
*** Chapter 28 ***
"Thalia, dimana anak itu?" tanya Dina.
"Thalia.... Thalia... sini sama paman sayang..." ucap Rudi memanggil Thalia.
Thalia keluar dari persembunyiannya. Gadis kecil itu menundukkan kepalanya ketakutan sambil memilih ujung kaus yang ia pakai.
"Gadis yang sempurna," ucap Rudi lalu mengucapkan sebuah mantera sambil menempelkan jari telunjuknya ke dahi Thalia.
Gadis kecil itu tak sadarkan diri dan di masukkan kembali ke dalam lemari bawah tangga.
"Sebentar lagi putri agung akan tiba, apalagi banyak darah keluarga yang sudah kita persembahkan pada putri," ucap Dina sambil merangkul suaminya itu lalu pergi. Kedua pasangan gila itu pergi dengan senyum puas.
Setta tersadar dan dapat kembali bernafas dengan lega setelah menarik nafas panjangnya. Setta memandangi Thalia lalu memeluknya dengan erat.
"Pak Ustad tolong Thalia, lepaskan dia dari cengkeraman iblis jahat yang akan menggunakannya nanti," pinta Setta sambil menangis.
"Dengan ijin Allah saya akan berusaha melepaskan dia dari iblis jahat, ayo nak kita pergi," ajak Pak Ustad menggandeng tangan Thalia.
"Te-ri-ma...ka-sih..." ucap Thalia melambaikan tangannya pada Setta, Tia dan Nathan.
"Bang, bukan Thalia pelakunya, tapi paman dan bibinya," ucap Setta.
"Kamu yakin?" tanya Nathan.
"Yakin bang, Thalia tuh digunakan buat membangkitkan iblis jahat yang bernama Putri Agung, iblis yang di sembah paman dan bibinya," ucap Setta.
"Eh bentar kok Setta bisa tau sih pak, emang dapat kabar dari siapa?" tanya Tia heran.
"Nanti saya jelaskan, yang pasti segera lakukan pengejaran terhadap paman dan bibinya, dan jangan pernah bilang sama siapapun kalau Thalia ada di pesantren milik adeknya pa ustad," ucap Nathan.
"Oke, siap pak kalau begitu," sahut Tia.
"Eh kamu masih ngapain di sini?" nathan menyentil telinganya Jin.
"Aduh... sakit bang, emang kenapa sih cuma mau kepo doang sih," sahut Jin.
"Ya udah nih saya pulang samlekum...!"
"Walaikumsalam... Heh kalau salam tuh yang bener jin iprit...!!" Nathan meneriaki Jin yang sudah kembali ke rumahnya.
"Jadi saya tidur sendiri di kamar nenek?" Tanya Tia.
"Emang kenapa kak, takut ya?" ledek Setta.
"Takut sih enggak, cuma serem kalau ketemu hehehe, " sahut Tia.
"Ya udah tidur sama Setta ya, kan gak mungkin tidur sama saya," ucap Nathan spontan.
"Wuih... si bapak emangnya saya gak mau apa kalau ditawarin tidur di kamar bapak,"
"Idih ganjen banget kak Tia," Setta melirik tajam ke arah Tia.
__ADS_1
"Enggak ganjen neng, tapi usaha hehehe," sahutnya.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa lalu masuk ke dalam kamarnya.
***
Pagi itu aroma masakan nasi goreng seafood ala Tia tercium sampai menggugah selera si penikmat aromanya.
"Enak banget kak, kapan ke pasarnya?" tanya Setta yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya.
"Tadi pas jogging ketemu tukang sayur, ya udah sekalian aku beli udang sama cumi, buat nasi goreng seafood deh ala aku," ucap Tia.
"Ini sih keren banget beda sama buatan abang yang nasi goreng polos," Setta menertawakan Nathan.
"Huuuuu bisa aja ngalemnya, toh buatan nasi goreng abang aja habis sampai nambah," Nathan mengacak-acak rambut Setta ketika menghampirinya di dapur.
"Terpaksa bang, laper kaga ada lagi hehehe."
