
*** Chapter 51 ***
Mbok Inem sudah menyiapkan mie goreng telur lengkap dengan ayam goreng pagi itu untuk sarapan Rania dan Setta, sementara Nathan tak pulang malam itu karena menjaga Tia di rumah sakit.
"Pagi mbok..." sapa Setta.
"Pagi mbok... cie jam tiga pagi makan gak ngajak-ngajak," ucap Rania mengejutkan mbok Inem.
"Maksudnya, non?" tanya Mbok Inem tak mengerti.
"Iya semalam kan aku pipis, terus liat mbok ke arah dapur terus makan."
"Ah masa sih, kan mbok pules bangun subuh jam setengah lima," sahut mbok Inem.
"Terus yang jam tiga makan siapa dong?" tanya Rania tak mengerti.
"Hayo lho..." Setta menakuti Rania.
"Ah Ta, jangan kayak gitu dong, aku gak mau ya nemenin kamu lagi apalagi nginep di rumah kamu lagi," Rania merajuk.
"Heh, yang minta di temenin, sama minta kamu nginep di rumah aku siapa? kan kamu sendiri huuuu..."
"Oh iya ya, ya pokoknya gitu deh jangan nakutin aku," pinta Rania.
"Udah ayo di makan dulu mie nya nanti keburu dingin sama telat ke sekolahnya," ucap Mbok Inem.
***
Di rumah sakit tempat Tia di rawat, Sarah datang menjenguk Tia dengan sekeranjang buah di tangannya.
"Gimana kondisi kamu?" tanya Sarah.
"Udah mendingan sih, alhamdulillah."
"Syukur deh, eh kamu udah makan Tan?" tanya Sarah pada Nathan.
"Belum sih."
"Kita sarapan bareng di kafe bawah yuk!" ajak Sarah.
"Ummm boleh, tapi bentar aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Nathan lalu beranjak masuk ke kamar mandi.
Ponsel Sarah berbunyi. "Eh bilang Nathan aku terima telpon diluar ya," ucap Sarah lalu mengangkat sambungan teleponnya di luar ruangan.
"Sarah mana Tia?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Tadi terima telepon di luar," sahut Tia.
"Oh... Kamu istirahat ya, aku sarapan dulu sama Sarah," ucap Nathan menghampiri ranjang Tia dan memposisikan kembali ranjangnya mendatar.
"Kalau ada apa-apa kamu segera hubungi saya ya," Nathan mengusap kepala Tia dan menarik selimut menutupi tubuh Tia.
"Siap pak!" sahut Tia.
Sentuhan jari telunjuk Nathan di hidung Tia sebelum pria itu pergi keluar ruangan, membuat wajah gadis itu menyemu dan merona.
***
Di kamar mandi sekolah yang dekat dengan kantin, Setta terpaksa mengantar Rania ke sana. Padahal di kamar mandi itu tempat dimana hantu kuntilanak merah bersemayam menunggu pintu di toilet paling ujung.
"Gak usah ngeliatin kayak gitu, saya tahu kamu serem, udah diam-diam aja di situ," ucap Setta dengan lirih pada si hantu perempuan yang mengenakan daster berwarna merah dan rambut yang terurai awut-awutan sepaha.
"Ta, kamu ngomong sama siapa?" tanya Rania saat keluar dari bilik toilet.
"Orang aku lagi nyanyi sih," sahut Setta asal.
"Hmmm aku tahu nih, pasti ada..."
"Udah ah yuk balik ke kelas, bau banget tau nungguin kamu di sini."
"Ih... apaan sih kan aku udah semprot-semprot parfum masa masih bau aja?" Rania menggerutu sambil mengendus udara, memastikan tak ada bau lagi di sana.
"Lho... itu Setta kok ada di luar lagi ngobrol sama kak Aryo dan Kak Jin terus ini tangan siapa dong?" gumam Rania sambil melirik tangan yang ia gandeng tadi.
