With Ghost

With Ghost
Chapter 101 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 101 ***


Gibran menyeka air mata di pipi Setta. Pria itu lalu memeluk gadis yang di cintainya itu.


"Kamu gak boleh nangis, kamu harus kuat demi kamu sendiri, demi Nathan."


Gibran mengusap punggung Setta dengan lembut.


"Aku sayang sama kakak, aku mohon jangan tinggalkan aku, kak."


"Aku gak akan ninggalin kamu kok, aku akan selalu menjaga kamu meski tak di dunia lagi," ucap Gibran.


"Kak Gibran gak boleh pergi!" rengek Setta.


Gibran melepaskan pelukannya lalu memberi kecupan pada kening gadis itu.


Pintu ruang operasi itu terbuka, Nathan dinyatakan selamat oleh tim dokter. Untuk sementara ini, pria itu belum sadar karena pengaruh obat bius.


"Kita temani Nathan, yuk! aku juga belum pamit sama dia," ucap Gibran.


"Kenapa kakak pergi?" tanya Setta yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Gibran tadi.


"Kamu istirahat dulu, aku belum bisa pergi kok sampai aku bisa pamit sama Nathan," sahut Gibran seraya menggandeng tangan Setta menuju kamar perawatan Nathan.


***


Suara kokok ayam jantan yang menandakan fajar menyingsing, membangunkan Setta dari tidurnya. Gadis itu melihat ke arah Nathan yang sudah sadar dan tersenyum menatapnya.


"Abang..." Setta langsung memeluk kakak tercintanya itu.


"Alhamdulillah, kamu enggak apa-apa kan, dek?" tanya Nathan.


"Aku gak apa-apa tapi kak Gibran..."


"Ada apa dengan Gibran?"


Setta langsung menangis memeluk Nathan kembali.


"Coba kamu jelaskan sama abang, Gibran kenapa?" Nathan mengguncang kedua bahu Setta saat ia sudah dengan posisi duduknya.


Gibran muncul di sudut ruangan tiba-tiba.


"Astagfirullah, kok kamu ngagetin aja sih, Bran!" seru Nathan menoleh pada Gibran yang tersenyum.


Suara ketukan pintu terdengar di pagi buta itu sebelum Gibran menjawab pertanyaan Nathan. Pintu itu terbuka lalu muncul Kapten Ghani yang mengucap salam, lalu masuk menghampiri Nathan.


"Syukurlah, kamu selamat," ucap Kapten Ghani.

__ADS_1


Setta memutuskan untuk keluar ruangan, ia harus menunaikan solat subuhnya di mushola rumah sakit.


"Bagaimana kondisi di sana?" tanya Kapten Ghani.


"Kacau kapt, semua serba mengejutkan, untungnya ada Gibran yang menolong saya," ucap Nathan seraya menunjuk Gibran yang berdiri di samping kanan ranjangnya.


"Gibran?"


Kapten Ghani menatap ke samping ranjang yang ditunjuk Nathan dengan tatapan bingung. Ia kembali menoleh ke arah Nathan.


"Apa Sahrudin sempat mengatakan sesuatu sebelum ia dikubur hidup-hidup?" tanya Kapten Ghani.


Pertanyaan pria di hadapannya tersebut sontak membuat Nathan terperanjat.


"Apa Tia sudah sadar?" tanya Nathan.


"Belum, tadi aku sempat menjenguknya tapi ia belum sadarkan diri, lantas aku kemari menjengukmu."


"Jika Tia belum sadar, bagaimana kapten tau jika pak walikota dikubur hidup-hidup?" tanya Nathan yang mulai curiga dengan atasannya itu.


"Oh begini Nathan, Ridwan sudah memberi tahu saya tentang semuanya," ucap Kapten Ghani dengan nada gugup yang mencurigakan, padahal Sarah sempat menghubunginya untuk meminta perlindungan.


Sarah memberitahukan yang terjadi dengan Sahrudin.


"Gibran, apa kau percaya dengan yang dia katakan?" Nathan menoleh pada Gibran.


"Gibran? mana Gibran? kau berhalusinasi ya, kawanmu itu sudah..."


Ia mulai mengerti dengan wajah pucat yang ia lihat di wajah Gibran, meskipun sejujurnya tak ingin ia membenarkan dugaannya. Pantas saja Kapten Ghani tak dapat melihat sosok kawannya itu.


Gibran langsung menangis dan memeluk Nathan


"Maafkan aku..." ucapnya Lirih.


***


Tiga jam sebelum Wira menyekap Sahrudin, si walikota itu bertemu dengan Kapten Ghani di sebuah villa yang berada luar kota.


"Harusnya kau tak membunuh si Madam Laura," ucap Kapten Ghani.


