
*** Chapter 79 ***
Madam Laura masuk ke dalam mobil Pak walikota menuju suatu tempat.
"Setelah rencana kita nanti malam berhasil untuk menjebak Nathan datang ke pabrik tersebut, kau segera pergi!" ucap Pak walikota memberi perintah pada Madam Laura.
"Baik tuan, aku tau kau akan selalu melindungiku," Madam Laura tersenyum memperlihatkan kerutannya.
Mobil pak walikota sampai di sebuah hotel kecil di pinggiran kota.
"Tinggallah sementara di sini sampai nanti malam, nanti Wira yang akan mengurus kepergianmu nanti malam!" perintah Pak walikota.
Madam Laura turun dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih. Ponselnya berdering kala pemberitahuan sejumlah uang masuk pada mobile banking miliknya. Madam Laura menatap pak walikota sambil tersenyum.
"Terima kasih pak," ucap Madam Laura.
Mobil pak walikota yang di setir oleh Wira sang ajudan, melaju meninggalkan Madam Laura di deoan hotel tersebut.
***
Tepat pukul dua belas malam, Setta terbangun dari tidurnya karena rasa lapar yang mendadak melanda.
"Duh laper..."
gumam Setta membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya gadis itu kala sosok pocong itu muncul di hadapannya.
"Astagfirullahalazim...!!!" pekik Setta lalu pocong tersebut melompat ke sana ke mari tak menentu arah tak seperti biasanya.
"Mbak... itu pocongnya kesurupan ya?" tanya Setta menoleh pada hantu perempuan yang selalu ada di sana, menjadi penunggu di kamarnya.
Hantu perempuan itu hanya mengangkat bahunya seraya tersenyum menyeringai. Hantu itu lalu masuk ke dalam bawah ranjang milik Setta. Perut Setta berbunyi, tanda lapar yang sudah akut menyerangnya.
"Ah tau ah bismillah aja," gumam Setta lalu melangkah menuju dapur untuk memasak mie rebus.
Suara lantunan ayat kursi selalu Setta kumandangkan agar tak ada hantu yang mendekatinya kala ia berada di dapur.
Di kamar Nathan, pria itu terlelap tanpa pakaian yang menutupi tubuh atasnya. Hanya celana boxer yang melekat di tubuhnya. Ponsel Nathan berbunyi malam itu, menyadarkannya dari tidur lelapnya.
"Halo, siapa ini?" tanya Nathan yang masih berusaha kembali ke alam sadarnya sambil mengerjapkan kedua matanya.
"Aku Madam Laura, bisa kita bertemu?" ucap seorang wanita dari seberang sana.
__ADS_1
"HAH?! jangan main-main!" Nathan menaikkan nada suaranya kali ini.
Sambungan ponsel tersebut terputus. Beberapa detik kemudian panggilan video hadir di layar ponsel Nathan. Nomor yang masih sama seperti tadi. Nathan menggeser layarnya ke icon bergambar gagang telepon warna hijau. Wajah seorang wanita paruh baya itu menyentak Nathan. Sambungan ini tak berbohong, memang Madam Laura yang sekarang menghubungi Nathan.
"Apa kau percaya padaku sekarang?" tanya Madam Laura.
"Baiklah sekarang anda di mana?" Tanya Nathan yang sudah yakin dengan panggilan telepon Madam Laura.
"Bisa kita bertemu di sebuah pabrik kosong bekas pembuatan sepeda yang berada di pinggir kota, sekarang?" tanya Madam Laura.
"Sekarang?"
"Ya tentu saja sekarang, jika kau tak datang sekarang juga, maka informasi mengenai keterlibatan bapak walikota terhadap Blue House dan beberapa pejabat daerah lainnya, kupastika kau tak akan pernah tau," ucapnya dengan nada kesombongan masih terasa.
"Hmm... baiklah, aku akan segera meluncur kesana," ucap Nathan.
"Ku sarankan tak ada polisi lain, hanya kau!"
"Apa bawa teman juga tidak boleh? untuk menggantikan ku menyetir?" pinta Nathan.
"Kau sendiri atau tidak sama sekali!" sambungan telepon itu terhenti.
"Kamu ngapain Ta?" Nathan menegur Setta yang asik menyantap mie rebusnya.
"Eh bang, mau gak?" Setta mencoba menawarkan.
"Gak usah makasih, abang pamit ya..." ucap Nathan.
"Pamit kemana?"
"Ada urusan kantor dadakan, ya semacam patroli malam lah," ucap Nathan mengusap rambut di kepala Setta.
"Selarut ini?" tanya Setta lagi kembali menegaskan.
Nathan hanya mengangguk lalu mengucap salam saat pamit keluar yang langsung dijawab salamnya oleh Setta.
"Ada yang gak beres nih, ada yang abang Nathan sembunyikan," ucap Setta lalu ia mencari ponselnya untuk menghubungi Gibran.
Panggilan pertama tak ada jawaban sampai panggilan kedua juga tak ada jawaban.
"Duh pules banget kali ya nih orang," gumam Setta.
__ADS_1
Pada panggilan kelima akhirnya Gibran menyahut dari seberang sana.
"Kak, ini aku Setta," ucap Setta.
"Hoaaamm kenapa Ta malam-malam gini tumben telepon aku? kamu gak lagi mimpi kan? apa aku yang mimpi ya?" sahut Gibran.
"Ada yang aneh dari abang Nathan, barusan dia pergi katanya ada patroli malam, aku takut dia kenapa-kenapa, soalnya aku merasa abang Nathan bohong sama aku," ucap Setta.
"Hah, patroli malam? mau kemana dia jam segini?" tanya Gibran.
"Nah makanya itu, anterin aku yuk ikutin bang Nathan, kebetulan GPS mobilnya aktif nih pas aku cek," ucap Setta meminta Gibran untuk mengantarnya pergi mencari keberadaan Nathan.
"Oke aku meluncur ke tempat kamu sebentar lagi," sahut Gibran lalu menutup ponselnya.
Setta mengetuk pintu kamar mbok Inem. Seseorang berwajah putih seperti habis di cat tembok itu mengejutkan Setta saat ia buka pintu kamarnya. Bola matanya berwarna merah menunjukkan warna bola mata yang masih mengantuk berat.
"Astagfirullahalazim mbok Inem, kirain aku hantu tau gak!"
"Hoam... apa sih non, jam segini udah gangguin mbok aja, ini aku lagi maskeran tau non pakai bedak dingin," sahut mbok Inem.
"Aku ada perlu, aku mau cari bang Nathan sama kak Gibran, mbok kunci pintu ya?" pinta Setta.
"Emang aden Nathan kenapa?" tanya mbok Inem mulai panik.
"Aku juga gak tau, doain aja mudah-mudahan gak kenapa-kenapa," ucap Setta.
"Hati-hati ya non!" ucap Mbok Inem mengiringi kepergian Setta yang sudah dijemput Gibran.
*******
To be continue alias bersambung...
Jangan lupa siapkan amunisi poin untuk Vote terutama ke Pocong Tampan hehehe...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1