
*** Chapter 31 ***
Langkah Setta terhenti saat sepasang mata berwarna merah mengamatinya dari balik semak.
"Heh anak kecil, ngapain diem di sini, kesambet lho?" ucap Jin menarik lengan Setta.
"Coba liat deh kak, itu apa?" Bisik Setta.
"Mana sih?"
"Itu, tuh matanya jadi empat...!!"
Setta dan Jin langsung berpandangan dan tanpa pikir panjang lagi mereka berlari menyusul Pak Idris dan Aryo.
Mereka sampai di sebuah rumah kayu yang terlihat menyeramkan. Hawa dingin dan bau bunga melati menyeruak menusuk ke dalam hidung si penghirupnya. Bulu kuduk yang juga meremang menambah ketakutan yang memancar di wajah Aryo dan Jin.
"Mbah, selamat siang mbah," ucap si kakek penjual kopi setelah mengetuk pintu rumah yang bersimbolkan tengkorak itu.
Pintu rumah pun terbuka, seorang anak laki-laki bermata satu membuka pintunya.
"Dek, mbah Sarno ada?" tanya si kakek.
Anak itu mengangguk pelan, dan mempersilahkan semuanya untuk masuk dengan isyarat tangan kanannya tanpa suara.
"Ayo masuk!" ucap si kakek membawa serta Pak Idris dan rombongan untuk masuk ke dalam rumah tua tersebut.
Tak berapa lama kemudian, orang yang bernama mbah Sarno muncul dari balik tirai mempersilahkan semuanya untuk duduk.
"Kalian kemari pasti kehilangan seseorang yang menaiki bis hantu kan?" tanya mbah Sarno seketika itu juga menebak dengan benar.
"Iya mbah, kok tahu ya?" ucap Pak Idris.
"Wah sakti banget nih pasti, tebakannya benar," gumam Aryo.
"Oh bukan begitu, tadi ada yang menghubungi saya dari rest area, anak bapak ini, pak Sarmadi, katanya bapak mau kesini nganter rombongan yang kehilangan temannya naik bis hijau," ucap nya sambil tertawa terkekeh.
Jin dan Setta saling menatap Aryo dan berusaha untuk menahan tawanya.
"Nah, jadi gimana mbah, dimana kira-kira murid saya yang hilang ini?" tanya Pak Idris.
"Begini, tiga tahun lalu terjadi kecelakaan bis di ruas jalan dekat rest area tadi, seluruh penumpangnya terbakar, dan setelah kecelakaan tersebut entah kenapa ada saja orang yang naik bis hantu itu dan menghilang," ucapnya menjelaskan.
__ADS_1
"Menghilang? lho gimana nasib kawan saya mbah?" tanya Setta panik.
"Tenang jangan panik, saya coba berkomunikasi dengan jin sekitar agar mengembalikan anak itu, maaf boleh pinjem tangannya cah ayu?" Mbah Sarno mencoba meraih tangan Setta dan memintanya.
Setta mengulurkan tangannya ke Mbah Sarno dan kakek itu menusuk telunjuk Setta dan meneteskan beberapa tetes darah ke sebuah kendi hitam depan Mbah Sarno.
"Awwww... sakit...," pekik Setta.
"Maaf tapi saya butuh darah perawan macam kamu," ucap Mbah Sarno.
Lalu ia melanjutkan ritualnya dengan berkomat - kamit mengucapkan mantra yang tak bisa di pahami oleh semuanya. Asap putih membumbung ke langit- langit ruangan rumah Mbah Sarno.
"Ada yang berani ikut saya ke alam gaib?" tanya Mbah Sarno.
"Saya berani mbah," Sahut Setta.
"Pak Idris aja Ta, kan dia lebih tua," ucap Aryo.
"Lho kok saya? jangan deh nanti saya kaget jantungan gimana kalau ketemu hantu? tuh kalau Jin aja gimana kan sebangsanya tuh?" ucap Pak Idris menunjuk Jin.
"Dih si bapak kocak banget sih," sahut Jin.
"Kelamaan, saya aja mbah yang ikut ," sahut Setta lalu menerima uluran tangan Mbah Sarno.
"Pada kenapa nih?" tanya Pak Idris panik.
"Biasanya roh mereka keluar dari raga menuju alam gaib," ucap kakek penjual kopi tadi.
"Semoga mereka baik-baik aja," gumam Jin merapihkan rambut Setta di atas kedua pahanya.
***
"Mbah ini dimana?" tanya Setta yang tiba di sebuah hutan pohon jati yang rimbun dan gelap .
"Ini hutan jati hitam, tempat para lelembut yang membawa teman kamu kemari, mata batin cah ayu terbuka kan sejak lahir?" tanya Mbah Sarno.
"Mata batin?" Setta mengernyitkan dahinya.
"Nah, cah ayu bisa melihat mereka kan?" tunjuk Mbah Sarno pada salah satu penampakan makhluk kerdil bermata merah yang tadi Setta lihat bersama Jin.
Makhluk kerdil tersebut selain bermata merah, lidahnya menjulur sampai ke tanah dengan rongga-rongga yang bernanah dan menjijikan. Tak jauh dari makhluk kerdil itu terdapat penampakan hantu perempuan yang mengenakan pakaian terusan yang lusuh dan rambut terurai. Kedua bola matanya hitam dan rambutnya terurai berantakan.
__ADS_1
"Yang itu kuntilanak ya mbah?" tanya Setta.
Mbah Sarno mengiyakan. Hantu kuntilanak itu berbalik badan melangkah pergi kali ini menunjukkan punggungnya yang berongga. Terlihat jelas tulang rusuk yang dipenuhi kelabang dan belatung besar menggeliat di dalamnya.
"Hei cah ayu, jangan kau tatap lama-lama perempuan itu, ayo kita harus bergegas karena waktu kita tak lama," ucap Mbah Sarno menyentak Setta.
Tak jauh dari saja seorang wanita dan pria berusia kurang lebih empat puluh tahun sedang menyantap sesuatu.
"Lihat mas, dia masih muda tapi berani mencari pesugihan," bisik si wanita.
"Iya dek, ada juga yang ingin cepat kaya seperti kita, eh mbah mau kemana mari makan bersama?!" si pria mengajak mbah Sarno dan Setta yang melintas.
"Kamu makan apa?" tanya Mbah Sarno.
"Kambing guling, ayam bakar, daging steak wah enak-enak mbah," ucapnya sangat senang.
"Oh ya sudah lanjutkan, mbah kenyang, mari cah ayu," ajak mbah Sarno.
Setta menahan mualnya mati-matian, karena apa yang di lihatnya berbeda dengan penglihatan si pria dan wanita itu. Setta melihat si pria sedang memakan seorang bayi laki-laki dengan lahapnya, bagian perut si bayi sudah habis setengah dengan usus yang berurai di tangan si pria. Sementara itu, si wanita sedang memakan seorang anak perempuan berusia kurang lebih dua tahun di hadapannya. Wanita itu memakan bola mata si anak dan menghisap darah dari rongga mata anak tersebut.
"Kenapa mereka makan daging manusia mbah?" tanya Setta.
"Itulah jahatnya iblis, mereka membuat kedua orang itu menyantap makanan lezat, padahal yang mereka santap itu adalah anaknya sendiri," ucap Mbah Sarno.
"Astagfirullah... mereka tega sekali mbah," Setta menahan air matanya agar tak mengalir.
"Mereka sudah siap dengan resikonya, karena mereka ingin cepat kaya," Mbah Sarno tersenyum miris menoleh ke arah si pria dan wanita tadi.
**************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