
Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊
*** Chapter 57 ***
"Kamu mau nengok Setta ya?" tanya Nathan pada Gibran.
"Ya sebenarnya sih iya, tapi aku mau laporan juga sih, tadi ada pembunuhan di kantor pos, di duga perampokan karena sejumlah uang hilang tapi..."
Ucapan Gibran tertahan saat semua mata tertuju padanya untuk menyimak. Kedua bola mata Gibran bertemu dengan kedua bola mata Setta yang langsung berpindah arah. Jin melangkah menutupi Setta dari pandangan Gibran.
"Tapi apa?" tanya Jin.
"Bukan urusan kamu juga kalau saya gak mau menjelaskan," sahut Gibran.
"Hmmm sombongnya... Anak kecil balik ke kamar kamu aja yuk!" ajak Jin.
"Eh gak bisa! enak aja mau berduaan, emang modus aja kamu!" Nathan menegur Jin dengan ketus.
"Ya dari pada gak boleh dengerin," sahut Jin.
"Ya udah kamu pulang aja sana!" Gibran mengibaskan tangannya ke hadapan wajah Jin.
"Masa aku pulang tuh buktinya Setta boleh denger, masa aku enggak," ucap Jin mencoba protes.
"Ini urusan kepolisian," sahut Gibran.
"Udah sih, jangan ribut terus berisik tau! Jin kamu boleh di sini tapi nyimak aja dan jangan bocor ke siapapun," ucap Nathan.
"Siap komandan!" sahut Jin dengan memberi hormat pada Nathan. Tia dan Setta tertawa lagi di buatnya.
"Bran tadi kamu mau cerita apa? Bran woi...!" Nathan menepuk punggung Gibran yang terpana dengan senyum Setta.
"Eh iya, ummm tadi itu aku ngerasa kalau yang terjadi di kantor pos itu bukan perampokan semata tapi ada unsur pembunuhan yang terencana, apalagi pistol yang ditemukan di tong sampah belakang kantor pos di gunakan oleh teman kerja si korban," ucap Gibran menjelaskan.
"Jadi maksudnya? rekan kerja pelaku ikut terlibat dalam perampokan tersebut?" tanya Nathan.
"Iya, dia sengaja menembak korban karena ingin merebut jabatan kepala kantor pos sepertinya, tapi dia sembunyikan dalam kamuflase perampokan ini," ucap Gibran.
__ADS_1
"Kamu yakin Bran?" tanya Nathan memastikan.
"Iya gambaran itu sih yang saya dapatkan, tapi kita tak punya bukti kuat untuk menangkapnya, rekaman cctv tak cukup kuat menangkap pelaku yang menggunakan topeng tertutup," tukas Gibran.
"Iya juga ya masa kita mau nangkap dia berdasarkan mata batin," gumam Nathan.
Jin duduk di lantai depan Setta sambil mengigit buah apel di tangannya.
"Nyimak seru nih," gumam Jin.
"Jadi bagaimana Tan?" tanya Gibran.
"Tetap awasi si tersangka kamu, nanti kalau kita dapet celah buat tangkap dia ya kita tangkap, yang penting jangan sampai dia keluar kota," ucap Nathan.
"Selamat sore, wah rame ya?" sapa seorang dokter perempuan bernama Nisa yang masuk ke ruangan Tia.
"Lagi ngerumpi dok," sahut Tia.
"Cantik bener dokternya ckckckkcck, kalau dokternya begini mah, rela saya sakit-sakitan biar bisa balik rumah sakit terus," ucap Jin menggoda dokter Nisa.
"Ah bisa aja kamu," Dokter itu melempar senyum manisnya.
"Idih siapa juga yang mau di gebet sama kak Jin, ogah!" sahut Setta.
"Cakep... bagus Ta!" Gibran menimpali tetapi Setta buru-buru menoleh tak mau memandang Gibran.
"Bercanda doang Ta, tetep kamu di hati saya, kamu paling cantik kok," ucap Jin memohon pada Setta agar tak marah.
"Heh sembarangan aja, masih pada bocah udah pacaran!" Nathan menyela.
"Idih siapa juga yang pacaran," sahut Setta mengelak.
"Dikit lagi Ta kita pacaran, boleh ya bang Nathan yang ganteng?" pinta Jin.
"Jangan mau Tan, sama pengecut kaya dia mah," sahut Gibran.
"Eh kok jadi pada ribut sih, saya mau periksa kondisi pasien nih," ucap Dokter Nisa.
__ADS_1
"Maaf dok, silahkan di cek," ucap Nathan melirik tajam ke arah semuanya yang langsung terdiam.
"Baiklah, nih ya kondisi mbak Tia ini udah stabil, sudah boleh pulang, tapi jangan boleh kerja dulu ya saya takut lukanya terbuka lagi, kan cukup dalam soalnya," ucap Dokter Nisa.
"Syukurlah, akhirnya bisa pulang," Tia tersenyum senang.
"Saya resepkan beberapa obat untuk di minum di rumah ya," ucap Dokter Nisa menuliskan resep yang di serahkan pada suster di sampingnya.
"Iya, makasih banyak dokter," ucap Tia.
"Saya permisi ya..." Dokter Nisa lalu pamit keluar ruangan.
"Maaf ini penanggung jawabnya bapak Nathan kan? nanti tolong bapak ke bagian administrasi, biar di urus semuanya, nanti juga ada obat yang harus di tebus, saya keluar dulu ya, nanti saya kembali untuk melepas infus nona Tia," ucap Suster yang memiliki tanda pengenal bernama Fira itu.
"Oke suster makasih ya," ucap Nathan dan Tia bersamaan.
"Ehm ehm... kompak banget," Setta menggoda keduanya yang langsung bertatapan tersipu malu.
"Sus, tunggu sebentar," Gibran menahan langkah suster tersebut saat hendak keluar.
"Ada apa ya pak?" tanya sister Fira.
"Enggak jadi sus, saya lupa mau ngomong apa, maaf ya," Gibran sebenarnya ingin memastikan kembali penglihatannya. Sosok hantu Nenek bungkuk yang berada di depan kamar perawatan Tia itu rupanya memang menunggu suster Fira dan mengikutinya pergi.
"Kenapa Bran?" tanya Nathan.
******
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