With Ghost

With Ghost
Chapter 80 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 80 ***


Nathan sampai di sebuah pabrik kosong. Gelap, sepi, dan sangat terlihat berantakan. Sosok wanita paruh baya menggunakan selendang hitam sebagai penutup kepala itu berdiri di balik mobil tua.


"Itu hantu apa bukan ya?" gumam Nathan.


"Halo bapak Nathan yang terhormat," sapa Madam Laura.


"Anda, anda Madam Laura? oh aku pikir hantu," ucap Nathan.


"Ini terimalah," ucap Madam Laura seraya menyerahkan amplop besar pada Nathan.


"Apa ini? kau ingin menjebak aku ya? tak akan bisa, aku tak akan kalah hanya dengan sejumlah uang ini," ucap Nathan penuh ketegasan.


"Aku tahu, polisi seperti mu tak akan mau mengambil uang haram itu secuil pun, jadi..."


BUG...!!!


Sebuah pukulan dengan potongan kayu besar mendarat di punggung Nathan dan membuatnya tersungkur ke tanah. Nathan tak sadarkan diri kemudian.


"Jadi bagaimana sekarang pak Wira?" tanya Madam Laura pada seseorang yang memukul Nathan barusan.


"Foto-foto pertemuan kalian ini akan aku sebarkan, dan ku pastikan pria ini mendekam di penjara," ucap Wira.


"Lalu, aku bertahan di sini atau pergi?" tanya Madam Laura.


"Menurut pak walikota sebaiknya anda pergi, pergi seperti ini..."


Dor...!!!


Peluru yang ditembakkan oleh Wira itu tepat melesat ke dahi milik Madam Laura dan menewaskannya.

__ADS_1


"Ini yang di inginkan pak walikota, bukan hanya menjebak Nathan, tapi ia juga ingin menjebak mu seperti ini, aku tak menyangka kau juga bisa di bodohi Madam," gumam Wira lalu melangkah masuk ke dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir di halaman pabrik tua itu. Wira melajukan mobilnya menjauhi area pabrik.


***


Di dalam mobil Gibran, Setta berusaha untuk membaca arah gps mobil Nathan.


"Duh sinyalnya jangan lemah dong, ku mohon bantu aku..." ucap Setta dengan wajah penuh kecemasan.


"Sekarang kemana Ta" tanya Gibran.


"Sinyalnya kak ngajak ribut, gimana ini, timbul tenggelam seperti ini soalnya," jawab Setta.


"Coba lihat, itu sih sepertinya ke kiri ya, Ta?" ucap Gibran.


"Kak Gibran awas...!!!" Setta berteriak saat Gibran menabrak seorang perempuan bergaun merah di hadapannya tadi.


"Apa tuh Ta barusan?" tanya Gibran yang menepikan mobilnya. Pria itu menoleh ke belakang, tak ada apapun di sana.


"Kak..." Setta menepuk tangan Gibran dan menunjuk ke hadapan mobilnya.


"Hantu apa manusia ya, Ta?" tanya Gibran.


"Kalau jam segini ada manusia yang nongol di jalanan sepi gini sih, aku gak yakin kak," sahut Setta.


"Fix hantu kak, tuh kakinya gak napak," tunjuk Setta.


"Hmmm... baca ayat kursi Ta, biar hilang gak ngikutin kita lagi," Gibran memerintahkan Setta. Keduanya kini melantunkan ayat kursi bersamaan. Hantu perempuan itu lalu menghilang.


Gibran kembali melajukan mobilnya, mengikuti arah gps pada mobil Nathan. Setengah jam kemudian mereka sampai di area pabrik kosong yang sudah lama terbengkalai itu.


Turun dari mobil membuat Setta makin bergidik ngeri. Ditambah dinginnya malam yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Setta langsung mendekatkan diri memegangi lengan Gibran karena banyak penampakan kuntilanak yang duduk di atas gedung pabrik itu. Ada juga kuntilanak yang bertengger di atas pohon pisang. Sosok genderuwo besar juga tampak berdiri di pohon kelapa di belakang pabrik.

__ADS_1


Sosok hantu anak kecil yang kepalanya hampir putus menarik ujung jaket Setta. Saat Setta menoleh, hantu anak kecil itu memberikan senyumnya yang mengerikan. Gigi tajamnya yang berderet seperti gigi ikan hiu itu tersenyum menyeringai ke arah Setta.


"Astagfirullahalazim..." Setta langsung menyembunyikan wajahnya di lengan Gibran.


"Permisi ya dek, kita gak ganggu, jadi jangan ganggu," ucap Gibran yang menoleh ke sosok hantu anak kecil tersebut.


"Udah hilang Ta, udah enggak ada," ucap Gibran menepuk punggung tangan Setta.


"Dia emang udah pergi kak, tapi yang lainnya gimana tuh, mana banyak banget lagi penampakannya." .


"Ya namanya gedung tua, udah gak terpakai lagi, ya wajarlah banyak hantu yang seneng kumpul di sini, mungkin udah seperti rusun atau apartemen lah buat mereka, tuh dari yang badannya utuh sampai gak utuh juga ada Ta," ucap Gibran berusaha menenangkan Setta tapi makin memperjelas dengan penampakan yang ia lihat dengan tenang begitu saja.


"Kakak mah ih, makin nakutin aja!" Setta mencubit tangan Gibran.


"Ih beneran gak nakutin, cuma menjelaskan. Kemana ya si Nathan? coba ditelepon ya Ta," Gibran mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Nathan.


Suara dering ponsel Nathan berbunyi terdengar sayup-sayup dan membuat Setta makin menyimak dengan seksama dari mana datangnya suara ponsel Nathan itu.


"Di sana, Ta!" Gibran menunjuk ke arah timur di bagian gedung pabrik tua tersebut.


Tak lama kemudian, Setta menemukan tubuh Nathan yang terbaring tak sadarkan diri di tanah. Setta mengguncang tubuh Nathan agar terbangun dari pingsannya. Sementara itu, Gibran menemukan mayat Madam Laura yang tertembak di dahi. Ia menyentuh tubuh Madam Laura. Gibran mendapati bayangan samar-samar si pembunuh wanita itu.


*******


To be continue alias bersambung...


Jangan lupa siapkan amunisi poin untuk Vote terutama ke Pocong Tampan hehehe...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2