
*** Chapter 92 ***
Sementara itu di dalam ruang perawatan tempat Bejo di rawat, seseorang datang menghampiri Bejo. Sosok misterius itu masuk ke dalam ruangannya sambil bersenandung. Jari jemarinya menyeret menyentuh ranjang tempat Bejo terbaring.
Jari jemarinya beralih ke mesin-mesin di dalam ruangan ICU yang membantu Bejo bertahan tersebut.
Sosok itu menarik selang oksigen dari tubuh Bejo. Kehilangan bantuan untuk bernafas membuat tubuh laki-laki itu kejang.
"Sssttt... have a nice sleep Jo, forever..."
Bejo sempat membuka matanya yang terbelalak dengan pupil membesar. Ingin rasanya ia berteriak tapi tak bisa. Tubuhnya tak sinkron dengan perintah otaknya.
Sosok misterius itu membekap wajah pria yang terbaring lemah itu dengan bantal seraya bersenandung kembali. Tubuh laki-laki itu berhenti bergerak seiring dengan hilangnya oksigen yang tak bisa lagi ia hirup ke dalam tubuhnya.
***
Tia tiba di Rumah Sakit Kota untuk menjenguk Bejo di sana. Setibanya di ruangan ICU tempat rekannya di rawat, Tia sudah melihat banyak perawat dan seorang dokter yang sedang menangani Bejo.
"Ada apa ya, sus?" tanya Tia yang melihat kepanikan terpancar di wajah suster yang baru saja keluar dari ruang perawatan Bejo.
"Maaf mba, nanti biar dokter yang jelaskan." Suster itu meninggalkan Tia, dia hendak mengambil alat pacu jantung yang di minta oleh dokter.
Tak berapa lama kemudian, suster itu kembali lagi dengan alat pacu jantungnya.
"Ya Allah, ada apa ya sama Bejo?"
Wajah Tia ikut panik dan cemas menyaksikan Bejo dari balik jendela.
Dokter tersebut keluar dari ruangan Bejo dengan wajah tertunduk lesu.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebisa kami, tapi Tuhan berkehendak lain. Pasien sudah tak bisa kami tolong."
Perkataan dokter itu sangat membuat Tia terperanjat. Sedih dan kecewa bercampur jadi satu kala mendengar kematian sahabatnya itu. Teringat masa- masa kala pria itu masih hidup dan suka menggodanya bersama Nathan. Bejo selalu ada buat Tia, kala gadis itu membutuhkan teman untuk mendengarkan curahan hatinya. Bejo selalu ada untuk mendukungnya dan juga mendukung Nathan baik suka maupun duka.
Tia langsung berlari dan menghamburkan dirinya memeluk jasad Bejo yang sudah di tutupi kain putih.
__ADS_1
"Kamu gak boleh pergi, Jo! aku masih butuh kamu! Nathan masih butuh kamu! jangan pergi Jo... hu..hu...hu...!!!"
Tia terus memukul tubuh rekannya itu sambil menangis pilu. Gadis itu berharap ada keajaiban yang membawa rekannya itu bangkit kembali. Namun, usahanya sia-sia ternyata Tuhan lebih sayang Bejo.
Setelah menemani jasad Bejo sampai ke ruang mayat, Tia mencoba kembali tegar untuk bersiap menghubungi Nathan.
Ponselnya menghubungi kepala penjara untuk meminta ijin agar bisa berbicara dengan Nathan.
"Halo, kenapa, Tia? Setta sama Rania baik-baik aja kan di tempat Gibran?" tanya Nathan dari seberang sana.
"Aku, aku belum sampai ke tempat Gibran. Aku masih di rumah sakit, Tan."
Isak tangis Tia terdengar di telinga Nathan meskipun ia berusaha mencoba menyembunyikannya.
"Kamu nangis ya?" Tanya Nathan.
"Tan... Bejo..."
"Bejo kenapa?" tanya Nathan dengan suara yang mulai meninggi dan panik ia tak ingin terjadi apapun pada Bejo.
Tangis Tia pecah juga terdengar ke telinga Nathan.
Gadis itu terduduk lesu sambil menangis di sudut luar depan pintu kamar mayat. Tangisannya makin tak tertahankan.
Sambungan telepon mereka terputus seiring keterpurukan mereka yang teramat sedih karena kematian sahabat yang begitu mereka sayang.
Nathan memukul dinding di belakangnya berkali-kali sambil menangis. Hal yang ia takutkan terjadi juga. Kehilangan sahabat yang selalu mendukungnya.
"Aaaaaaarrggghhh...!!!"
Teriakan kesedihan Nathan menggelegar ke seluruh koridor.
***
Pukul dua dini hari, Gibran terbangun dari tidurnya karena merasa ingin buang air kecil.
__ADS_1
"Duh... toilet di dalam kamar semua lagi, masa aku harus ketok kamar dulu buat numpang pipis," gumamnya.
"Masa ia di bawah pohon jambu, bisa jatuh harga diri aku kalau tuh kunti lihat jagoanku, terus dimana ya..." Gibran menengok ke kanan kirinya. Pandangannya terhenti kala ia melihat botol air mineral yang menyisakan air setengah botol di dalamnya.
Tak lama kemudian, dua pria misterius yang menculik Jin datang ke tempat kos Gibran. Sadar ada yang mencurigakan dari dua orang pria tersebut, Gibran segera bersembunyi di dalam mobilnya.
"Gawat nih, jangan-jangan mereka yang mau culik Rania lagi," gumamnya.
Tiga orang warga hadir di sudut jalan, mereka sedang melaksanakan ronda malam. Sungguh keberuntungan yang datang dari Tuhan dalam batinnya. Gibran segera keluar dari mobilnya dan meneriaki dua pria tersebut dengan sebutan "Maling"
Dua pria misterius itu langsung mengendarai motornya dan melaju dengan kencang menghindari kejaran warga.
Setta dan Rania terbangun karena kegaduhan yang terdengar dari luar.
"Ada apaan sih kak, beneran ada maling?" tanya Setta pada Gibran.
"Ada dua orang pria misterius, sepertinya mereka mencari kalian, makanya ku teriaki maling," jawab Gibran.
"Terus mereka udah kabur kan?" tanya Rania.
"Sudah, sebaiknya kalian pindah lagi, di sini sudah tak aman untuk kalian. Kenapa ya mereka bisa sampai sini mencari kalian?"
Gibran saling bertatapan bergantian dengan Rania dan Setta yang sama-sama mengangkat bahunya.
*****
To be continue alias bersambung...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1