
*** Chapter 36 ***
Pagi itu setelah semuanya selesai berolahraga dan sarapan, Setta merasa ada yang aneh dengan hari itu.
"Perasaan dari subuh aku gak lihat Nia deh, Ran?" tanya Setta pada Rania saat mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel.
"Ah perasaan kamu aja kali, dia mah suka ngilang, oh iya denger-denger tuh ya kalau Nia itu klepto tau," ucap Rania.
"Eh gak boleh sembarangan nuduh, nanti malah jadi fitnah lho," ujar Setta.
"Yeee si Abdi aja bilang kalau gantungan kunci dia yang dari Swiss hilang dan itu ada di tempat pensil Nia, tapi dia gak ngaku, dia bilang dia juga punya itu."
"Ya siapa tau bener, Nia juga punya, jangan buruk sangka ah," Setta selesai merapikan semua barangnya ke dalam ransel.
"Ih itu gantungan kunci ada tanda tangan pemain bola yang si Abdi ketemu pas liburan di Swiss, sama persis, Nia tuh katanya suka klepto barang-barang unik gitu kalau duit sih dia enggak kayaknya," ucap Rania menjelaskan.
"Udah ah, aku coba mau tanya kak Jin udah absen anak-anak apa belom mau cari Nia," ucap Setta.
"Halaaah modus aja dikau, bilang aja mau ketemu abang Jin uhuy..." Rania menggoda Setta yang langsung di timpuk topi kupluk ke wajah Rania.
Jin terlihat sedang bersama Ratu, Aryo dan Santi kala sedang mengatur kepulangan para murid SMA Lentera.
"Kak bisa bicara sebentar," ucap Setta menepuk punggung Jin yang bidang itu dengan pelan.
"Boleh, bentar ya, Yo terusin kerjaan gue!" ujar Jin.
"Eh kamu mau kemana Jin?" tanya Santi dengan ketusnya memandang Setta.
"Bentar doang kok, yuk ikut aku!" Jin membawa Setta menjauh dari kawan-kawannya.
"Kak Jin, semua anak udah absen belom?" tanya Setta.
"Belum sih, nanti bentar lagi pas udah pada siap naik bis, emang kenapa, Ta?" tanya Jin.
"Aku kok gak lihat Nia ya kak, khawatir aja dia menghilang," ucap Setta dengan nada cemas dan penuh kekhawatiran.
"Masa sih, coba nanti aku tanya yang lainnya sekalian absen, udah kamu gak usah khawatir balik aja, siap-siap ke bis," ucap Jin.
Setta melangkah pergi meninggalkan Jin.
"Ta..." ucap Jin menahan Setta sambil menaruh kedua tangannya di saku jaketnya sendiri.
__ADS_1
"Ya, kenapa kak?" tanya Setta menoleh pada Jin.
"Kalau udah sampe rumah, jalan bareng yuk!" ajak Jin dengan nada suara pelan dan malu-malu.
"HAH? jalan? ngapain tunggu pulang sampai rumah, ini aja kita bisa jalan bareng kak ke arah bis, hehehe," sahut Setta asal.
"Belum pernah di keplak pake seribu batang daun kelapa ya Ta?"
"Yeee ... ogah...!!" Setta segera berlari menjauh dari Jin.
"Kenapa Setta?" tanya Ratu yang mengejutkan Jin.
"Oh nyariin temennya Nia, coba aku mau absen dulu, kamu juga cek grup putri ya," pinta Jin lalu meninggalkan Ratu.
***
Saat semua peserta naik ke dalam tiga bus tersebut, akhirnya panitia baru menyadari kalau Nia hilang. Jin sebagai penanggung jawab memutuskan untuk bersama Pak Idris mencari Nia bersama Aryo dan pulang belakangan dari rombongan yang lain.
"Ta, udah denger belom, Nia hilang," bisik Rania yang duduk di samping Setta dalam bis nomor tiga itu.
"Tuh kan bener, Nia hilang, terus gimana nih? cari yuk!" Setta mengguncang tangan Rania.
"Jin, Aryo sama Pak Idris yang cari, mereka pulang belakangan tadi gue denger gitu deh di belakang sana," ucap Rania menjelaskan.
Setta segera berlari kecil menuruni bis menemui Jin dan Pak Idris.
"Heh, itu si Setta mau kemana?" tanya Ratu menyentak Rania.
"Gak tau kak, coba saya ikutin dulu," sahut Rania segera menyusul Setta.
"Kak Jin...." Setta berteriak memanggil Jin.
"Heh anak kecil, kamu kenapa pucat banget kayak gitu abis liat hantu ya lo?" tanya Jin yang di jawab anggukan Setta.
"Waduh... yang bener, Ta?" bisik Jin.
"Nia kak, Nia... aku tau dia di mana," sahut Setta.
"Ada apa Setta? jangan bilang kalau Nia hilang kayak Rania di culik hantu, nanti berhadapan dengan dukun matre lagi saya gak sanggup lho bayarin, Nia kan bukan orang punya kayak Rania," ucap Pak Idris menghampiri Setta.
"Saya yang bayar pak, gak apa demi Nia, kasian kalau diculik hantu," sahut Rania yang tiba-tiba datang menghampiri Setta dan mendengar ucapan Pak Idris.
__ADS_1
"Masalahnya Nia bukan di culik hantu, yang aku takutkan kalau Nia sudah menjadi hantu," ucap Setta sambil menangis.
"Ah kamu kalau ngomong yang bener, tau darimana kamu?" tanya Pak Idris.
"Tadi saya..."
"Udah gini aja, rombongan yang lain segera berangkat, Setta ikut kita aja pak, jika memang dia tau sesuatu, soalnya saya percaya sama Setta kalau dia bisa lihat penampakan," ucap Jin membela Setta.
"Kamu yakin kan Ta?" tanya Pak Idris memastikan sekali lagi.
"Saya berusaha gak yakin pak, saya berharap saya salah lihat dengan sosok di balik pohon itu pak yang di seberang sungai sana," Setta menunjuk pohon yang tadi ia melihat penampakan Nia.
Pak Idris terdiam memandang pohon yang di tunjuk Setta tadi. Begitu juga dengan Jin, Aryo dan Rania memandang ke arah yang sama.
"Kamu pulang Rania, kamu masuk rombongan bis saja, saya repot kalau nanti kamu hilang lagi," Pak Idris memecah keheningan sesaat itu.
"Tapi pak Setta gimana, saya mau nemenin dia?" pinta Rania.
"Pak Idris bener Ran, aku malah tambah khawatir kalau kamu masih di sini, nanti pas sampai sekolah kamu segera bilang ke bang Nathan ya mengenai aku di sini, hape aku standby kok, semoga sinyal gak hilang," ucap Setta menepuk Rania.
"Tapi janji ya Ta, kamu harus hati-hati, aku titip Setta ya kak," ucap Rania pada Jin.
"Pasti, pasti aku jagain," sahut Jin.
Rania lalu masuk ke dalam bis dan melambai pada Setta.
"Nanti kita pulang naik apa pak?" tanya Aryo.
"Naik bis aja yang lewat desa sini menuju kota. Ayo kita cari Nia, kita temui kepala desa sini dulu!" ucap Pak Idris.
*************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