With Ghost

With Ghost
Chapter 32 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 32 ***


Setta masih berada di Hutan Jati Hitam bersama mbah Sarno menembus pekatnya udara yang makin berkabut.


"Nah itu kawan mu!" Mbah Sarno menunjuk ke arah Rania yang berada di bawah pohon jati besar dan menjeratnya.


Setta langsung berlari menghampiri Rania dan berusaha melepas pelukan akar jati itu di tubuh Rania sambil membaca ayat kursi berulang-ulang.


"Sadar Ran, ayolah sadar ya aku mohon..." ucap Setta sembari melepaskan ikatan akar pohon tersebut.


"Kau tak bisa mengambilnya dariku!" suara besar yang menggema di dalam hutan tersebut terdengar menggelegar.


"Tapi kau tak bisa mengambilnya begitu saja," ucap Mbah Sarno.


"Dia yang ingin ikut, aku tak memaksanya," ucap suara besar tersebut membalas.


"Kau boleh membawa para korban kecelakaan tapi tak boleh membawa korban yang masih hidup apalagi sehat." Mbah Sarno mendekati pohon jati besar tersebut dan menghujam tusukan dengan keris yang ia selipkan di belakang pinggangnya.


"Ran, ayolah bangun...!" Setta menarik Rania lebih kencang, tak jauh dari tempat Setta berdiri dia melihat sebuah batu kerikil yang ujungnya tajam dan menghantam akarnya sampai terputus dan melepaskan Rania.


"Maaf ya Ran..."


Plak...!!!


Setta menampar Rania dan menyadarkannya seketika.


"Awww... kok pipi aku perih banget ya?"


gumam Rania saat tersadar di pangkuan Setta.


"Maaf, tadi aku tampar hehehe," ucap Setta.


"Setta....!!!" Rania langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat sambil menangis ketakutan.


"Udah cup cup, kamu udah aman kok, yuk pulang!" ajak Setta.


"Caranya Ta, kita ada di mana coba ini?" Mata Rania berkeliling mengamati sekitar.


"Mbah Sarno...!!!" Setta berteriak memanggil nama mbah Sarno yang sedari tadi bertarung dengan Jin penunggu pohon jati besar tersebut.


"Ayo cepat kita pulang...!!!" Mbah Sarno langsung mengajak Setta dan Rania berlari menuju tempat yang tadi, titik dimana Setta dan dia masuk ke dalam hutan jati hitam tersebut.


"Ayo cepet Ran...!!!" Setta menarik tangan Rania agar lebih cepat lagi dalam menyusul mbah Sarno.


Setta melihat ke arah pohon besar itu sekilas, pohon tersebut seolah terlepas dari tanah dan berjalan ke arahnya makin dekat.


"Jangan tengok belakang Ran...!" ujar Setta sambil berlari.

__ADS_1


Rania malah penasaran dan menengok ke belakang.


"Aaaaaaaaa cepetan Ta, kita di kejar monster pohon...!!!"


Rania berlari mendahului Setta, sekarang Rania yang menarik lengan Setta agar bergegas.


Mbah Sarno sudah tiba di titik semula yang tadi, lalu ia berdiri sambil bersedekap dengan mulut komat kamit. Cahaya terpancar dari sana lalu membawa Setta dan Rania masuk dan menghilang dari dalam hutan tersebut. Rania langsung jatuh ke pelukan Aryo saat tiba di dalam rumah Mbah Sarno. Setta dan Mbah Sarno tersadar seketika saat ruh mereka masuk ke dalam raga mereka masing-masing.


"Kamu gak apa-apa anak kecil?" tanya Jin saat Setta membuka matanya. Jin mengusap rambut di kepala Setta berkali-kali.


"Aku gak apa-apa, cuma agak pusing," ucap Setta saat Jin membantu Setta untuk duduk.


"Bisa pindah gak Ran, berat banget nih...!" ucap Aryo berusaha mengangkat tubuh Rania agar bergeser dari tubuhnya.


'"Eh sembarangan banget kak, seberat itu apa aku?" Rania menekan dada Aryo dengan kedua tangannya.


