
*** Chapter 73 ***
"Tapi bila kau tak melakukannya..."
Dor...!
Marni menembak kaki Rio yang langsung berteriak.
"Iya iya iya aku akan melakukannya,"
Pria besar itu melepas ikatan ibu Handayani yang langsung menuruti perintah Marni.
"Sudah, semua sudah sesuai perintahmu sekarang ku mohon lepaskan kami saya berjanji tidak akan melaporkan kamu atas kejadian ini," ucap Ibu Handayani memohon belas kasihan Marni.
"Hmmm terima kasih ya, dasar wanita bodoh!"
Marni menembak dahi Ibu Handayani.
"IBU...!!!" Rio berteriak sekuat tenaganya.
Si pria besar itu menjerat leher Rio sampai ia tak bisa bernafas dan mati.
"Bakar tempat ini!" perintah Marni.
Gedung bioskop itu pun terbakar dan sempat viral karena video pembakaran yang menyoroti tubuh empat korban itu di abadikan oleh Marni di akun sosial media palsu yang ia kendalikan. Setelah ia unggah video tersebut ke sosial media ia melempar ponsel tersebut ke dalam bioskop yang terbakar itu. Marni dan pria besar itu lalu pergi meninggalkan para korbannya.
***
Seseorang menepuk pipi Setta.
"Eiiitss mau ngapain kak?" Rania mencegah Jin dan mendorong tubuhnya dari Setta yang tak sadarkan diri.
"Mau kasih nafas buatan, siapa tau dia gak bisa nafas, dia butuh kan nafas buatan," ucap Jin.
"Halah modus aja kan?" Rania makin mendorong Jin menjauh.
"Ta, bangun Ta, bangun Ta," ucap Rania menepuk pipi Setta pelan.
__ADS_1
Setta terbangun lalu memeluk Rania sambil menangis.
"Tuh kan, coba aja tadi pas Setta bangun ada aku di sampingnya, lumayan kan tuh dapet pelukan Setta," gumam Jin yang dipandang Aryo dengan tatapan smirk.
"Kamu kenapa Ta, kamu pingsan tau pas di dalam bioskop tadi, makanya kamj di bawa ke klinik mall sini?" ucap Rania.
Setta menceritakan penglihatannya kepada Rania dan lainnya. Berita yang viral setahun lalu itu mengenai kebakaran bioskop di mall Kota saat malam hari itu memang menewaskan empat orang. Bahkan Nathan juga termasuk dalam satuan petugas yang menyelidiki kebakaran bioskop tersebut.
Semua bukti mengarah pada si pria besar yang bernama Toto. Namun sayangnya, Toto di temukan tewas tenggelam di sungai. Ia di kabarkan mabuk dan jatuh ke dalam sungai bersama motornya. Kini Setta tau siapa pembunuh sebenarnya. Setta harus segera mencari Nathan dan menjelaskan tentang kasus ini.
"Ta kamu mau kemana? kamu belum sehat banget!" ucap Jin mencegah Setta pergi tapi tak berhasil, sifat keras kepala Setta memang sudah ditebak dan diredam oleh siapapun. Jin dan lainnya segera menyusul Setta.
***
"Kak Jo, lihat abang Nathan gak?" tanya Setta sesampainya di kantor Nathan.
"Nathan tadi pergi sama Gibran, sama Tia juga, emangnya kenapa Ta?" tanya Bejo.
"Waduh... kalau ngomongin kejadian yang waktu itu bisa gawat nih," gumam Setta.
"Kejadian apa?"
"Mana aku tahu, coba aja telepon!" sahut Jo.
"Hmmm aku telepon kak Tia aja deh," ucap Setta lalu pamit pergi masuk ke dalam mobil Rania. Rania kini berusia 17 tahun, dan berkat jabatan sang ayah bukan hal yang sulit baginya untuk memperoleh surat ijin mengemudi tanpa tes sekalipun.
"Kita ke cafe Ran, deket sama Blue House," ucap Setta.
"Mau ngapain ke sana?" tanya Rania.
"Abang aku ada di sana, sama kak Gibran sama kak Tia, eh tapi kalau bisa kita pulangin dua orang ini dulu nih!" ucap Setta yang menoleh pada Jin dan Aryo yang sudah tertidur dengan pulas di jok belakang.
***
Saat sampe di Cafe Nirmala, Nathan langsung menunjuk ke arah Setta dengan tatapan tajam.
"Hmmm... pasti udah pada cerita nih," gumam Setta.
__ADS_1
"Kamu tuh ya..."
"Abang dengerin Setta dulu, tadi kan aku sama Rania nonton di bioskop mall dalam kota, abang inget kejadian kebakaran satu tahun lalu gak? ternyata pembunuhnya masih berkeliaran bukan si pria yang namanya Toto itu," ucap Setta memotong ucapan Nathan yang tak jadi memarahinya.
"Kok kamu tahu? pasti di kasih lihat lagi ya?" tanya Tia ikut menimpali.
"Iya kak tadi aku ketemu sama hantunya, muka aku di tutup seperti ini, maaf ya kak," Setta mencontohkan menutup wajah Gibran dengan kedua tangannya.
"Lembut banget ini tangan," gumam Gibran.
"Jangan lama-lama Ta, ada yang keenakan tuh!" sahut Tia.
"Hmmm... " Rania ikut mencibir.
"Tapi abang gak lagi mah ngomongin itu, abang mau tanya soal kamu pergi ke Blue House, kamu ngapain gak bilang sama abang?" Nathan menatap Setta dengan tatapan tajam.
"Duh ganteng banget tuh abang kamu Ta," ucap Rania sembari berdecak kagum melihat Nathan.
"Heh Jangan bayangin yang enggak-enggak deh!" sahut Tia menutupi wajah Rania dengan buku menu.
"Ih Kak Tia mah gak asik nih, kita kan udah janji mau bersaing sehat, Rania juga rela berbagi, bener dah..." ucap Rania asal sambil meringis.
Semua mata kini tertuju padanya.
"Aku cuma bercanda kok hehehee..." ucap Rania menutup wajahnya dengan buku menu.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya :
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