
*** Chapter 98 ***
"Kau pikir istrimu benar-benar istri yang baik? kau salah hahaha...!" Budi menertawakan mantan sahabatnya itu.
"Lani?"
"Apa yang mau kau dengar dariku? Baiklah ini kebenarannya." Lani menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.
"Ya, aku berselingkuh di belakangmu demi mendapatkan restu ibumu, karena dia selalu menginginkan aku memiliki seorang anak. Tapi ia tak sadar bahwa dirimulah yang tak bisa memiliki keturunan."
"Jadi kau bersama...," ucapan Sahrudin terhenti saat Budi masuk ke dalam sel dan menarik Lani keluar.
"Kau ingin memukulku? silahkan."
Sahrudin tak dapat berkutik, pria itu diam seribu bahasa. Dia tak berani menatap ke arah Budi karena dulu dia selalu berlindung di balik tubuh Budi. Begitu juga saat menjadi walikota, dia selalu berlindung di balik badan Wira.
Bug...
Hantaman dari kepalan tangan Budi menghajar perut Sahrudin berkali-kali tanpa ampun.
"Asal kau tahu saja, putri cantikmu itu adalah anakku!" ucap Budi dengan lantangnya.
***
Sementara itu, Wira menarik kursi yang mengikat tubuh Tia menuju ke ruangan lain.
"Cantik sekali gadis ini, entah kenapa dia mengingatkanku pada, Laras."
Wira bergumam seraya menyentuh pipi halus Tia dengan punggung jemarinya.
"Sayang... Apa yang sedang kamu lakukan pada gadis ini?" tanya Sarah yang tiba-tiba datang dari arah luar.
"Tidak, aku hanya mengamatinya. Bagaimana dengan adik si polisi pacarmu itu?"
"Ku buat menggantung. Apa menurutmu organ tubuh dia kita jual saja ya?" tanya Sarah tertawa kecil seraya mengetukkan ujung pisau di dagunya.
"Jangan dulu, tunggu aba-aba dari ayahmu!" ucap Wira lalu menghampiri Sarah dan membawanya menuju ke tempat pak Budi tadi.
"Jadi ini adiknya Nathan?" tanya pak Budi yang mengamati tubuh Setta yang menggantung.
"Iya ayah, dia adik si bodoh itu," sahut Sarah memeluk Pak Budi.
"Yang kau bilang punya indera ke enam itu?" tanyanya lagi.
"Yup betul," jawab Sarah seraya mengangguk mengiyakan.
"Kelihatannya biasa saja, dia hanyalah anak gadis biasa yang tak ada kelebihannya seperti dirimu," Pak Budi mengusap kepala Sarah yang bersandar di dadanya.
"Wira siapa pemuda yang di dalam itu?" Tanya Pak Budi.
"Sebenarnya sih udah gak penting lagi, tadinya saya bawa dia untuk menunjukkan dimana gadis ini dan Rania, ternyata Sarah yang berhasil membawa mereka dengan mudahnya," jawab Wira.
__ADS_1
"Enyahkan saja pemuda itu, dia tak boleh tau lebih dalam lagi!"
"Baik yah!"
Wira segera memerintahkan dua anak buahnya untuk membuang Jin keluar dari gudang tua tersebut.
***
Di perjalanan menuju ke gudang tua yang Nathan sudah ketemukan lokasinya, ia melihat dua orang anak buah Wira tadi sedang mengayunkan tubuh Jin dan hendak membuangnya ke dalam jurang.
"Hentikan...!!!" seru Nathan seraya menodongkan pistol ke arah dua orang tersebut.
"Lepaskan pria itu!"
Ridwan langsung turun membantu Nathan dan menodongkan pistolnya juga ke arah dua orang tersebut.
"Ampun pak, jangan tembak saya," pinta seorang yang berambut panjang menurunkan tubuh Jin lalu mengangkat kedua tangannya.
Sementara pria satunya mencoba kabur dan berlari. Namun, langkahnya terhenti karena tembakan Nathan yang tepat sasaran di punggungnya.
"Telepon bantuan dan ambulance, Wan!" Nathan memberi perintah pada Ridwan.
"Siap, pak!"
Nathan memborgol tangan pria berambut panjang itu dan menyerahkannya pada Ridwan untuk di masukkan ke dalam mobil polisi. Ia lalu menghampiri tubuh Jin yang lemas tak berdaya tapi masih bernyawa.
"Ab-abang..." ucap Jin lirih.
"Se-selamatkan Setta, bang..."
"Iya pasti akan aku selamatkan, kamu juga harus selamat!"
Selang tiga puluh menit kemudian, mobil ambulance datang bersama dengan bantuan pasukan yang lain.
"Ridwan, kamu pimpin mereka, lalu kamu arahkan, biar aku duluan yang kesana," ucap Nathan.
"Tapi, pak..."
"Kalau kita datang keroyokan gini, aku takut nyawa para sandera terancam, jadi biar aku duluan yang kesana, lalu tunggu aba-aba dari ku ya," Nathan menepuk bahu Ridwan.
"Hati-hati, pak!"
Nathan mengangguk lalu masuk ke dalam mobil polisinya.
"Sorry, aku telat!"
Gibran duduk di samping Nathan yang mengejutkannya.
"Kamu kemana aja sih, dari tadi aku hubungi susah bener," gerutu Nathan.
"Sudahlah buruan, yang penting sekarang aku udah ada di sini, ayo kita tolong Setta!"
__ADS_1
Gibran tersenyum, tatapannya lurus menghadap ke arah jalan.
Nathan langsung melajukan mobilnya ke sebuah gudang tua tempat Setta di sekap.
***
Tia tersadar dari pingsannya dengan mengamati sekelilingnya. Tangannya terikat tak dapat ia gerakkan.
"Eh ada yang udah bangun nih," ucap Sarah yang mendapati Tia sedang mencoba membuka ikatannya.
"Lepaskan aku! dasar perempuan ular!" pekik Tia.
"Hmmm... hati-hati kalau bicara, nanti lidahmu itu bisa kupotong, lho..." ancam Sarah seraya menunjukkan pisau di hadapan Tia.
"Ambilkan anak ini air," pinta Pak Budi.
"Untuk apa sih ayah berbaik hati padanya?"
"Ayah...?" tanya Tia.
"Iya, dia ayahku, ayah kandungku yang kau lihat di foto waktu itu," ucap Sarah.
Tia mengamati wajah Pak Budi yang berjongkok di hadapannya itu.
"Iya aku ingat sekarang, kau yang ada di penjara waktu itu kan?"
"Benar sekali, kita yang waktu itu bertemu," jawabnya.
"Lalu kenapa kau bisa keluar dari penjara?" tanya Tia.
"Aku menciptakan kebakaran dan boom... perang antar narapidana dan polisi pun ku ciptakan," ucap Pak Budi sambil tertawa.
Pak Budi mengamati lagi kalung yang Tia kenakan. Lalu ia tarik dengan paksa liontin tersebut. Foto kedua orang tua Tia terpampang saat liontin itu di bukanya.
"Berikan itu padaku!" pekik Tia meminta kembali kalungnya, tapi tak di dengar oleh pak Budi yang masih mengamati kalung di tangannya itu.
"Benar juga kan dugaanku..." ucapnya lirih.
*****
To be continue...
Mampir juga ke novel baruku :
Diculik Cinta
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
- Pocong Tampan