
Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊
*** Chapter 50 ***
Nathan membopong Tia yang tak berdaya, tapi detak jantungnya masih terasa berdetak.
"Kamu kuat Tia, kamu harus kuat," bisik Nathan membaringkan Tia di dalam mobilnya lalu segera melaju ke rumah sakit. Untungnya bantuan untuk Bejo sudah datang saat Nathan meninggalkannya.
Sesampainya Nathan di rumah sakit kota, Tia segera di tangani oleh dokter. Nathan bergegas menghubungi Setta.
"Tan, abang gak pulang ya, abang mau nemenin Tia," ucap Nathan.
"Emang Kak Tia kenapa bang?" tanya Setta ikut panik karena ada nada cemas ketara sekali terdengar dari ucapan Nathan di seberang sana.
"Kamu inget pembunuhan di pabrik roti kan, tadi Tia dan Bejo mergokin si pemilik pabrik di rumah Siti salah satu pegawai yang kita jadikan saksi kunci, ternyata Ibu Emi lah pembunuh semua tiga pegawai wanitanya, dan saat Tia mengejar ibu Emi, Tia di tusuk Ta."
"APA?! Yaa Allah abang itu gimana sekarang keadaan kak Tia?" tanya Setta.
"Lagi di ruang operasi dek, kamu doain aja ya supaya kak Tia selamat."
"Iya bang pasti aku doain, abang jangan lupa jaga kesehatan di sana, jangan lupa makan ya," ucap Setta.
"Iya Tan, abang tutup dulu ya telponnya."
Sambungan via telepon itu terhenti kala Nathan mematikan ponselnya.
Rania dan Mbok Inem yang sejak tadi menyimak langsung memburu Setta dengan mengajukan pertanyaan terkait keadaan Tia malam itu.
***
Pukul setengah tiga dini hari, Rania terbangun karena ingin buang air kecil. Dia guncangkan tubuh Setta, namun tak mau menyadarkannya dari tidur lelapnya.
"Duh kebelet banget nih, bodo ah aku nekat aja, aku harus berani," ucap Rania menyemangati diri sendiri.
Rania membuka pintu kamar Setta, seseorang melewati kamar Setta menuju dapur mengejutkan Rania.
"Astagfirullah si mbok ngagetin aja!" pekik Rania lalu melirik mbok Inem yang ternyata sibuk di dapur.
"Laper kali tuh orang jam segini nyemil," gumam Rania memasuki toilet.
Tanpa Rania sadari sosok pocong yang sering menunjukkan dirinya di rumah Setta berdiri samping Rania. Setelah memflush toilet duduk itu, Rania berusaha meraih sabun cair di sudut bak kamar mandi itu tapi tak sampai-sampai. Sosok pocong itu membantu Rania dengan cara menggeser botol yang berisi sabun cair itu mendekat ke tangan Rania.
__ADS_1
"Ah lega juga rasanya, perasaan ada yang aneh, ah perasaan aja kali," gumam Rania.
Lalu dia membuka pintu kamar mandi dan terdengar keran flush bergerak dan berbunyi lagi menyentak Rania sampai menoleh kembali ke arah kloset duduk tersebut.
"Kok... ah ini perasaan aku aja," Rania langsung menutup pintu dapurnya dan berlari cepat menuju kamar Setta.
Suara seseorang sedang makan terdengar di ruang makan Setta yang berada dekat dapur.
"Tuh kan bener mbok Inem laper hihihi," ucap Rania lalu merebahkan kembali dirinya di kasur lantai. Tanpa Rania sadari lagi wajahnya kini saling berhadapan dengan hantu perempuan di kamar Setta.
"Kayak ada yang nafas di depan aku... ah cuma perasaan aku aja kali," gumamnya lalu memejamkan kedua matanya.
***
Pagi itu di rumah sakit kota tempat Tia di rawat, Nathan sangat bersyukur karena kondisi Tia bisa tertolong dan stabil. Nathan tertidur dengan merebahkan kepalanya di atas ranjang gadis itu di samping tubuh Tia yang masih terbaring lemah.
