With Ghost

With Ghost
Chapter 23 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 23 ***


"Hahahaha..., parah orang masih hidup aku bilang hantu," ucap Rania sambil merangkul Setta.


Sementara hantu Mila masih mengikuti, dia melayang di belakang Rania dan Setta.


"Perasaan aku gak enak nih," ucap Setta lalu menoleh ke belakang.


"Ta, jangan bilang kalau ada yang lain ngikutin aku di belakang, iya Ta?"


Rania meremas lengan Setta karena ketakutan.


"Astagfirullahalazim, kak Mila, mau ngapain masih ngikutin kita?" tanya Setta.


"WHAT...? Mila masih ngikutin, haduh salah apalagi aku?"


Rania gemetaran, kakinya yang lemas berusaha menopang tubuhnya.


Hantu Mila merentangkan kedua tangannya.


"HAH? maksud kak Mila, mau peluk?" tanya Setta dan di iyakan dengan anggukan Mila.


Setta memeluk hantu Mila, lalu hantu itu menunjuk Rania.


"Ran, Mila mau peluk kamu juga," ucap Setta menarik lengan Rania mendekat ke arah Mila.


"Haduh, jangan deh, aku bau asem belum mandi, udah pamitnya dadah dadah aja," pinta Rania ketakutan.


"Gak mau Ran, maunya peluk."


"Haduh... ya udah dah," ucap Rania pasrah lalu merentangkan kedua tangannya dan membiarkan tubuhnya di peluk hantu Mila.


"Aku ngerasa hawa dingin banget Ta," ucap Rania.


"Iya, soalnya kak Mila lagi meluk kamu."


"Maafin Rania ya kak, jangan dateng lagi ya, yang tenang di sana," ucap Rania dengan mata menutup dan menahan nafas karena tiba-tiba bau anyir darah menusuk hidungnya.


"Udah Ran," ucap Setta.


Rania membuka matanya dan...


Tiba-tiba wajah seram Mila yang pipinya hancur menampakkan diri di hadapan Rania.


"KYAAAAAAAAAAA...!!!"


Rania langsung jongkok menutupi wajahnya dengan lututnya.


"Ta, udah pergi kak Mila-nya, kan dia cuma mau pamit sama kamu," Setta berusaha menarik tangan Rania.


"Gak mau, nanti dia cilukba lagi sama aku, mana bau banget lagi tadi pas meluk aku kecium tau," Rania menggerutu masih menutupi wajahnya.


"Heh ngomong sembarangan, nanti dia balik lagi lho marah gara-gara lo katain, hiiiyyy...!"

__ADS_1


Setta berlari meninggalkan Rania.


"SETTA TUNGGUIN...!!! POKOKNYA KAKAK MILA CANTIK, KAKAK MILA WANGI, TOLONG JANGAN GANGGU AKU LAGIIIIII....!!!"


Rania berteriak sambil berlari menyusul Setta.


***


"Siapa yang nyuruh kamu?" Bejo menarik kerah kemeja seorang pria yang di duga pengantar teror paket pada Nathan.


"Sa-sa- saya gak tau pa, dia pakai masker, kaca mata sama topi," jawabnya ketakutan kalau nanti mendapat pukulan dari Bejo dan Nathan.


"Cewek apa cowok?" tanya Nathan.


"Gak tau pak, dia pake jaket hitam, kayaknya cowok," sahutnya.


"Ah payah kamu! udah tau gak kenal yang nitip paket mau aja di suruh," ucap Bejo membanting pria itu membentur dinding di belakangnya.


"Saya diberi uang pak, lumayan," sahutnya.


"Aaahh..." Bejo mau menampar pria itu tapi Nathan menghalanginya.


"Udah Jo, lepasin dia, percuma dia gak tau apa-apa," Nathan mencegah Jojo.


"Kesel aku, pergi kamu! cepet...! keburu aku berubah pikiran!"


