With Ghost

With Ghost
Chapter 95 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 95 ***


Terjadi kebakaran hebat di rumah tahanan. Kebakaran yang di duga ada unsur kesengajaan mampu membuat para penjaga kocar-kacir di buatnya. Para tahanan mengambil alih senjata para penjaga dan membuat mereka terdesak.


Kepala penjaga hampir saja tewas tertembak oleh anak buah Budi jika saja Nathan tak melintas di sana.


"Terima kasih pak Nathan." ucap kepala penjaga tahanan.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Nathan bersiap melawan para tahanan nakal yang mencoba kabur.


Kepala tahanan itu memberikan satu senjata api pada Nathan.


"Bersiaplah...!"


Suara tembakan demi tembakan datang silih berganti antara para tahanan dan para penjaga di sana. Nathan berjuang menghindari peluru yang siap menghujani tubuhnya.


Tujuannya hanya pak Budi. Namun, sayangnya Nathan kehilangan jejaknya sehingga pria tua itu berhasil kabur.


Selang beberapa waktu kemudian bantuan pasukan polisi datang ke rumah tahanan yang terbakar tersebut. Para tahanan berhasil di bekuk dan si kumpulkan dalam sebuah ruangan. Akan tetapi kepala penjaga mempertahankan Nathan tetap berada di posisinya saat Kapten Ghani datang ke lokasi kejadian.


"Dia tidak pantas di perlakukan seperti tahanan lainnya," ucap kepala penjaga pada Kapten Ghani.


"Baiklah, kau data semua tahanan yang berhasil kabur, dan Nathan kau ikut denganku!" Pinta Kapten Ghani.


Nathan mengikuti kepala polisi tersebut sampai ke sebuah ruang kerja yang tertata dengan rapihnya.


"Kita lihat cctv semalam," ucap Kapten Ghani mengamati rekaman cctv dari sebuah laptop di hadapannya.


"Hmmm benar dugaanku."


Kapten Ghani membuka topi kebesarannya dan meletakkannya di meja.


"Ada apa kapten?" Nathan mendekat melihat ke arah laptop.


"Kau lupa ya dengannya? dia yang membunuh walikota Husein, kau dan Bejo kan yang menangkapnya saat menjadi anak buahku dulu," ucap pria berkumis itu.


"Terlalu banyak penjahat yang aku tangkap sampai aku lupa dengannya. Dan sekarang dia yang merencanakan kebakaran ini agar dapat keluar dari penjara. Tetapi, setauku bukankah dulu dia selalu bersikeras tidak mau mengaku sebagai pembunuh walikota Husein, dia selalu menyalahkan Pak Sahrudin."


"Hmmm entahlah hukum tetap di proses sesuai bukti-bukti. Seperti padamu, meskipun aku percaya kau tak membunuh Madam Laura, tapi semua bukti mengarah kepadamu."


Kapten Ghani menepuk bahu Nathan.

__ADS_1


"Dan kau pasti tau siapa yang sekarang dia kejar?"


"Dia menginginkan pak walikota," sahut Nathan.


Kapten Ghani memberikan Nathan lencana polisinya dari saku celana lalu meletakkan senjata apinya di atas meja.


"Jika kau bisa menangkap Budi kembali, ku kembalikan jabatanmu," ucap Kapten Ghani.


"Tapi kapten..."


"Aku juga masih punya wewenang, warga kota tau apa tentang konspirasi penguasa." Kapten Ghani mengedipkan satu matanya pada Nathan.


"Baik kapten, saya akan segera menangkap Budi."


Nathan memberi hormat pada Kapten Ghani.


"Hubungi aku jika kau sudah mendapatkannya." Pria paruh baya itu berlalu meninggalkan Nathan.


Kepala penjaga rumah tahanan yang melihat percakapan Nathan dan Kapten Ghani memberi hormat pada Nathan.


"Buat kami bangga, pak!"


Nathan tersenyum dan memberi hormat kembali pada kepala penjaga rumah tahanan tersebut.


***


Tia masih mencoba berpikir di mana ia pernah bertemu laki-laki pada foto di rumah Sarah. Namun, fokusnya terhenti karena suara ketukan pintu dari luar.


"Tolong buka pintunya, Tia." Sarah berteriak dari dapur rumahnya.


"Oke."


Tia mengintip dari balik tirai terlebih dahulu sebelum membukanya. Wajah pria itu tampak tak asing.


"Bukankah itu ajudan pak walikota?" Gumam Tia sempat menghentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu rumah tersebut.


"Siapa tamunya?" Sarah mengejutkan Tia.


"Kamu kenal sama ajudan pak Walikota Sahrudin?" Tanya Tia.


"Oh pak Wira? tentu saja aku kenal." Ucap Sarah memberikan senyuman yang mengandung banyak arti bagi Tia.

__ADS_1


Tia mundur beberapa langkah saat wanita di hadapannya itu membuka pintu rumahnya. Sosok laki-laki yang bernama Wira itu tersenyum di hadapan Sarah seraya merentangkan kedua tangannya.


"Hai sayang..." Ucap Sarah lalu seraya memeluk tubuh pria di hadapannya itu.


"Sa-sa-sayang...?" Tia mundur beberapa langkah. Hatinya mendadak ragu akan kebaikan Sarah. Wajah gadis itu berubah menjadi panik seiring kecemasan yang melanda.


"Iya dia sayangku, suamiku."


Sarah mendapat kecupan di kepalanya dari Wira.


"Suamimu? bagaimana bisa kau memiliki suami, padahal kau berpacaran dengan Nathan?" Tia menuding Sarah.


***


Rania terbangun dari tidurnya di samping Setta. Tenggorokannya tercekat, dia butuh air untuk melegakan rasa hausnya.


Rania melihat sosok bayangan hitam berlari di luar kamar para gadis tersebut dari tirai jendela kamar tersebut. Bulu kuduknya mulai meremang, ketakutan menghinggapinya. Gadis itu mengguncang tubuh Setta yang terbaring pulas.


"Apaan sih Ran, aku masih ngantuk nih..." Keluh gadis di samping Rania itu.


"Ta, ada hantu, barusan aku lihat."


"Udah sih biarin aja, kalau kamu gak ganggu, tuh hantu juga gak akan ganggu." Setta masih memejamkan kedua matanya yang enggan terbuka rasa kantuk benar-benar tak bisa ia kalahkan.


"Tapi kemunculan hantu itu menggangguku, ayo dong anterin aku..." Pinta Rania.


"Minta anter kak Tia aja kan dia ada di luar." Setta meregangkan tubuhnya dan lanjut terlelap kembali.


"Oh iya bener."


Rania berdiri menuju pintu kamar tapi terkunci dan saat ia hendak berteriak dari dalam ia samar-samar mendengar pembicaraan Tia, Sarah dan Wira dari dalam kamar.


Gadis itu menempelkan daun telinganya lebih dekat lagi ke pintu kamar tersebut dan menyimak dengan seksama.


*****


To be continue...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2