"Eh bentar-bentar, cocok banget sih kita kayak gini seperti keluarga kecil bahagia," celetuk Tia.
krik...krik...krik...
Nathan dan Setta saling bertatapan nyinyir.
"Yeee biasa aja kali, kan cuma mengandai-andai hehehe," ucap Tia.
"Modus terus nih, awas jangan keasinan, efek minta di kawinin ntar," celetuk Setta.
"Emang itu tujuannya kali aja pak Nathan khilaf ngawinin saya," gumam Tia.
"Kaga pak becanda hehehe."
"Bang nih, tanda tangani," Setta menyerahkan selebaran formulir dari sekolahnya.
"Apa nih?"
"Camping, si Rania yang udah maksa aku, mana udah bayarin juga lagi,"
"Dek, kamu kan... di sana tuh banyak makhluk astral yang pasti serem-serem."
"Setta udah berani bang, di mall aja banyak kok yang lebih serem, bahkan nyatanya manusia bisa lebih serem dari setan, tuh buktinya paman sama bibinya Thalia," ucap Setta.
"Kamu yakin...?"
"Yakin...!"
"Setta udah gede pak udah lima belas tahun lebih kan? maaf sebelumnya saya menyela, wajarlah Setta ikut kayak gitu biar belajar mandiri," ucap Tia sambil menaruh nasi goreng di atas meja makan.
"Dari kecil juga dia udah mandiri kok kami udah terbiasa tanpa orang tua," sahut Nathan.
"Bukan maksud saya begitu pak, maaf..."
"Saya cuma khawatir berlebihan karena cuma dia satu-satunya yang saya miliki," Nathan memotong ucapan Tia yang terhenti.
__ADS_1
"Abang yakin deh, aku bisa menjaga diri aku dengan baik, obat asma juga masih banyak tenang aja, aman." sahut Setta.
"Oke deh, tapi kalau kamu sampe kenapa-napa..."
"Tenang aja bang..." Setta memeluk abang tercintanya itu.
"Uwuuuu so sweet banget sih, jadi pengen ikutan peluk..." ucap Tia.
Nathan dan Setta menatap tajam kepadanya.
"Iya maaf, kan cuma... Udah yuk makan keburu dingin, nanti telat juga si Setta sekolah hehe."
***
"Nih, udah di tanda tanganin sama abang Nathan, puas kan..?" Setta menyerahkan formulir tersebut pada Rania.
"Yeaaaayyyy cakep... tenang aja pokoknya elo tinggal bawa diri, nanti semua makanan, cemilan, gue yang tanggung," ucap Rania merangkul Setta.
"Aaaaaaaaaaaa....!!!"
Teriakan para murid perempuan bersahutan terdengar dari luar.
"Ada apaan tuh Ta? liat yuk...!" Rania menarik lengan Setta keluar kelas.
"Ada apaan sih?" tanya Rania mencoba masuk di kerumunan para siswa di lantai dua itu.
"Kita ke lantai bawah aja yuk Ta, gak keliatan itu ketutupan kerumunan," ajak Rania.
"Gak usah Ran, di sini aja," Setta memperhatikan seorang murid perempuan di lantai empat sedang memandangnya. Wajahnya pucat dan penuh darah yang masih mengucur membasahi seragam putihnya.
"Aku tahu apa yang terjadi," gumam Setta.
"Sok tau, kan kamu belom liat apa-apa, coba nih ya aku tanya sama Tatang tuh di bawah, tang... ada apaan sih?" Rania berteriak ke arah Tatang yang berada di area lapangan.
"Ada yang mati jatuh dari sana!" Tatang menunjuk ke lantai empat tempat Setta melihat hantu murid perempuan tadi.
"Innalillahi... Ta kamu denger kan..." Rania menoleh ke Setta yang masih memandangi gadis di lantai empat tersebut.
"Jangan bilang kalau kamu liat hantunya?" bisik Rania yang di jawab dengan anggukan oleh Setta.
Rania meremas tangan Setta yang dia pegang tadi saking ketakutannya.
**************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