
*** Chapter 65 ***
Tia dikenal sebagai gadis yang tomboi saat sekolah di akademi polisi. Ia lebih nyaman bermain dengan murid laki-laki di bandingkan dengan murid perempuan angkatannya. Rambutnya yang cepak seperti pria menambah kemachoan di dalam dirinya. Bahkan Tia juga di gosipkan penyuka sesama jenis, padahal dari awal masuk akademi, Tia sudah menyukai Nathan dari awal bertemu.
"Oke, ayo kita taruhan, menurut kalian ya siapa yang jadi tersangka di kasus ini, Pak Cahyo, Sari atau malah Ibu Ratna?" tanya Bejo saat simulasi menangkap penjahat di akademi.
"Hmmm... aku rasa Pak Cahyo," sahut Tia yang kebetulan satu tim dengan Nathan dan Bejo.
"Masalahnya si Sari ini juga bisa jadi tersangka," ucap Nathan menimpali.
Akhirnya jawaban tim mereka salah, karena jawaban sebenarnya adalah ibu Ratna. Tim Nathan di cemooh habis-habisan oleh tim lawan yang menjawab benar.
"Eh Tan, kalian kan kalah nih, jadi kalian harus ikuti kemauan aku," ucap Sandi merangkul Nathan.
"Hmmm cepetan apa yang harus aku lakuin?" tanya Nathan.
"Kamu cium tuh si Bejo," Sandi menunjuk Bejo.
"Gila aja kamu!" Nathan menepis rangkulan tangan Sandi.
"Eh Sandi, aku udah nyuruh Tia cium Nathan, buat buktiin kalau dia bukan lesbi," ucap Fika teman satu tim Sandi.
"Ide bagus, coba panggil Tia!"
Fika membawa Tia dan menariknya ke hadapan Sandi dan Nathan.
"Ayo Tia, lakukan sekarang!"
"Ini taruhan macam apa sih? gak asik banget isengnya kalian," Bejo mencoba menyela.
Tia menghela nafas panjang lalu menaikkan tubuhnya dengan berjinjit agar setara dengan Nathan. Harusnya Nathan bisa saja mundur sesuai kemauannya tapi raganya tak mau mengikuti arahan pikirannya.
"Ini yang pertama buat aku," gumam Tia lalu mencium bibir Nathan tanpa berani menatap matanya.
Sorakan dan tepukan datang dari Sandi, Fika dan rekannya yang lain. Sementara Bejo malah melongo menatap Nathan dan Tia.
***
__ADS_1
"Astaga... bisa gak pak, gak usah bahas itu, saya kan jadi mau... eh malu aduh saya mau ke kamar nyusul Setta," ucap Tia mencoba pergi dari hadapan Nathan tapi tak bisa.
Nathan masih menatap Tia dengan senyum mautnya.
"Hayo... kata nenek dua-duaan begitu nanti yang ketiganya pocong lho," celetuk Setta mengintip dari balik pintu mengejutkan Nathan dan Tia yang langsung salah tingkah.
"Kamu dong pocongnya!" sahut Nathan.
"Emang dari tadi ada kok, tuh lagi ngeliatin di samping Kak Tia, om pocongnya," Setta menunjuk ke arah samping Tia.
"Ah Setta mah nakutin aja nih!" Tia langsung menarik Setta menuju kamarnya.
***
Sampai di sekolah Lentera pagi itu, kaki Setta merasa berat melangkah. Langkahnya gontai saat memasuki gerbang sekolah.
"Pagi... aku kangen banget sama sahabat tersayangku yang satu ini," Rania langsung merangkul Setta.
"Aku juga..." ucap Setta.
"Aku juga kangen..." Jin langsung menghentakkan kakinya melompat ke hadapan Setta.
"Duh makin gak suka aja aku nih lihat Ratu dan kawanannya ngeliatin kita gitu," ucap Rania pelan sambil melirik Ratu di lantai dua gedung sekolah di hadapan mereka.
Setta menatap ke arah Ratu yang menatapnya dengan tajam. Masih terbayang malam itu saat dirinya hampir mati karena ulah Ratu dan Santi. Ingin rasanya melaporkan kejadian itu, akan tetapi dia tak punya cukup bukti karena pasti pihak sekolah tetap akan membela Ratu dan tak akan percaya kepadanya.
"Ta... jangan bengong! atau kamu lihat penampakan si Rosi yak?" ucap Jin lirih.
"Hantu Rosi? memangnya kakak bisa lihat juga?" tanya Setta.
"Aku sama Rania lihat, sekilas sih enggak lama," ucap Jin.
Bel tanda masuk sekolah berbunyi, Rania segera menarik lengan Setta menuju kelasnya.
***
Saat jam istirahat, Ratu menahan Setta yang sedang berada di kamar mandi saat itu.
__ADS_1
"Hai adik kelas tersayang, kamu udah sembuh?" tanya Ratu dengan nada menyebalkan.
"Sudah kak, maaf saya mau keluar," langkah Setta tetap tertahan oleh kaki Sinta yang.
"Hmm... kenapa buru-buru? kamu takut ya sama kita hihihi," tawa cekikikan Ratu terdengar menyeramkan lebih seram ketimbang suara cekikikan kuntilanak yang pernah Setta dengar.
"Jangan belagu deh, kalau di ajak ngomong tuh jawab!" Sinta menggebrak pintu toilet di sampingnya.
"Saya cuma mau balik ke kelas kak," pinta Setta.
"Heh asal kamu tahu ya, kalau sampai kamu mengadu sama kepala sekolah soal kejadian waktu itu, lihat aja bukan cuma kamu yang bakal sengsara tapi teman kamu yang nyebelin itu juga bakal kena!" Ratu mengancam Setta.
"Rania gak salah apa-apa kak, jadi aku mohon jangan bawa-bawa dia," ucap Setta.
"Heh! berani banget kamu jawab ngatur-ngatur kaya gitu, pokoknya awas kalau kamu ngadu!" Santi menimpali dengan ancaman.
Brak...!!!
Pintu toilet yang terletak di ujung, tiba-tiba terbanting begitu saja mengejutkan tiga anak gadis di dalam toilet tersebut. Hantu Rosi keluar dari sana dengan wajah menyeramkan. Darah masih mengalir dari kepalanya yang terbentur aspal lapangan sekolah membasahi seragam putihnya. Setta mundur beberapa langkah menghindari.
Sementara Ratu dan Santi yang tak dapat melihat hantu Rosi hanya saling tatap.
"Suara apa tuh, Sin? coba kamu cek ada siapa di dalam sana!" Ratu memberi perintah pada Sinta.
"Aku takut, Tu," ucap Santi.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