Tia tersadar dan merasakan perutnya yang terasa nyeri dengan hebatnya. Saat mau menyentuh perutnya, gadis itu merasa tangannya digenggam seseorang. Tia melihat tangan Nathan lah yang menggenggamnya.
"Duh satu sisi aku sial banget sampai ketusuk tuh nenek lampir, tapi satu sisi harusnya aku makasih sama tuh nenek lampir, karena berkat dia, tangan aku di pegang Nathan kayak gini, mana di tungguin lagi, duh ini mah rela aku kena tusuk berkali-kali asal selalu di temenin sama Nathan," gumam Tia.
Nathan tiba-tiba bergerak, gadis itu langsung berpura-pura menutup kedua matanya.
"Perasaan tadi ada yang ngomong, kirain Tia sadar, hmmm mimpi kayaknya nih aku," Nathan meregangkan tubuhnya.
"Untung aja kamu selamat, kalau enggak saya bakal sedih banget kehilangan penggemar cantik kayak kamu," Nathan mencolek hidung Tia dengan telunjuknya.
Perut Nathan yang berbunyi tiba-tiba membuatnya lapar dan memutuskan untuk pergi ke luar ruang perawatan Tia menuju kantin rumah sakit.
"Yaa Allah... Aku di bilang cantik aaarrgghh gemes banget, makasih banyak ini keajaiban banget buat aku..." Tia membanting-banting kedua kakinya dengan gemas di atas kasur.
"Awww.... sakit sakit sakit aduh..." pekik Tia kesakitan menjalar di tempat lukanya.
***
"Coba sekarang ibu jawab? apa alasan sebenarnya ibu membunuh karyawan ibu?! Bejo membentak Ibu Emi di ruang interogasi.
"Mereka menggoda suami saya, dan saya tak akan membiarkan hal itu terjadi, jadi ya baiknya saya bahagiakan saja mereka agar bertemu dengan jodoh mereka di neraka hahahaha," ucapnya.
"Lalu di mana suami anda?" tanya Bejo dengan nada menggertak.
"Aku sudah muak dengannya aku bosan menuruti perintahnya, aku buatkan saja makanan terlezat untuknya dan membuatnya tak sadarkan diri, kau tau apa yang kulakukan setelah itu?"
__ADS_1
Bejo menggeleng menjawab pertanyaan ibu Emi.
"Tubuhnya kaku tak bisa digerakkan hahahaha... aku melumpuhkannya, lalu dia mulai berisik jadi ku hilangkan saja lidahnya hahahhaha... dia terbaring lemah di gudang bawah tanah rumah kami, tempat yang sangat cocok untuk suami ku tercinta hahahaha..." ucap Ibu Emi dengan tawa kepuasan.
"Sakit jiwa ini orang ckckckck," Bejo keluar dari ruangan interogasi.
"Kau mau kemana, ceritanya belum selesai, hahaha..." ucap wanita itu tertawa dengan puasnya sambil berteriak-teriak memanggil Bejo.
Bejo segera menghubungi Nathan untuk memberi kabar keberadaan Tuan Richard dan menanyakan kondisi Tia. Nathan memerintahkan penggeledahan di rumah Ibu Emi terutama di bagian gudang.
***
Nathan menyuapi Tia dengan makanan khas rumah sakit.
"Buburnya adem pak, gak enak!" ucap Tia dengan wajah kesal.
"Namanya juga makanan rumah sakit, kalau mau bubur enak nanti saya ajak kamu makan di daerah Taman Melati buat makan bubur ayam yang enak," ucap Nathan.
"Asek... serius pak?"
"Iya serius, tapi bubur yang nih habisin dulu," pinta Nathan.
"Ya udah deh terpaksa, asal makannya sambil mandang bapak kayak gini mah, makanan apa aja mah terasa enak di lidah saya," ucap Tia menunjukkan senyum manisnya.
"Haduh mulai lagi deh ratu gombal ini."
"Selamat pagi... Gimana Tia kondisi kamu?"
tanya Sarah masuk ke dalam ruang perawatan Tia.
******
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