With Ghost

With Ghost
Chapter 93 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 93 ***


Nathan berhasil meminta ijin Kapten Ghani untuk menghadiri pemakaman Bejo sahabatnya itu.


Tangisan duka datang silih berganti dari para kerabat dan sahabat yang datang ke pemakaman Bejo.


"Aku gak tahu lagi bagaimana aku bisa menjalankan tugas tanpa kamu Jo," ucap Nathan dengan suara lirih.


"Kamu yang sabar ya, ini sudah takdir Bejo sampai di garis akhir kehidupannya," ucap Sarah sembari mengusap lengan kekar milik Nathan.


"Aku masih gak nyangka, Sar."


Setta ikut memeluk lengan milik Nathan di sisi satunya. Gadis itu masih terisak. Di sampingnya berdiri Tia dan Rania yang juga menangis.


Tiga puluh menit kemudian, prosesi pemakaman pun berakhir. Gibran menepuk punggung Nathan sebelum pria itu masuk kembali ke mobil tahanan.


"Keluarga Jin sudah memberi laporan di kepolisian atas kehilangan anaknya," ucap Gibran.


"Lalu gimana perkembangannya, kamu benar-benar gak ada bayangan atau penglihatan gitu buat menemukan Jin?" Tanya Nathan.


Gibran menggeleng, lalu ia menceritakan kejadian semalam saat dua pria misterius itu mencari keberadaan Rania di area kosnya.


"Hmmm mereka sudah sampai di sana ya, cepat sekali. Berati semua yang berhubungan dengan Setta dan Rania mereka semua sudah tau. Kini kau dan Tia juga bisa menjadi incaran mereka."


"Lalu gimana, Tan?"


Tasya Gibran dengan raut wajah yang sudah panik. Pikirannya buntu tak tau pagi harus berpikir bagaimana melindungi Rania dan Setta.


"Maaf kalau aku gak sengaja mendengar pembicaraan kalian, bagaimana kalau para gadis itu bersembunyi di rumahku?"


Sarah hadir di antara Gibran dan Nathan memberikan sebuah ide.


"Ide bagus tuh, aku jadi lebih tenang kalau adikku sama kamu," sahut Nathan


"Ummm bagaimana ya?"


Gibran menggumam.


"Tia boleh ikut, Sar?"


Tanya Nathan menoleh pada Sarah.


"Kamu tuh ya, perhatian banget sama Tia, aku jadi cemburu nih."

__ADS_1


Sarah melirik ke arah Nathan.


"Hmmm kalau urusan kayak gini aku gak ikutan ya. Aku bilang sama Rania dan Setta buat pindah ke rumah Sarah."


Gibran beranjak pergi dari hadapan Nathan dan Sarah.


"Aku kan cuma mau Tia jagain adik aku, kok kamu bilangnya cemburu sih?" Nathan merangkul bahu Sarah lalu memberi kecupan di kepala wanitanya.


"Ya habisnya gimana ya, kamu pacar aku tapi sering banget bahas tentang Tia. Ya udah lah gak usah di bahas lagi, pokoknya kamu tenang aja, aku akan jagain Setta." Sarah memeluk pinggang Nathan.


Tia sempat melirik ke arah Nathan dan Sarah, namun hatinya masih sedih, dia belum bisa menerima kepergian Bejo. Tia tak peduli dengan kemesraan Nathan dan Sarah tersebut. Perempuan berkaus hitam dengan jaket polisi itu langsung masuk ke dalam mobilnya.


Gibran menceritakan perihal kepindahan Rania dan Setta ke rumah Sarah.


"Kita pindah lagi?" Tanya Rania.


"Mau gimana lagi Ran, ini demi kebaikan kalian," ucap Gibran.


Rania menghela nafas panjang sebelum ia memutuskan masuk ke dalam mobil bersama Tia.


Tiba-tiba saat Setta hendak menyusul Rania masuk ke dalam mobil, matanya menangkap sesuatu. Sebuah bayangan hitam terlihat di balik pohon asem yang besar di area pemakaman.


"Kamu lihat apa yang aku lihat kan?" Tanya Gibran dengan suara hampir berbisik di dekat telinga Setta.


"Kita ikuti dia, Ta." Ajak Gibran menuju pohon asem besar tersebut. Setta mengikuti langkah kaki pria tersebut.


Bejo yang tanpa suara, hanya memandang ke atau Gibran dan Setta datar dengan wajah pucatnya.


"Kak Jo..." Setta mencoba memanggil Bejo.


Bejo hanya tersenyum lalu menunjuk ke arahnya.


"Kakak mau menyampaikan sesuatu ya?" Tanya Setta pada sosok hantu Bejo itu.


"Jo, kenapa masih di sini?" Tanya Gibran.


Bejo lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menghilang ke belakang pohon asem tersebut.


"Kak Jo...!!!"


Gibran menarik lengan Setta untuk menghentikan panggilannya.


"Mereka akan bilang kita gila atau gak normal kalau teriakin nama Bejo, Ta."

__ADS_1


Gibran mencegah tindakan Setta.


"Tapi kak..."


Gibran menggelengkan kepalanya saat Setta menoleh ke arahnya. Mereka akhirnya kembali ke dalam mobil.


***


"Selamat datang di rumahku," ucap Sarah menyambut Rania dan Setta masuk ke dalam rumahnya.


Tia dan Gibran mengikuti di belakangnya.


"Maaf ya rumahnya kecil cuma ada dua kamar, maklum rumah dinas."


Sarah tersenyum seraya menunjukkan bagian rumahnya. Rania dan Setta hanya menjawab dengan senyuman mengikutinya berkeliling dalam rumah dinas milik Sarah tersebut.


"Nah ini kamarnya kosong, karena aku tidur di kamar satunya. Kalian pakai kasur lipat aja enggak apa-apa kan?"


Sarah menoleh pada Rania dan Setta.


"Enggak apa-apa kok kak, ini aja kamarnya luas banget gak sumpek kayak di tempat kak Gibran." Rania menoleh ke arah Gibran sambip tertawa kecil.


"Jangan di samakan dong kamar ini sama kamar kos aku," ucap Gibran.


"Oke, silahkan ya kalian merapihkan kamarnya sendiri, maklum saya gak pakai jasa pembantu. Saya kebelakang dulu ya mau buatkan kalian minum."


Sarah melangkah menuju dapurnya meninggalkan Setta dan lainnya.


"Hmmm mau sampai kapan kita seperti ini?" Keluh Rania.


"Kita berdoa aja sama Allah, karena cuma Allah yang bisa bantu kita," Setta merangkul bahu sahabatnya itu.


*****


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


__ADS_2