Bejo menendang motor pria itu sampai jatuh, lalu pria tersebut langsung buru-buru pergi menaiki motornya.


"Terus gimana ini? masa kita stuck di sini aja gitu?" tanya Bejo kesal.


Tiba-tiba radio polisi di mobil Nathan berbunyi, di sana di perintahkan agar Nathan dan Bejo menuju ke tempat kejadian perkara di pinggir kota. Terjadi pembunuhan sekeluarga yang dibantai secara sadis, hanya tersisa seorang anak perempuan berusia lima tahun yang masih hidup dari lima anggota keluarganya.


Sesampainya di rumah bergaya mediterania dengan halaman belakang yang luas, Nathan memasuki garis polisi. Tercium bau anyir darah segar yang menyeruak menusuk ke hidung. Para korban masih tergeletak di TKP.


Jasad pertama ditemukan di ruang tamu dengan posisi duduk di sofa ruang tamu. Beberapa langkah dari sana di temukan jasad seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang kepalanya sudah terpisah tak jauh dari tubuhnya yang telungkup di lantai.


Beralih ke lantai dua, tergeletak mayat bayi berusia tujuh bulan tanpa busana dan luka memar. Dari mulut, mata dan telinganya keluar darah. Nathan meneteskan air matanya tak kala tak tega dengan kondisi mengenaskan si bayi.


"Tan, satu lagi nih!" seru Bejo dari atas sana.


"Iya aku kesana," Nathan mengusap air mata di pipinya.


"Astagfirullahalazim..." ucap Nathan saat melihat mayat wanita bersimbah darah di atas ranjangnya.


"Gila parah! ini perampokan di sertai pembunuhan, apa pembunuhan berencana, Wan?" tanya Bejo pada Ridwan teman sejawatnya.


"Tak ada barang yang hilang, kemungkinan ini murni pembunuhan, saksi mata sudah di amankan, ada di mobil bersama Tia, Jo." sahut Ridwan.


"Kondisi si anak gimana?" tanya Nathan.


"Syok pak, gak mau ngomong sama sekali, cuma mengangguk sama menggeleng," jawab Ridwan.


"Ada keluarganya yang bisa di hubungi?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Ada paman dan bibinya, sudah di hubungi dan sedang menuju kemari," sahut Ridwan.


"Hai, semua!"


Sarah datang menyapa Nathan dan semua yang di sana.


"Hai Sarah..." Jo menyapa kembali.


"Hai..." sapa Nathan dengan dingi pada Sarah.


"Hmmm... kejam banget ya, sadis pelakunya," ucap Sarah.


"Saya mau lihat anak korban yang selamat dulu, Jo kamu urus TKP sama Sarah ya," Nathan pamit keluar menuju anak korban tanpa peduli pada Sarah.


"Nathan kenapa sih, Jo?" tanya Sarah.


"Lah mana aku tahu, dia butuh kepastian kali dari kamu, makanya jawab dong tembakan dia," ucap Bejo.


"Siapa sih yang mau di tembak, nanti kalau aku mati gimana?"


Sarah tersenyum sambil mengamati luka korban.


"Hahaha, kalem-kalem kocak juga kamu!"


***


"Hai cantik, namanya siapa?" tanya Nathan pada anak perempuan berusia lima tahun itu.


"Namanya Thalia, dari tadi juga dia gak mau ngomong sama sekali pak," ucap Tia salah satu polisi wanita terbaik di regu Nathan.


"Oh gitu, udah makan belom?" tanya Nathan.


Thalia tak menjawab, dia hanya mendekap boneka susan di pelukannya.


"Untuk sementara dia sama siapa?" tanya Nathan.


"Dia mau gak ya ikut sama saya di tempat kos?" Tia memandang Thalia.


"Ya mau gak mau selama penyelidikan, atau nanti sama bibi dan pamannya yang akan segera datang, eh tapi sama kamu dulu deh biar lebih mudah di pantaunya," ucap Nathan.


"Siap Kapten!"


****************


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2