Tangan itu berkulit pucat dan keriput, kulitnya penuh luka berongga dan bernanah. Rania memberanikan diri memandang lebih ke atas sampai melihat wajah sosok yang ia gandeng itu.
"Hihihihihi..." sosok hantu kuntilanak itu tertawa cekikikan di hadapan Rania.
"Kyaaaaaaaaaa...!!!" Rania langsung berlari tanpa sadar menarik tangan si hantu menuju Setta sampai menubruk tubuh Aryo.
"Ih kenapa nih bocah?!" pekik Aryo yang tertabrak Rania.
"Aku... Aku tadi lihat hantu," ucap Rania dengan nafas masih tersengal-sengal.
"Baru jam istirahat setengah sebelas gini, ada hantu hadeh kurang kerjaan itu hantu," sahut Jin.
"Ada kak... tuh di bawa sama Rania ke sini hantunya," ucap Setta lirih.
Rania menoleh pada sosok di sampingnya.
"Kok aku lupa sih pake narik kamu segala, haduh jangan pandang aku kayak gitu dong, serem...!" Rania menampar pipi hantu itu agar tak memandangnya.
__ADS_1
"Pada kenapa sih? pada kesambet kali ya ini cewek-cewek?" Jin memandang Rania dan Setta yang masih ketakutan.
"Tau ih lebay banget, mana ada hantu jam segi...ni, waaaaaaaaaaa...!!!" Aryo tiba-tiba bisa memandang hantu kuntilanak tersebut lalu berlari menarik Rania. Begitu juga dengan Jin yang bisa melihatnya, dia berlari menarik tangan Setta menyusul Aryo.
"Ini pada ngapain sih, jam segini aja udah sok romantis kejar-kejaran, lari-larian pada gandeng tangan segala lagi," Santi yang berada di samping Ratu mencibir Setta dan lainnya.
"Idih... Siapa yang pacaran?!" Rania menghempas tangan Aryo seketika. Sementara Jin malah memaksa mempertahankan tangan Setta dari genggamannya.
"Kalau aku, aku sama Setta emang pacaran!" sahut Jin membuat semua mata menuju ke arahnya. Rania menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya dengan ucapan Jin.
"Apaan sih kak?!" Setta mencoba melepas genggaman Jin.
Bel sekolah berbunyi menandakan berakhirnya waktu istirahat. Ratu segera menarik tangan Sinta dengan wajah kesalnya menuju kelas. Rania masih menatap Jin dan Setta dengan wajah terkejut dan mulut menganga.
"Heh masuk kelas sana, melongo aja!" ucap Aryo mengusap wajah Rania.
"Bbuuuahhh bau banget ih tangan kakak," ucap Rania mendengus kesal.
"Lepasin kak, aku mau masuk nih ke kelas!" pinta Setta.
Jin melepaskan tangan Setta dengan senyum kocaknya lalu merangkul bahu Aryo kembali ke kelas.
"Sinting kali tuh orang!" ucap Setta kesal.
"Gila Ta, parah... Kamu di akuin pacar sama cowok idaman Ratu, ketua OSIS paling cantik paling keren seantero sekolah, ckckkckc." Rania berdecak kagum.
"Idih keren darimana, ogah ah aku mah sama cowok kocak kayak gitu, mana penakut lagi, cowok yang mau jadi pacar aku itu harus pemberani kayak abang Nathan, harus keren kayak abang Nathan," ucap Setta dengan bangganya.
"Kalau cowoknya kayak abang Nathan mah, aku juga mau dah maju paling duluan, berani aku ribut sama kamu, sama hantu tadi juga aku berani demi abang Nathan," ucap Rania memasuki kelasnya.
"Ran, tuh hantu yang kamu omongin di belakang kamu."
Rania menoleh ke belakang, lalu langsung berlari menuju kursinya menyembunyikan wajahnya di atas meja.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