"Halah, jika aku tak menghabisinya, dia akan buka mulut, dan kau pasti sudah tau jika itu akan mengancam kita. Lagipula aku jadi bisa memberi pelajaran pada si polisi bodoh itu," sahut Pak walikota lalu menghisap cerutu mahalnya.


"Tapi, berurusan dengan Nathan itu tidaklah mudah, cepat atau lambat, sedikit saja celah yang ia temukan dari pembunuhan Madam Laura, dia akan cepat tau benang merah yang menuju ke arah kita. Apalagi dia sudah mencurigaimu," ucap Kapten Ghani.


"Kau urus saja dia, buat selama mungkin ia mendekam di penjara. Asal kau tahu jika dia sampai membahayakanku, maka aku akan membawamu mendekam di dalam penjara juga," ancam Pak Sahrudin.


"Kau mengancamku? setelah apa yang kulakukan untukmu? aku membantumu membunuh walikota Husein dan membuat kaki tangannya yang di penjara," tukasnya.

__ADS_1


"Nah itu, itu yang harus kau waspadai juga, kau ikut membantuku dalam pembunuhan si Husein itu.


Ah sudahlah, aku akan pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri, kau urus semuanya!" seru walikota itu lalu pamit.


Berapa terkejutnya ia saat membuka pintu, ia mendapati sosok Gibran sudah melangkah cepat dari sana.


"Kau urus dia, kurasa dia mendengar semuanya!"


Pak Sahrudin menoleh pada Kapten Ghani memberi perintah.


"Hmmm satu lagi anak buah kebanggaanku yang harus kuhabisi," ucap Kapten Ghani lalu menghubungi kepala gangster penguasa wilayah timur.


Para anggota gangster itu menghadang mobil Gibran yang hendak melaju menuju rumah tahanan Nathan. Tembakan demi tembakan datang bertubi-tubi tanpa ampun menghujam dada depannya. Gibran tewas seketika, mayatnya dikubur di dalam hutan.


***


Nathan tak bisa lagi menahan air matanya kala ia diperlihatkan oleh Gibran tentang kematian sahabatnya itu. Pria itu langsung menarik selang infusnya dari tangan, lalu menuruni ranjangnya menuju ke arah Kapten Ghani.


"KENAPA KAU MEMBUNUH GIBRAN?!"


Nathan berteriak di hadapan Kapten Ghani dengan penuh amarah.


"Aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan," tukas Kapten Ghani mencoba menangkal.


"Kau bahkan terlibat dengan pembunuhan Walikota Husein, kau tak ubahnya sama dengan binatang buas, bahkan lebih jahat dari iblis."


Nathan meninju wajah Kapten Ghani sampai bibirnya berdarah.


Pria itu bingung tak mengerti kenapa Nathan bisa tau semua yang dia lakukan bersama Sahrudin. Kapten Ghani lalu meraih sentaja api dari pinggang belakangnya yang ia selipkan di celananya.


Ia todongkan senjata api tersebut ke arah Nathan. Suara pelatuk sudah bersiap ditarik memuntahkan isi pelurunya, namun Gibran berhasil menepis tangan Kapten Ghani. Ia membuat peluru itu menembus kaca jendela di belakang Gibran.


Suara letusan senjata api itu membuat para suster yang mendengarnya di lantai sepuluh itu berkumpul di depan ruang perawatan Nathan. Mereka semua ketakutan untuk membuka pintunya.


Tak perlu tunggu waktu lama lagi, Nathan mendorong tubuh Kapten Ghani sampai terjatuh ke lantai. Keduanya terlibat baku hantam yang sengit setelah Nathan berhasil melepas pistol itu dari tangan si kapten.


Kapten Ghani tau kelemahan Nathan saat itu. Arah pukulannya selalu mengenai bekas operasi di perut sampingnya. Darah mengucur deras dari tubuh Nathan karena jahitan operasi tadi yang terbuka.


"Aaargghhh...!!!" Nathan berteriak kesakitan.


Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia kumpulkan untuk menghantam tubuh Kapten Ghani sampai punggungnya membentur kaca jendela dan membuatnya hampir jatuh. Kedua tangannya meraih tepi jendela dan mencoba bertahan, meskipun telapak tangannya terluka karena pecahan kaca.


Darah yang keluar dari tangannya membuatnya tergelincir, ia tak mampu lagi bertahan. Kapten Ghani terjatuh dari lantai sepuluh. Ia melihat penampakan hantu Gibran yang menatap ke arahnya sebelum kepalanya menghantam aspal jalan dan terlindas truk besar. Kapten Ghani tewas seketika.


***


Masih bersambung ya, menuju END

__ADS_1


Jangan lupa like, rate bintang 5 dan Vote.


Vie love you all...


__ADS_2