With Ghost

With Ghost
Chapter 44 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 44 ***


Hari itu Pak Idris dan istrinya baru saja membuat pesta kecil untuk memperingati ulang tahun Ana yang ke lima. Ana tampak cantik dengan gaun brokat berwarna putih tanpa lengan dengan panjang selutut itu. Ada badut juga yang mengisi acara di rumah tersebut, sesuai permintaan Ana yang tak pernah ditolak permintaannya oleh Pak Idris karena Ana merupakan anak satu-satunya.


Ketika pesta usai dan tamu undangan sudah beranjak pergi menyisakan kesepian bagi Ana yang selalu sendiri tanpa teman. Pak Idris dan Istrinya sering meninggalkan Ana sendiri dengan asisten rumah tangga yang masih belia kala mereka bekerja sebagai pengajar di SMA Lentera.


Asisten rumah tangga yang bernama Dini itu bukannya menemani Ana tapi malah sering meninggalkan anak itu sendiri dalam rumah, sementara ia asik bermain dengan ponselnya dan bergunjing bersama tetangganya.


"Ana mandi dulu ya mau magrib," pinta Ibu Idris.


Ana menggeleng, gadis kecil itu masih asik menggunting karakter kuda poni di topi ulang tahun yang berserakan di lantai.


"Ana, tuh dengar udah mau magrib, jangan main gunting nanti kalau ada setan lewat, Ana bisa terluka lho," ucap Pak Idris mencoba menakuti Ana.


Ana berdiri sambil membawa gunting, maksud hati ia hanya ingin bercanda pada sang ayah ketika menunjukkan gunting yang sengaja di arahkan kepadanya sendiri.


"Nanti ketusuk kayak gini ya pak, hihihi..." ucap Ana sambil tertawa.


Tak disangka ibu Idris datang dari dapur hendak menggendong Ana menuju kamar mandi, akan tetapi ia terpeleset sisa krim kue di piring kertas yang tersembunyi di balik topi ulang tahun sehingga menimpa Ana.


Jleb... Anan tertusuk gunting yang mengarah padanya tadi dengan luka sangat dalam.


"Aaaaaaaaaaaaa ANA...!!!"


Teriakan Bu Idris membuat Dini dan Pak Idris langsung menghampiri Ana dan Ibu Idris. Pak Idris yang panik langsung membopong Ana ke sofa dan menarik gunting dari perut Ana.


"Telpon ambulance cepat...!!!" teriak Pak Idris pada Dini.


"I-iya pak, iya..." Dini segera menghubungi rumah sakit terdekat.


Sementara sang istri merasa sangat syok, dia masih memandangi kedua tangannya dan tubuhnya yang tak sengaja terkena percikan darah Ana. Darah Ana tak mau berhenti meski sudah di tutup kain oleh Pak Idris. Riwayat penyakit hemofilia memperparah kondisi Ana. Tubuhnya mengejang seiring dengan darah yang terus keluar dari luka tusuk gunting tadi. Suara azan magrib mengiringi kematian Ana yang tak bisa bertahan. Ia tewas di pelukan bapaknya.


Semenjak kematian Ana, kondisi kejiwaan ibu Idris menurun dan membuatnya harus berhenti mengajar. Rasa bersalahnya selalu membuat ia gelisah dan teriak-teriak tat kala azan magrib berkumandang. Dini merasa sangat tidak betah dan memutuskan untuk berhenti kerja.


***


"Kakak... hai aku Ana," sapa gadis cilik itu pada Setta.

__ADS_1


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Setta dengan tubuh gemetar dan rambut halus di semua permukaan kulitnya meremang kala melihat luka di perut dan gaun Ana yang penuh darah itu.


"Mau jagain ibu, hihihi..." Ana tertawa cekikikan sambil berlari kecil mengelilingi Setta.


Setta tersadar dari penglihatannya akan kematian Ana kala ia tepat duduk di atas sofa tempat gadis cilik itu tewas dan memegang bingkai foto milik Ana.


