With Ghost

With Ghost
Chapter 87 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 87 ***


Nathan dikejutkan oleh kematian Anto, kawan sekamarnya akibat keracunan. Tak lama kemudian kepala polisi mendatangi Nathan untuk menanyakan perihal kejadian yang menimpa Anto dan dirinya di dalam sel tahanannya.


Nathan kini berada di ruangan kepala penjara bersama Kapten Ghani.


"Apa ini percobaan pembunuhan terhadap saya pak?" tanya Nathan pada Kapten Ghani.


"Ada kemungkinan seperti itu, saya akan pastikan Ridwan menyelidikinya dengan baik."


"Ridwan? memangnya Bejo kemana, pak?" tanya Nathan.


"Saya ada kabar buruk tentang Bejo."


"Ada apa dengan Bejo, pak?" tanya Nathan dengan nada cemas kali ini.


"Rekanmu hari ini ditemukan terluka di sebuah rumah kosong, yang ku dengar Bejo kritis, Tan."


Kapten Ghani kini berpindah duduk dari atas meja menuju sofa dan duduk di samping Nathan.


"Apa saya boleh menjenguknya pak?" pinta Nathan.


"Sebenarnya ini tidak boleh, tapi baiklah Ridwan akan mengantarmu menjenguk Bejo di rumah sakit kota," ucap Kapten Ghani.


"Terima kasih kapten," sahut Nathan.


***


"Akhirnya kita lulus juga," Jin menepuk bahu Aryo sambil berjingkrak-jingkrak dengan senangnya.


"Emang kita sudah pasti lulus, Jin? kan kita belum tau nilai kita layak atau enggak untuk lulus."


Aryo mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ketakutan melandanya kala ia mengingat bagaimana ia kesulitan mengisi jawaban soal ulangan terakhirnya di sekolah tersebut.


"Sudahlah Yo, yakin aja kalau kita bakalan lulus bareng-bareng." ucap Jin berusaha membuat Aryo bangkit lagi.


"Jin, itu siapa ya? kok kayaknya lagi ngeliatin kita gitu tuh dua orang," ucap Aryo menunjuk ke arah dua orang misterius itu dengan lirikannya.

__ADS_1


"Yo, mending kita ngumpet deh, aku takut itu suruhan papinya Rania buat cari si Rania sama Setta, bisa gawat nih." ucap Jin lalu bergegas menuju ke dalam sekolah kembali.


Jin dan Aryo menuju kebun belakang, ke arah rumah penjaga sekolah. Di sana terdapat jalan pintas menuju sebuah kampung di belakang sekolah mereka.


"Yakin nih mereka gak akan ikuti kita sampai sini?" ucap Aryo sambil melangkah cepat di samping Jin.


"Mudah-mudahan aja sih enggak," sahut Jin.


Keduanya bergegas menuju jalan raya mencari angkutan umum menuju rumah Aryo. Jin terpaksa meninggalkan motor kesayangannya di parkiran dalam sekolah.


Sayangnya usaha mereka sia-sia. Saat berada dalam angkutan umum berwarna merah hijau itu, sosok Jin terlihat oleh dua pengendara misterius tadi. Mereka langsung menghadang angkutan umum yang di taiki Jin dan Aryo.


"Turun kalian berdua!" perintah pria yang berambut gondrong dan di kuncir tersebut sembari menunjuk ke arah Jin dan Aryo.


"Gimana nih, Jin?" bisik Aryo.


"Aku turun duluan ya, aku hadang dia terus kamu lari, kamu lari yang kenceng minta tolong warga kalau perlu," bisik Jin.


"Tapi, Jin..."


"Woi buruan...!!!" teriak pria gondrong tersebut.


"Iya bang, sabar." Jin beranjak dari kursinya.


Setelah keduanya turun dari mobil, Jin mendorong pria gondrong tersebut.


"LARI YO...!!!" Jin berteriak pada Aryo yang langsung berlari. Sempat ia menoleh ke arah Jin yang berusaha menghadang kedua pria tersebut dan menjatuhkan motor yang hendak di kendarai pria satunya.


Lari semakin jauh adalah pilihan yang tepat bagi Aryo. Meski harus meninggalkan sahabatnya tersebut dalam kesulitan, tapi pilihan berat ini harus ia lakukan. Dia harus bergegas menuju rumahnya.


***


Nathan tiba di rumah sakit kota menjenguk Bejo yang masih terbaring. Dokter bilang sahabatnya tersebut masih dalam masa kritis pasca operasi. Hanya takdir Tuhan dan kemauan Bejo yang masih berusaha bertahan atau menyerah.


Nathan memasuki ruang ICU tersebut dengan pakaian pengaman bagi para penjenguk pasien.


"Jo, ini aku Nathan," ucap Nathan menyentuh punggung tangan Bejo yang masih terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


Pastinya tak ada jawaban dari pria yang terbaring dengan kondisi kritis tersebut. Hanya suara denyut jantung dari sebuah mesin yang terpasang di samping ranjang milik Bejo.


"Aku mohon, bertahanlah Jo, aku yakin kamu pasti bisa bertahan..." ucap Nathan.


Ada pergerakan jari tangan milik Bejo yang terasa di telapak tangan Nathan.


"Jo, kamu sadar kan?" Tanya mencoba meyakinkan dirinya kalau tangan Jo barusan bergerak.


Sarah datang mengetuk jendela kamar ICU tempat Bejo di rawat.


Saat Nathan keluar dari ruang perawatan Bejo, Sarah langsung memeluknya sambil menangis.


"Aku dengar ada yang mau meracuni kamu ya?" tanya Sarah sambil memeluk Nathan makin erat.


"Ya, tapi aku enggak apa-apa kok. Aku malah takut terjadi sesuatu pada Bejo," ucap Nathan seraya melihat ke arah Bejo dari balik jendela tersebut.


"Terus gimana keadaan Setta, dimana dia, Tan?" tanya Sarah.


"Dia aman kok, aku suruh Bejo sembunyikan Setta dan kawannya Rania. Mereka harus lari dari kejaran pak Walikota busuk itu," ucap Nathan.


"Syukurlah kalau mereka aman, siapa yang jagain Setta sekarang?" tanya Sarah lagi.


"Ada Tia, dia yang jagain Setta."


"Hmm... baguslah meski aku iri saat tahu Tia selaku ada buat jagain Setta." ucap Sarah sambil menyela air matanya dan tersenyum manis pada Nathan.


*****


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


__ADS_2