With Ghost

With Ghost
Chapter 48 - With Ghost


__ADS_3

Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊


*** Chapter 48 ***


"Non ada tamu," ucap Mbok Inem.


"Siapa mbok?"


"Ndak tau, cewek cantik buanget non," ucap Mbok Inem.


"Ya udah mbok, coba aku liat," Setta bergegas menuju pintu depan.


"Kak Sarah? hai tumben kesini, abang Nathan belum pulang," ucap Setta.


"Hai Setta, iya tadi udah telpon, bentar lagi Nathan pulang katanya, boleh masuk?" tanya Sarah.


"Boleh, silahkan..."


"Tadi itu siapa Ta?"


"Oh... mbok Inem, art baru di sini, sodara jauh kak Bejo katanya," jawab Setta.


"Ini aku bawain kamu brownies," Sarah menyerahkan sekotak brownies pada Setta.


"Makasih ya kak, duduk kak!"


"Iya makasih..."


Setta menuju dapur menemui mbok Inem yang sedang memasak Nasi untuk makan malam.


"Mbok tolong buatin minum ya sama potongan ini kue," ucap Setta.


"Oke non, eh non mau tanya pocong yang suka ngintip jendela dapur suka ganggu gak?"


"Oh mbok liat juga?"


Mbok Inem mengangguk.


"Dia mah ganggunya suka nongol tiba-tiba sih, kalau jahat mah enggak, aku gak tau tuh mbok kenapa dia masih suka gentayangan," ucap Setta lalu kembali menemani Sarah.


"Eh ada tamu, halo," Rania menyapa Sarah lalu duduk di sofa samping Sarah.


"Kamu temennya Setta?" tanya Sarah.


"Iya, bukan temen lagi, calon ipar malah," sahut Rania asal membuat Sarah tertawa.


"Sembarangan...!" Setta menoyor kepala Rania dari belakang.


"Wah parah nih Setta kepala aku tuh udah di fitrahin main toyor aja," Rania bersungut-sungut.


Mbok Inem datang meletakkan potongan brownies yang di bawah Sarah tadi dan tiga gelas jus jeruk ke atas meja.


Nathan datang bersama Tia memasuki rumah.


"Hai Sar, kamu udah sampe?" Nathan menyapa Sarah.


"Iya habisnya kerjaan aku udah kelar aku langsung kesini deh naik taxi," sahut Sarah.

__ADS_1


"Oh ya udah aku mandi dulu, nanti habis solat magrib ya kita perginya tanggung soalnya," ucap Nathan lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Eh kak Tia, sini minum nih baru aja di buat," ucap Setta.


Tia menghabiskan segelas jus tersebut dan meraih dua irisan kue brownies dari atas meja.


"Enak kan?" tanya Sarah.


"Enak, enak banget," Sahut Tia.


"Wah senangnya, itu kue buatanku lho," ucap Sarah bangga.


"Oh..."


tau gitu aku bilang rasanya biasa aja, ngapain tadi aku bilang enak huh...


Tia menelan sisa kue yang makin terasa berat di tenggorokan.


Ponsel Sarah berbunyi, dan mengharuskannya pergi ke luar untuk menjawab sambungan teleponnya.


"Emang siapanya bang Nathan sih? kok mau jalan bareng?" Rania menoleh pada Setta.


"Gebetannya, tau deh udah di tembak apa belom sama abang, apa jangan-jangan udah jadian ya," sahut Setta lalu mengunyah kue brownies ke dalam mulutnya.


"Beuh... saingan ku berat amat ya ckckkckc apalah arti aku di banding dia di mata nathan Ta hiks..." Rania memandangi Sarah.


"Wah... Cari yang seumur apa, jangan yang tua banget dari kamu, enggak pantas tau, Pak Nathan tuh pantesan sama aku daripada sama kamu," celetuk Tia.


"Wah ternyata kak Tia, modus juga sama abang Nathan," ucap Rania menunjuk Tia.


"Heh pada kenapa sih, ribut aja gak jelas!" sahut Setta.


