
*** Chapter 60 ***
"Mas, kamu kapan sih mau bawa ibu kamu ke panti jompo?" tanya Fira.
"Aku gak nyangka ya sama pemikiran kamu," sahut sang suami yang baru datang malam itu.
"Tapi emang ibu kamu nyusahin, aku tuh nikah sama kamu buat seneng-seneng, bukannya ngurusin ibu kamu yang udah jompo itu di tambah anak kamu si Yana, ih capek banget aku!" Fira menggerutu meluapkan kekesalannya.
" Aku gak akan pernah terima usulan kamu ya," ucapnya.
"Tapi aku mau kerja mas, temanku memberikan ku tawaran bekerja sebagai suster," ucap Fira.
"Gak, aku gak ijinin kamu bekerja, kamu tetap harus di rumah, kamu tetap harus urus ibu dan anakku. Oh iya besok aku mau ke luar kota selama satu minggu, aku titip ibu sama Yana ya," pinta pria bernama Budi itu.
Fira mengangguk terpaksa tapi wajahnya terlihat sangat kesal. Budi pergi menuju kamar ibundanya sambil memijat kaki ibunya.
"Budi mau pamit ya bu, besok Budi mau ke luar kota, oh iya rumah ibu ini sudah saya wasiatkan ke Yana," ucap Budi.
"Bagaimana dengan istrimu, dia pasti sangat menuntut hak atas rumah ini?" ucap nek Ida.
"Tapi ini rumah Ibu, dia gak berhak bu, dia cuma berhak sama harta dari saya bukan harta dari ibu," ucapnya.
Fira yang menguping pembicaraan Budi dan ibunya sangat geram dan naik pitam. Ia potong kabel rem di mobil Budi. Wanita itu melakukan sabotase atas mobil suaminya.
Yana melihat semuanya dan berniat memberitahukan kepada ayahnya tapi Fira menahannya. Ia ancam Yana dengan dalih mengorbankan keselamatan sang nenek.
Keesokan harinya Budi berangkat ke luar kota dengan kondisi mobilnya yang tak bisa mengerem dengan sempurna nantinya alias rem mobilnya blong.
Fira juga meracuni nenek Ida sampai tewas seketika. Lalu ia jual Yana pada mucikari yang sudah ia hubungi. Semua dia lakukan hanya demi harta. Satu dayung, dua tiga pulau terlampaui, menurut Fira.
Suaminya tewas karena kecelakaan, ibu mertuanya juga tewas ia racuni, serta anak tirinya ia jual ke wanita mucikari. Dirinya kini berpuas diri dengan harta yang ia dapat. Rumah suaminya itu pun dia jual lalu pindah dan bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Kota.
__ADS_1
***
"Bantu aku temukan Yana...!!!" Nenek Ida berkata lirih pada Setta lalu pergi menghilang.
Setta tersentak dan terbangun di atas ranjangnya. Nafasnya terasa sesak dan asmanya kambuh seketika. Nathan dan Tia terbangun, mereka langsung menghampiri Setta.
"Panggil suster Pak, aku bantu Setta pakai selang oksigen," ucap Tia.
Nathan segera menghampiri suster. Tak berapa lama suster Fira datang membantu Setta memberikan suntikan adrenal pada selang infusnya. Setta meraih tangan suster Fira, mencengkeramnya dengan erat. Baru kali ini Setta benar-benar berani meluapkan kemarahannya.
"Suster... dimana Yana?" ucap Setta nafasnya masih terasa sesak belum lega.
"Sa-saya tak mengerti dengan ucapan kamu," Suster Fira mencoba menepis tangan Setta tapi tak bisa.
"Suster tolong, dimana Yana sekarang?" ucap Setta.
"Maaf, saya gak ngerti dengan arah pembicaraan kamu, sudah kamu istirahat saja ya!" Suster Fira langsung pergi meninggalkan Setta.
"Kamu ngomong apa si dek?" tanya Nathan.
Setta menceritakan penglihatannya pada Nathan dan Tia. Gadis itu menceritakan jahatnya perlakuan suster Fira pada suaminya. Suster Fira juga membunuh ibu mertuanya dan menjual anak tirinya. Kini sang nenek selalu mengikuti suster Fira karena menuntut kejelasan yang ingin ia ketahui mengenai cucunya Yana.
"Abang harus bantu aku untuk menemukan Yana," pinta Setta.
"Tapi abang juga gak tau dimana cari Yana," sahut Nathan.
"Lagipula Ta, masa iya kita mau nuduh suster Fira sembarangan tanpa bukti, masa kita bilang kalau kita dapat aduan dari hantu, kan gak logis," ucap Tia.
"Tapi kasian kak, kasian Yana, dia pasti ketakutan di jual begitu, gimana kalau dia dijadikan perempuan pekerja se*s komersil atau di jual organ tubuhnya dan sekarang mati terbengkalai?" Setta terlihat cemas memikirkan Yana.
"Iya nanti abang cari tau, sekarang kamu istirahat ya, harusnya sudah pulih dan besok pulang, ini malah sesek lagi," ucap Nathan lalu kembali duduk di sofa dan merebahkan bokongnya di sana dan tertidur pulas.
__ADS_1
Tia menyelimuti Setta, "Dah sekarang kamu tidur istirahat!" ucap Tia.
Tia lalu kembali terbaring di sofa, tanpa sadar dia membaringkan kepalanya di atas paha Nathan.
"Ih si bapak ngagetin aja kirain bantal," ucap Tia.
Nathan tak menyahut, dirinya sudah terlelap karena terlalu lelah dan berat kelopak matanya untuk tetap terjaga. Kali ini tanpa sungkan Tia membaringkan kembali kepalanya di atas paha Nathan.
"Kapan lagi ngerasain tidur di paha kenceng kayak gini hihihi," gumam Tia.
Tia mencoba memejamkan kedua matanya tapi entah kenapa sangat terasa sulit.
Deg...
Kedua matanya tiba-tiba melihat sosok perempuan berdaster lusuh dan berambut panjang awut-awutan di jendela kamar yang tirainya tersingkap. Tia makin mendekat kaki Nathan dan menutupi wajahnya dengan topi milik Nathan yang berada di atas meja.
"Aku aja yang lihat sekali sampai syok kayak gini, gimana Setta yang tiap hari tiap saat liat hiiiyyy..."
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1