With Ghost

With Ghost
Chapter 34 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 34 ***


Jin langsung mendekat ke samping Setta tak berani melirik ke arah yang dilirik Setta tadi. Pocong tersebut melompat mendekat ke arah Setta yang tak berani melihat ke arahnya.


"Kak kabur yuk!" ajak Setta dan Jin langsung mengiyakan mengikuti Setta melangkah cepat menuju perkemahan dengan wajah masih menunduk.


"Kak bentar, ada yang lupa," ucap Setta menarik tangan Jin.


"Kenapa lagi sih?"


"Rania ketinggalan di toilet," sahut Setta menarik tangan Jin kembali mencari Rania.


***


Saat Setta, Rania dan Jin kembali ke bumi perkemahan mereka mendengar sayup-sayup suara gending gamelan yang terdengar.


"Ada yang pesta ya?" tanya Rania.


"Iya itu suara berisik gamelan, coba ah gue liat," ucap Jin.


Jin mengintip sebuah pertunjukan wayang kulit dengan gamelan dan iringan penyanyi sinden yang mengiringi. Banyak juga warga yang menonton pertunjukan tersebut.


"Ada wayang kulit," ucap Jin.


"Mana coba aku lihat?" ucap Rania ikut mengintip.


Setta juga ikut mendekat untuk mengintip.


"Kesitu yuk kayaknya seru terus kita foto-foto gimana?" tanya Rania.


"Udah malem ayo balik ke kemah, nanti aku omongin sama pak Idris kali aja besok kita bisa kerja sama dengan si dalang buat lihat pertunjukan wayang kulit sekalian edukasi," sahut Jin.


"Ide yang bagus, aku suka edukasi," ucap Setta.


"Ah kamu mah Ta kalau soal belajar dan belajar demen banget," Rania mendorong bahu Setta pelan.


Ketiganya lalu kembali ke tenda mereka di bumi perkemahan.


"Dari mana kalian?" tanya Ratu.


"Anter Rania pipis kak," sahut Setta.


"Kalau kamu dari mana Jin?" tanya Ratu menatap Jin.

__ADS_1


"Anter Setta nemenin Rania pipis," sahut Jin asal.


"Ih siapa yang minta anter..."


"Udah sana pada balik ke tenda pada tidur sana!"


Jin memotong ucapan Setta lalu mendorong punggung Setta dan Rania pelan.


Pukul dua dini hari Setta terbangun dengan tenggorokan tercekat kehausan. Ia mencari botol air minum yang berada di sudut tenda belakang tas ranselnya dengan mata yang masih sayup-sayup belum terbuka sepenuhnya.


Seseorang mengulurkan botol minum itu pada Setta.


"Makasih ya Ran," ucap Setta lalu meneguk air dalam botol tersebut dengan posisi duduk.


"Lah Rania kan di tidur di samping kiri aku, terus yang..."


Setta menoleh pada sisi kanannya perlahan. Sosok hantu kuntilanak dengan rambut terurai menutupi wajahnya yang tertunduk dengan posisi duduk menekuk kakinya di samping sisi kanan Setta.


"Astagfirullah perasaan gak enak nih," gumam Setta.


Kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Rania.


Kepala Setta di belai dengan lembut berulang-ulang sampai membuatnya merinding dan gemetar. Nyanyian nina bobo terdengar dari sosok hantu kuntilanak itu dengan suara berbisik yang parau menyeramkan di dalam tenda Setta dan Rania.


***


Jin menceritakan idenya pada Pak Idris untuk menonton pertunjukan wayang kulit di samping bumi perkemahan ini. Berhubung Pak Idris menyukai wayang kulit, akhirnya ide Jin di setujui. Jin dan Aryo akhirnya menemui dalang yang bernama Ki Romo melalui asistennya yang bernama Ibu Serayu.


Seharian para peserta mengunjungi sungai dan air terjun di bumi perkemahan tersebut sambil di beri beberapa pertanyaan terkait organisasi OSIS di sekolah sebagai bahan pertimbangan penilaian dari panitia.


Pukul delapan malam seluruh peserta yang berjumlah seratus lima puluh siswa dan siswi itu mengunjungi halaman kediaman Ki Romo yang terletak di samping bumi perkemahan. Mereka berbaur dengan para warga untuk melihat pertunjukkan tersebut. Di sana juga terdapat penjual jagung rebus, kacang rebus, wedang jahe, kopi dan cemilan khas desa lainnya.


"Kalau satu kelompok sama Rania emang kenyang nih, makasih banyak ya Ran," ucap Abdi.


"Sama-sama dah makanin aja, kalau kurang ambil lagi aja nanti aku yang bayar," sahut Rania.


"Aduh enak bener dah, boleh lah ini nebeng," sahut Aryo yang datang bersama Jin langsung membaur di kelompok Rania dan Setta.


"Ah kamu mah kak pakai basa basi busuk, biasanya juga tinggal nyomot gak pake bilang lagi," sahut Rania.


Jin menggeser Nia yang duduk di samping Setta agar berpindah tempat. Nia paham dan menuruti kode Jin. Ratu yang datang bersama Santi juga ikut menggeser Nia. Ratu duduk di samping Jin akhirnya.


"Hai..." sapa Ratu saat duduk.

__ADS_1


"Ini pada kenapa sih demen banget nyuruh saya pindah huh," gumam Nia lalu pindah tempat duduk.


Pertunjukan Wayang Kulit pun di mulai. Pertunjukkan tersebut berlangsung dalam iringan musik gamelan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlian khusus menabuh gamelan. Dua orang Pesinden wanita membawakan tembang mengiringi orkestra gamelan tersebut.


Pertunjukan wayang kulit yang di usung Ki Romo menceritakan tentang kisah yang berangkat dari periode Jawa Klasik yang bertema tentang kepahlawanan dan cinta Rama dan Shinta melawan Rahwana.


Aryo sibuk mengambil gambar acara tersebut dan para peserta SMA Lentera dengan kamera Digital Single Lens Reflex tipe terbaru yang menggantung di lehernya. Tepuk tangan dan tawa penonton juga terdengar riuh kala melihat pertunjukkan tersebut.


"Apaan tuh..." gumam Aryo saat melihat sekilas beberapa sosok perempuan dari lensa kamera nya sedang berdiri di samping kediaman Ki Romo.


Aryo memastikan penglihatannya lagi dengan kameranya karena jika ia melihat tanpa kamera, ia tak dapat menemukan para perempuan seperti tadi.


"Tuh kan, kalau di kamera ini ada, itu mbak-mbak pada ngapain ya berdiri di situ bukannya nonton kemari," gumam Aryo.


"Gimana bro bagus gak hasil fotonya?" Jin menghampiri Aryo saat pertunjukkan wayang kulit tersebut sudah berada di adegan akhir. Jin menepuk punggung Aryo dan mengejutkannya.


"Ah rese nih ngagetin aku aja!" ucap Aryo.


"Ya elah gitu aja kaget," sahut Jin.


"Eh Jin iprit lihat dah hasil foto gue nih," Aryo menunjukkan kameranya pada Jin.


"Apaan nih Yo? cewek-cewek ya? tapi kok aku lihat-lihat gak ada di tempatnya, tapi di kamera ini ada, aduh jangan-jangan...?"


Jin dan Aryo saling menatap, wajah mereka langsung pucat pasi, tubuh mereka gemetaran dan terasa lemas seolah tak bisa menumpu tubuh mereka saat berdiri.


"Hayo pada ngapain...?" Rania dan Setta mengejutkan keduanya yang langsung berteriak bersamaan.


"Aaaaaaaaaaa...!!!"


*************


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2