"Udah berat nyakitin lagi," sahut Aryo meringis mengusap dadanya.


Rania membalasnya dengan menampar pipi Aryo secara spontan.


"Kalau ngomong di ayak!" sahut Rania.


"Galak banget kamu ih jadi cewek," Aryo mengusap pipinya yang memerah.


"Nah, berhubung saya sudah menyelamatkan anak ini, coba mana kuitansi nya Amin," Mbah Sarno mengulurkan tangannya pada anak kecil tersebut.


"Maksud Mbah apa ya?" tanya Pak Idris.


"Pengorbanan saya gak gratis pak, mohon maaf sebelumnya," Mbah Sarno menyerahkan kuitansi tersebut pada Pak Idris.


"Astaga sepuluh juta pak?" tanya Pak Idris.


Mbah Sarno dan si kakek penjual kopi hanya saling melempar senyum.


"Udah pak, kan mereka nyelamatin saya, jadi biar saya aja pak," sahut Rania.


"Tapi Ran, ini pemerasan namanya," sahut Aryo dengan tegas.


"Udah gak apa, bisa pake kartu kredit pak?" tanya Rania.


"Wuidih kamu punya kartu kredit Ran?" tanya Jin dengan raut wajah syok bersamaan dengan Aryo.


"Punya papi aku, dikasih ke aku buat pegangan," sahut Rania.


"Tapi Ran..." Pak Idris memandang Rania dengan perasaan via.


"Gak apa pak, udah ini mah gampang nanti juga papi saya ngerti malah makasih udah di selamatkan, gimana pak bisa pakai kartu kredit?"

__ADS_1


"Gak bisa, tapi mobile banking bisa, ini nomor rekeningnya," Mbah Sarno mengulurkan sebuah kertas yang sudah ia tuliskan nomor rekening bank.


Rania mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan uangnya melalui mobile banking pada ponselnya.


"Udah ya mbah, nih transferannya masuk!" ucap Rania menunjukkan layar ponselnya ke mbah Sarno.


"Syukurlah, terima kasih kalau begitu," ucap Mbah Sarno.


"Mari pak saya antar pulang," ucap kakek si penjual kopi itu.


"Gak usah pak, saya masih hapal jalan ke jalan raya, nanti pesan taxi saja dari sana," ucap Pak Idris dengan nada ketus. Pak Idris terlihat sangat kecewa dengan Mbah Sarno dan kakek si penjual kopi.


Setta menepuk paha Jin agar segera pergi dari rumah itu. Aryo menarik tangan Rania menyusul Setta, Pak Idris juga mohon pamit pada Mbah Sarno.


Saat menapaki jalan setapak menuju jalan raya tersebut, Aryo terus menggerutu memarahi Rania.


"Lagian kamu tuh bisa-bisanya masuk mobil hantu, kan akhirnya sampai di tebus gini?" tanya Aryo.


"Iya Ran, kok kamu bisa masuk mobil itu sih?" tanya Setta.


"Lah aku tuh lihatnya itu mobil kita tau, orang aku liat Setta manggil-manggil, ya udah aku masuk," ucap Rania.


"Terus pas kamu di dalam mobil sana gimana?" tanya Jin yang ikut menyimak.


"Ya biasa aja sih, terus aku ngantuk ketiduran eh pas aku liat si Setta matanya bolong terus ketawa cekikikan, nah di situ baru aku sadar kalau aku naik bis hantu, terus aku di giring makhluk kecil-kecil ke pohon gede banget, terus aku gak sadarkan diri lagi hiiiyyy serem, gak lagi-lagi lah," ucap Rania menjelaskan.


"Saya curiga kalau ini pemerasan, memang sengaja di lakukan untuk menjebak dan mencari keuntungan," ucap Pak Idris.


"Biarlah pak, cuma sepuluh juta kok, gak sebanding sama nyawa saya," ucap Rania.


"Belagu kamu ih, Ran," Aryo menoyor kepala Rania.


"Yeee aku gak belagu tapi emang mampu, eh maaf nih pak Idris bukannya Rania sombong ya,hehehe..." Rania menggaruk- garuk kepalanya sendiri.


*************


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2