With Ghost

With Ghost
Chapter 77 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 77 ***


Nathan melepas paksa pelukan Tia.


"Kamu mabuk Tia, lepaskan!" pinta Nathan.


"Ah sayangnya aku, aku memang mabuk, aku mabuk karena sangat mencintaimu," ucap Tia meracau dengan sangat kacau di bawah pengaruh obat terlarang pemberian Madam Laura tadi.


Tia mendorong tubuh Nathan duduk ke atas ranjang dan menaiki tubuh Nathan. Gadis itu menjilati leher Nathan dan menghisap kulit kuning langsat milik pria tersebut.


"Tan, astaga... Nathan... Tia...!"


Bejo terkesima melihat penampilan Tia yang menggiurkan itu di tambah lagi posisi tubuh Tia yang menggoda itu berada di atas pangkuan Nathan.


"Hai, Bejo...!" sapa Tia dengan nada genit menggoda Bejo.


"Hai, Tia," sahut Bejo yang air liurnya hampir menetes.


"Astagfirullah..." Nathan segera menghempas Tia dari pangkuannya. Lalu ia tutupi tubuh Tia dengan bed cover yang di tarik dari atas kasur, lalu membopong tubuh Tia keluar kamar.


"Aku aja deh yang gendong, Tan," pinta Bejo.


"Enggak! Tia tuh dalam pengaruh obat tau gak, dia tuh mabuk, awas kalau sampai kamu bahas sama Tia soal ini," ancam Nathan.


"Hmmm..."


"Lepasin! Nathan sayang lepasin aku!" Tia mencoba meronta-ronta di dalam balutan bed cover di atas bahu Nathan.


"Gak usah pada di liatin!" seru Bejo memperingatkan yang lainnya agar tak memperhatikan Nathan yang membopong tubuh Tia ke dalam mobilnya.


***


Setta meminta Gibran untuk di antarkan menuju gedung perlindungan anak terlantar. Gadis itu di beri kabar Gibran bahwa salah satu anak yang di amankan itu adalah Yana. di sana Setta langsung memeluk Yana saat melihatnya duduk termenung memandang teman bermain yang lenggang. Tak ada satupun anak yang main di sana. Wajah syok maupun trauma masih terpampang di wajah mereka.


"Kamu sehat kan Yana, kamu gak apa-apa?"


Tanya Setta di kantor perlindungan anak yang menaungi perlindungan bagi anak-anak yang di amankan semalam tadi.

__ADS_1


"Kakak siapa?" tanya Yana yang tak mengenal Setta sebelumnya. Yana berusaha melepas pelukan Setta.


"Anggap saja saya kenal sama nenek kamu, dia ingin saya menemukan kamu dan melihatmu aman," ucap Setta.


"Tapi nenek saya sudah meninggal," ucap Yana.


"Ya saya tau, saya bertemu arwah nenek kamu yang selalu mengikuti suster Fira. Dia ingin keadilan, dan kamu bisa mengungkapkan kejahatan suster Fira," ucap Setta membuat Yana malah ketakutan akan pengakuan Setta.


Yana berlari menuju kamarnya melindungi dirinya dari Setta. Gibran mencegah tangan Setta agar tak usah menyusul Yana.


"Biarkan saja Ta! berada di Blue House saja masih membuatnya syok. Sekarang setelah terlepas dari itu semua janganbkamu tambah dengan penglihatan kamu saat bertemu neneknya, dia pasti tambah takut," ucap Gibran.


"Tapi nenek itu akan tenang jika Yana memberitahukan kejahatan suster Fira terhadap ayah, nenek bahkan dirinya pada pihak polisi," ucap Setta.


"Nanti pelan-pelan Ta, aku akan mengirim seseorang untuk selalu mengintai suster Fira. Beberapa orang pasukan juga selalu berjaga di sini, karena mereka berada dalam perlindungan saksi mata atas kasus Blue House sesuai perintah Nathan."


Gibran mengeluarkan korek api di tangannya dan mencari sesuatu di kantongnya.


"Oh iya aku lupa, aku berhenti merokok karena kamu," ucap Gibran.


"Ya karena kamu. Nathan bilang kamu punya asma dan dia gak suka ada seorang perokok yang dekat dengan kamu," ucap Gibran.


"Oh... antar aku pulang yuk!" ajak Setta.


"Udah Ta, cuma oohhh..?" Gibran menahan tangan Setta.


"Lantas apa?" tanya Setta.


"Ya kamu gak takjub apa merasa tersanjung gitu pas tau aku berhenti merokok karena kamu?"


"Perasaan biasa aja deh, harusnya kamu ngelakuin itu untuk diri kamu sendiri, karena berhenti merokok itu lebih baik untuk menjaga kesehatan kamu," ucap Setta menepis genggaman tangan Gibran lalu masuk ke dalam mobil Gibran.


"Hmmm... datar banget Ta... susah banget sih ambil hati kamu," gumam Gibran sambil mengacak-acak rambutnya dengan gemas.


***


Nathan membawa Tia ke rumah sakit kota. Di sana ia bertemu Sarah.

__ADS_1


"Kamu bawa baju ganti gak?" tanya Nathan.


"Pakai baju pasien aja, aku gak bawa baju ganti, kenapa tadi gak bilang, sebenarnya Tia kenapa sih?" tanya Sarah.


"Nanti kuceritakan," sahut Nathan.


"Kamu gantiin dia baju ya, aku mau keluar dulu," ucap Nathan.


"Oke... Tan, tunggu sebentar, aku mau bilang soal gosip kedekatan aku dengan dokter di sini," ucap Sarah.


"Maaf, jangan bahas itu dulu ya, banyak yang harus aku urus saat ini," ucap Nathan seraya keluar dari kamar perawatan Tia.


"Ish ish si Tia kenapa sih pakai baju seksi macam gini, mana mabuk lagi," gumam Sarah sambil menggantikan baju Tia sebelum dokter datang.


Tia bergumam meracau tak jelas menyebut nama Nathan berulang kali.


"Kamu suka ya sama Nathan?" tanya Sarah pada Tia yang masih merasa mabuk. Perlahan Tia membuka matanya. Bayangan Sarah masih berganda di mata Tia, penglihatannya belum mau di ajak fokus.


"Hehehe Sarah, pacarnya pak Nathan, tau gak aku tuh suka banget sama dia jauh, jauh, jauh, sebelum kamu ada di kehidupannya, jadi... hihihihi please banget kamu putusin dia ya buat aku, aku mohon ya..." ucap Sarah menggenggam tangan Tia dan memohon pada Sarah layaknya anak kecil.


Sarah tersenyum lalu menertawakan Tia.


"Aku jadi tahu perasaan kamu ke Nathan," gumam Sarah menepuk gemas pipi Tia sambil tersenyum.


*****


Bersambung ya....


Jangan lupa mampir ke


Pocong Tampan (UP)


Kakakku Cinta Pertamaku (END)


9 Lives (END)


Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


__ADS_2