With Ghost

With Ghost
Chapter 94 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 94 ***


Wira menunjukkan sebuah foto pria paruh baya yang menggunakan seragam walikota pada Pak Sahrudin. Wira mengikatnya di kursi kayu tersebut menggantikan Jin yang sekarang tergeletak dalam sel.


"Kau ingat dengannya, bapak walikota yang terhormat?"


"Ya, tentu aku ingat. Dia pak Husein."


"Orang yang kau bunuh, Iya kan?" Wira membentak tepat di hadapan wajah pak walikota itu.


"Aku-aku tak mengerti."


"Sudahlah aku sudah paham semua kelakuan busukmu! aku sudah menggali semuanya dan mencari bukti bahwa kaulah dalang di balik kematian ayahku!"


"Ayahmu?" Sahrudin langsung terperanjat kala mendengar pengakuan Wira.


"Iya, pria ini ayahku. Ayah yang selama ini ku cari-cari, dan saat ku berhasil menemukannya kau sudah membunuhnya, ya kan?" Wira menarik kerah kemeja pria di hadapannya itu.


"Aku-aku..."


"Aku, aku, hah apa lagi yang mau kau katakan? Kau memang gampang di bodohi. Kau mempercayakan semua pekerjaanmu padaku. Sampai akhirnya aku tau kau dapat melakukan tindakan apapun demi ambisimu yang serakah." Tukas Wira.


Ponsel pria itu berbunyi dan membuatnya pergi dari hadapan pak walikota.


Beberapa saat kemudian dia kembali lagi melepaskan ikatan pak walikota.


"Sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan anggota keluargamu yang kau sayang," ucap Wira seraya menarik paksa pak walikota dan menjatuhkan tubuh laki-laki itu ke dalam sel.


"Rania, jangan lakukan apapun pada Rania...!!!" Gertakan sang walikota hanya membuat Wira tersenyum sinis. Pria itu pergi begitu saja.


"Ada apa dengan Rania pi?" Tanya Nyonya Lani.


"Aku takut dia mendapatkan Rania," jawabnya.


"Aargghh sakit sekali, tolong beri aku minum," pinta Jin dari sudut ruangan sel tersebut.


"Minumlah..."


Nyonya Lani menyerahkan air dalam kemasan botol pada Jin.


"Terima kasih nyonya," ucap Jin dengan suara lirih. Tubuh pria muda itu mulai melemah. Wira hanya memberi mereka roti tawar dan air putih selama berada di sana.


"Sebenarnya apa tujuan Wira?" Tanya nyonya Lani pada suaminya.


"Tujuannya adalah aku," sahut Pak walikota yang terduduk lemas di sudut ruangan sel tersebut.

__ADS_1


Dirinya mulai menarik benang merah dari peristiwa ini. Kejadian tiga tahun lalu mengingatkannya akan kesalahannya.


"Maksud papi?" Tanya Nyonya Lani.


"Kau benar tentang walikota Husein. Aku memang membunuhnya."


Nyonya Lani yang terperanjat langsung menangis. Jin juga ikut menoleh mendengar perkataan sang walikota.


"Kenapa kau lakukan itu pi, kenapa ambisimu membutakan dirimu." Nyonya Lani mencengkeram kerah kemeja milik suaminya itu.


"Lalu apa hubungannya dengan abang Nathan?" Tanya Jin yang belum mengerti kenapa Wira juga mengincar Nathan.


"Ini yang aku belum mengerti," sahut Pak walikota.


"Kalau tujuan Wira hanya kamu, kenapa dia menginginkan adik Nathan dan Rania?" Nyonya Lani menatap tajam pada suaminya itu.


"Mungkin dia mau membalas dendam, karena aku membunuh pak Husein, ayah Wira."


"Jadi, sekarang Wira mengincar Rania, pih?" Tanya Nyonya Lani yang langsung menangis. Kecemasan dan ketakutan melandanya. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada buah hati satu-satu itu.


Sang Walikota hanya mengangguk pelan.


***


"Hai Tia, dimana Gibran?"


"Tadi ada panggilan dari Kapten Ghani, makanya Gibran bilang aku jangan pulang dulu, aku di suruhnya menunggu kalian." Sahut Tia menyimpan ponselnya dalam saku celana bagian depan.


"Oh, begitu baguslah."


"Baguslah? maksud kamu?" Tia mengernyitkan dahinya memandang Sarah.


"Ya bagus aja, jadinya di rumah ini cuma ada kita para perempuan. Masuk yuk, sudah malam!" Ajak Sarah.


Tia mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu tidur di sofa sini ya," ucap Sarah menunjuk sofa warna putih di ruang tamunya.


"Iya tenang aja, aku mah tidur di lantai pakai tikar juga udah biasa."


Pandangan Tia lalu tertuju pada sebuah figura kayu yang berisi foto empat orang bertuliskan "Keluarga Tercinta"


"Itu keluarga kamu?" Tanya Tia menunjuk bingkai kayu tersebut.


"Ummm iya mereka keluarga kandungku."

__ADS_1


"Keluarga kandungmu?"


"Selama ini aku di adopsi oleh kepala Rumah Sakit Kota. Saat aku sekolah di luar negeri aku baru tau kalau aku bukan anak kandung mereka. Lalu aku mencari tau tentang jati diriku yang sebenarnya. Namun, setelah aku berhasil temukan keluarga kandungku, aku sudah kehilangan ibu dan adikku." Wajah dingin Sarah berubah menjadi sangat sedih.


"Oh maafkan aku, aku tak bermaksud untuk..."


"Tak apa, kau sudah ku anggap teman kok, nah karena kau sudah tau sedikit rahasia tentangku, apa aku boleh bertanya?" Sarah melirik ke arah Tia.


"Tanya apa, aku tak punya rahasia," jawab Tia.


"Ada, rahasia tentang kau dan Nathan. Kau menyukainya kan?" Sarah mencoba menelisik.


"Hah, aku? hmmm tenanglah tak usah cemburu, aku tau dia milikmu, jadi aku tak akan mengganggu hubungan kalian."


Ada senyum getir yang Tia hadirkan saat menjawab pertanyaan Sarah.


"Oooh... Kalau masih suka juga tak apa, nanti kuberikan dia padamu."


"Apa?"


Tia mencoba memperjelas pendengarannya.


"Enggak... Aku hanya bercanda," ucap Sarah.


"Tapi maaf sepertinya aku pernah melihat pria ini, dia ayahmu kan?"


Tia menunjuk foto seorang pria dalam bingkai foto tersebut ia mencoba merubah alur pembicaraan mereka.


"Iya dia ayahku ayah kandungku, wah wajahnya pasaran ya sampai kau bilang pernah melihatnya."


Tia menggali lagi ingatannya lebih dalam. Dia yakin sekali ia pernah melihat wajah pria paruh baya itu.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, aku saja baru dua kali bertemu dengan beliau." Jawab Sarah.


"Ah aku ingat aku pernah bertemu pria ini di mana, tapi apa mungkin ya..."


Tia mengetuk dagunya sendiri dengan telunjuknya.


*****


To be continue...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2