segera menuju ke tenda untuk beristirahat.
***
Di kediaman Ki Romo, di ruangan yang gelap dan pengap membuat yang masuk kesana bergidik ngeri dan ketakutan. Ibu Serayu menarik paksa seorang perempuan ke dalam ruangan tersebut. Mulutnya terbekap dengan tangan terikat, gadis itu hanya bisa meronta sekuat tenaganya tapi tak bisa. Gadis itu di paksa duduk dan di ikat dengan kursi kayu jati.
__ADS_1
"Apa dia salah satu rombongan yang tadi?" tanya Ki Romo.
"Iya ki, dia sedang berusaha mengambil boneka wayang Shinta kita," jawabnya.
Ki Romo menarik paksa plester yang menutupi mulut gadis itu, teman satu kelompok Setta yang bernama Nia. Salahnya Nia yang tergoda mengambil barang orang lain tanpa ijin seperti sebuah kebiasaan yang menyenangkan untuk dia lakukan. Kini, Nia harus menanggung akibatnya karena tertangkap oleh Serayu.
"Maafkan saya ki, saya khilaf, maafin saya," pinta Nia sambil menangis ketakutan.
"Oh... enggak apa-apa, cup cup jangan nangis, kamu suka ya sama wayang yang bentuknya kecil ini?" tanya Ki Romo.
"Tadinya saya suka tapi enggak ki, saya gak jadi suka, saya gak akan ambil," jawab Nia.
"Wah, saya kecewa kalau kamu bilang kamu gak suka lho."
"Iya ki, saya suka," Nia langsung menjawab ucapan Ki Romo.
"Kamu mau?" tanya pria tua itu.
Nia menggeleng, namun karena tatapan hangat ki Romo berubah marah, Nia kemudian mengangguk.
"Kamu mau aku buatin yang seperti ini?"
"Bisa lepaskan saya Ki, nanti saya bantu buatnya," ucap Nia.
"Oh tentu, tentu saja kamu harus membantu membuatnya," ucap Ki Romo kini senyum yang tersungging di wajah laki-laki paruh baya itu berubah menyeramkan.
Jleb...
Serayu menusuk bahu kiri Nia dengan sebuah suntikan sambil membekap mulut Nia dengan kain agar teriakannya tak terdengar sampai keluar.
Ujung pisau yang tajam berkilauan di bawah cahaya pantulan bulan yang menembus ke ventilasi kecil ruangan tersebut. Nia menangis sejadi-jadinya tapi sudah tak bisa berteriak karena mulutnya sudah terbekap dengan kain.
"Ndak sakit kan?" tanya Ki Romo menusukkan pisau tersebut pada Nia.
Nia menggeleng sambil menangis lebih kencang, air matanya mengalir deras jatuh di kedua pipinya.
"Oke kalau sudah ndak sakit kita mulai buat bonekanya, yaitu pertama kita harus siapkan kulitnya dulu," ucap Ki Romo membuat garis-garis tipis di lengan kiri gadis itu.
Serayu menyerahkan pisau yang lebih tipis dan lebih besar dari yang tadi ki Romo pegang.
Perlahan tapi pasti, Nia kehilangan tangan kirinya. Meski rasa sakit pada tubuhnya hilang karena pengaruh obat bius yang du suntikan tadi, tapi melihat tangannya terpisah dari tubuhnya sangat membuat Nia ketakutan dan frustasi sampai tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
Nia tersadar dari pingsannya, dia tergeletak di lantai semen di dalam ruangan rumah Ki Romo. Banyak kulit yang di gantung di sebuah tali jemuran dari rotan. Bau anyir menyeruak menusuk hidung gadis itu. Nia meringis kesakitan tatkala merasakan nyeri paling hebat yang berdenyut di bahu kirinya. Kondisinya yang masih lemah membuat gadis itu menyeret tubuhnya menuju pintu keluar untuk mencari pertolongan. Saat Nia menyeret tubuhnya, kakinya menendang tiang kayu sampai terjatuh. Nia buru-buru menahan tiang kayu yang terdapat kulit wayang tergantung itu agar tak menimpanya dengan kakinya.
"Aarrghh...!!!" Nia membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanannya, karena melihat seorang perempuan dengan posisi duduk di sudut ruangan itu sudah tak bernyawa. Kulit di tubuh bagian atasnya hilang dari bagian leher sampai ke bagian perut. Perempuan berwajah bule yang menunduk itu tiba-tiba bergerak menaikkan wajahnya lalu membuka kedua matanya menatap Nia.
"Aaaaaaaaaa...!!!"
Nia tak bisa menahan teriakannya kali ini sampai membuat Serayu masuk ke dalam ruangan.
"Anak ini sadar Ki," ucap Serayu saat membuka pintu ruangan itu.
"Tolong jangan sakiti saya, tolong keluarkan saya, saya mohon bu, saya mohon Ki, saya janji gak akan bilang sama siapapun soal ini," pinta Nia sambil menangis ketakutan dan menahan sakitnya.
"Hmmm kau pikir kami bodoh apa bisa dengan mudah percaya padamu? lagipula kau seharusnya bangga lho, asal kau tahu kulit mu ini cocok sekali seratnya untuk karya wayang kulit terbaru ku," ucap Ki Romo.
"Tidak, tidak saya mohon bebaskan saya...!!!" pekik Nia yang langsung di tusuk suntikan pada bagian lehernya.
"Bereskan gadis itu dan juga gadis bule itu, bersihkan kulit-kulit di ruangan ini setelahnya," ucap Ki Romo.
"Baik ki, akan saya laksanakan," jawab Serayu.
"Kali ini kubur dua jasad gadis itu lebih jauh dari sini, dan pastikan tidak ada yang mengetahui perbuatan mu!" seru Ki Romo memberi perintah.
"Baik Ki..."
*************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1