"Ta kamu gak apa-apa? minum Ta," Rania menyodorkan segelas air sirup tadi pada Setta.


"Udah Ran, makasih ya," ucap Setta lalu menyerahkan bingkai foto Ana pada pak Idris.


"Sejak kematian Ana tiga tahun lalu, istri saya memang seperti orang gila karena rasa bersalahnya pada putri kami, tapi tiga bulan ini sebenarnya kondisi nya mulai membaik kala rutin mengikuti pengajian sehabis magrib dengan tetangga sebelah," ucap Pak Idris menjelaskan.


"Maafkan saya pak, saya benar-benar gak tau kalau karena saya memori terburuk Ibu bangkit lagi," ucap Setta penuh penyesalan.


"Saya enggak menyalahkan kamu kok Ta, saya juga yakin kamu juga sebenarnya gak mau punya kemampuan seperti itu, iya kan?"


Setta mengangguk berkali-kali.


"Apa kamu tau alasan kenapa Ana masih ada di sekitar rumah ini?" tanya Pak Idris.


"Alhamdulillah, saya pikir Ana akan menyalahkan ibunya," ucap Pak Idris sambil memandang sekeliling.


"Sebaiknya kita pamit, biarkan Pak Idris beristirahat dan menenangkan ibu," ucap Ridwan.


"Baiklah kalau begitu, makasih ya nak, kamu sudah mengantar saya pulang," ucap Pak Idris.


Aryo dan Jin langsung mencium tangan Pak Idris lalu melangkah cepat menuju mobil Ridwan yang terparkir di luar.


Rania meraih tangan Setta dan menggandengnya saat selesai bersalaman pamit pada Pak Idris di ikuti Ridwan di belakangnya.


"Kamu gak apa-apa, Ta?" Ridwan menegur Setta sebelum masuk ke dalam mobil sambil menepuk-nepuk kepala Setta saat bertanya.


"Alhamdulillah gak apa-apa Kak," jawab Setta.


"Woi...katanya mau ngajakin pulang?" tegur Jin dengan ketusnya melongok dari jendela mobil.


"Wai, woi, wai, woi, yang sopan kalau negur orang tua," sahut Ridwan menatap tajam ke arah Jin.

__ADS_1


"Masuk Ta, buruan keburu magrib nanti sampai rumah," ucap Jin tanpa meminta maaf lagi pada Ridwan.


"Biasa aja dong kalau kepanasan," celetuk Rania melirik ke arah Jin.


"Ini gak ada yang mau nemenin saya duduk di depan gitu? berasa supir taxi online ini kalian semua di belakang kayak penumpang," ucap Ridwan di kursi kemudinya.


"Pindah Yo, duduk depan!" Jin menendang kaki Aryo pelan agar turun dari mobil dan pindah ke kursi depan bersama Ridwan.


"Iya aku pindah," sahut Aryo.


Kemudian mobil itu melaju menuju rumah Setta, karena Rania ingin menginap menemani Setta. Aryo juga ikut-ikutan ingin menginap di rumah Jin. Hal tersebut membuat pekerjaan Ridwan menjadi terasa ringan karena tujuannya cuma satu kini, ke rumah Setta dan Jin yang tinggal bersebelahan.


Sesampainya di rumah Setta, sebuah paket sudah tergeletak di depan pintu rumahnya.


"Wah, gak beres ini kurir, masa ninggalin paket kayak gitu, kalau barang berharga gimana? gue bisa laporin nih jasa pengirimannya," ucap Rania.


Setelah membolak - balik kotak paket tersebut tak ada alamat pengirim dan nama jasa pengirimannya. Hanya ada tulisan "TO NATHAN"


berwarna merah di permukaan kotak yang bersampul kertas kopi itu.


"Kak Ridwan jangan pulang dulu, aku mau minta tolong," ucap Setta segera menghentikan Ridwan yang hendak melajukan mobilnya.


***********


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2