"Jelas lah Ta, kita meributkan abang Nathan, kamu sebagai adik pilih siapa?" tanya Rania.


Tia juga menoleh pada Setta mengharap jawaban yang sama.


"Sarah mana Ta?" tanya Nathan dengan kemeja kotak berwarna merah hitam dan celana jeans biru dongker yang membuat Rania dan Tia menoleh untuk menyimak Nathan dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Aku di sini," sahut Sarah masuk ke dalam rumah.


"Aku mau solat magrib di masjid kamu ikut solat aja ya habis itu langsung jalan," ajak Nathan.


"Aku lagi halangan, nanti aku tunggu di mobil aja ya," ucap Sarah.


"Oh ya udah, Ta abang pergi dulu ya, Tia nanti aku suruh Bejo buat antar kamu pulang," ucap Nathan lalu keduanya pamit pada Setta, Rania dan Tia.


"Saya naik ojek aja pak," sahut Tia.


"Enggak lah, saya gak akan biarin kamu malam-malam gini ngojek, nanti tunggu aja Bejo, ini perintah ya!"


"Oke deh pak," Tia akhirnya menuruti.


Nathan masuk ke dalam mobilnya bersama Sarah, lalu keduanya melaju pergi.


"Berat banget saingan kita kak," ucap Rania di samping Tia yang memperhatikan Nathan dan Sarah dari balik Tirai.


"Iya berat, gimana kalau kita bersaing secara sehat, jika hubungan Sarah dan Nathan berakhir?" tanya Tia.

__ADS_1


"Ok deal, kalau perlu kita kerja sama buat bikin hubungan mereka berakhir hihihi," ucap Rania sambil tertawa jahat ala sinetron.


"Woi... ngintip aja! ayo solat magrib, nanti di intip balik sama pocong baru tau rasa!" Setta menepuk punggung keduanya.


Tia dan Rania saling bertatapan lalu memutuskan untuk menyusul Setta, keduanya bergidik ngeri membayangkan sosok pocong di jendela. Padahal memang sedari tadi Setta sudah melihat penampakan pocong itu di balik jendela luar memperhatikan Rania dan Tia.


***


Bejo datang ke rumah Setta untuk menjemput Tia. Dia membawa seutas tali barang bukti yang dia bawa diam-diam dari kantor kepolisian.


"Mau ngapain kamu bawa tuh tali?" tanya Tia.


"Aku mau suruh Setta lihat bayangan yang bisa ia dapet dari tali ini," ucap Bejo lirih.


"Ah gila kamu nanti kalau pak Nathan marah gimana?"


"Nathan juga kalau udah mentok ujung-ujungnya tanya Setta," sahut Bejo.


"Apaan tuh?" tanya Setta.


"Ular Ta, tali jemuran juga boleh," sahut Bejo sambil tertawa.


"Ih garing banget!" celetuk Rania yang memutuskan menginap di rumah Setta karena malas pulang jika orang tuanya tak ada di rumah.


"Ini barang bukti yang digunakan untuk Mirna bunuh diri, kakak cuma mau tau aja kok dia beneran bunuh diri apa di bunuh?" ucap Bejo meletakkan tali tersebut ke atas meja.


"Kok bukan abang Nathan yang nyuruh?" tanya Setta.


"Kelamaan, dia lagi konsentrasi buat deketin Sarah," sahut Bejo.


"APA...?!" Rania dan Tia berucap bersamaan.


"Kalian berdua kenapa sih? biasa aja kali...!" Bejo menyerahkan tali itu ke tangan Setta kali ini.


"Lihat Ta, buruan!"


Agak ragu Setta meraih tali tersebut, akan tetapi akhirnya ia terima juga tawaran dari Bejo. Sosok Mirna yang tergantung di pohon menyentak raga Setta dan melepaskan tali tersebut dari genggamannya.


"Ta, kamu enggak apa-apa?" Rania menyentuh bahu Setta.


"Huh... Aku coba lagi," Setta menghela nafas panjang meraih tali itu kembali.


********


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2