
*** Chapter 62 ***
"Kak Tia lihat suster Fira, gak?" tanya Setta.
"Kamu masih penasaran sama cerita si anak tiri itu bagaimana kelanjutannya?" ucap Tia berbalik tanya.
"Ya, kak," ucap Setta mengangguk.
"Cerita apa sih? aku boleh tau gak? kali aja aku bisa bantu?" tanya Gibran.
Setta menceritakan pertemuannya dengan nenek Ida, berikut penglihatan yang nenek itu tunjukkan pada Setta. Gibran menyimak dengan seksama penjelasan dari Setta.
"Kamu bisa tunjukkan padaku yang mana suster Fira?" tanya Gibran.
Setta mengangguk.
"Oke, ayo kita keluar lalu tunjukkan padaku yang mana suster Fira biar aku temui," ucap Gibran.
Ketiganya pamit pada suster jaga di koridor ruangan Setta di rawat. Mereka juga menanyakan di mana kiranya suster Fira berada. Beruntungnya saat Setta dan Tia naik ke dalam mobil Gibran, mereka menemukan suster Fira yang baru saja turun dari ojek online yang dia pesan.
"Itu yang namanya suster Fira!" Setta menunjuk ke seorang perempuan berambut sebahu di gerai di sematkannya jepit mutiara di samping kiri di atas kepalanya. Perempuan itu mengenakan sweater berwarna ungu membalut menutupi seragam kerjanya.
"Oke kalian tunggu di dalam sini ya, biar aku hampir suster tersebut," ucap Gibran. Pria itu lalu menghampiri suster Fira dan menyapanya.
"Halo...!" sapa Gibran.
"Halo... maaf anda siapa ya?" tanya sister Fira.
"Saya Gibran, sepertinya saya pernah melihat anda tapi di mana ya? hmmm..." Ucap Gibran dengan yakinnya dapat menggoda suster Fira.
"Tapi kok saya gak ngerasa pernah ketemu ya, mungkin bapak suka ke rumah sakit ini kalau ada korban pembunuhan atau narapidana yang sakit, kan rumah sakit ini sering banget di gunakan untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian atau keluarga polisi juga sering di rawat di sini," ucap Suster Fira menjelaskan.
"Oh iya mungkin saja kali ya, atau memang anda emmm maaf terlalu cantik sehingga mengalihkan dunia saya," Gibran menahan tawanya. Ada kegelian yang membuatnya mual saat mencoba merayu suster Fira di hadapannya itu.
__ADS_1
"Ih si bapak bisa aja," suster Fira dengan mudahnya menepuk bahu Gibran.
"Jangan panggil bapak dong, panggil aja Gibran," ucap Gibran sambil mengulurkan tangannya ke arah suster Fira. Sebenarnya memang Gibran terlihat jauh lebih muda dari suster Fira.
"Tapi kamu jangan panggil saya mbak, panggil aja Fira," ujarnya membalas ukuran tangan suster Fira.
Tiba-tiba penglihatan itu datang begitu saja. Gambaran saat sister tersebut melakukan tindak kejahatannya terhadap sang suami. Suster Fira memotong kabel rem pada mobil suaminya pun jelas terlihat. Belum lagi penglihatan saat ia membubuhkan racun tikus ke dalam sup yang ia buat untuk sang ibu mertua. Sampai Gibran mencoba bertahan dengan amarahnya. Ia dapat melihat sosok kecil Yana yang di jual kepada perempuan tua yang dipanggil Madam Laura. Gibran melepas tangannya dari jabatan suster Fira.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu ya mbak, eh Fira."
"Tunggu, kamu gak mau minta nomor telepon saya?" tanya suster Fira menahan Gibran.
"Hape saya low bat nanti kalau kita ketemu lagi saya minta nomor telepon anda," ucap Gibran mencoba berbohong lalu pergi dari hadapan suster Fira.
Tiba-tiba ponsel Gibran berbunyi, samar-samar terdengar oleh suster Fira. Gibran mencoba berpura-pura tak tau darimana suara ponsel itu berasal. Dia langsung masuk ke dalam mobil hijau miliknya.
"Kenapa Bran?" tanya Tia.
"Nanti aku ceritain, ini mau buru-buru kabur dulu," ucap Gibran langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju.
"Jadi kakak bisa lihat semua kan?" tanya Setta.
"Iya, sadis banget tuh perempuan, ingin banget tadi aku rasanya langsung tangkap dia dan aku jebloskan ke dalam penjara, hanya saja aku tak punya bukti," ucap Gibran.
"Lalu sekarang anak itu di mana kak?" tanya Setta.
"Ada di tangan Madam Laura," jawab Gibran.
"Hah? madam Laura? itu kan... hmmm butuh perjuangan untuk masuk ke sana nih," sahut Tia.
"Nah itu, aku juga tau sejarah kelamnya tuh nenek," ucap Gibran.
"Aku gak ngerti ya kak, aku gak kenal?" tanya Setta.
__ADS_1
"Enggak!!!" sahut Tia dah Gibran bersamaan mereka tau Setta pasti akan cari tau lebih dalam siapa itu Madam Laura sedangkan jika Nathan tau keinginan Setta pastinya dia akan marah besar pada Gibran dan Tia.
***
Sesampainya Setta di rumah ia sudah di sambut oleh pelukan mbok Inem di halaman rumahnya.
"Syukurlah non udah sehat lagi, mbok sedih banget tau non, mbok doa tiap hari supaya non cepet sehat balik ke rumah," ucap Mbok Inem.
"Iya mbok, makasih ya, Mbok ini kak Tia nginep di sini ya, nanti dia tidur sama aku," ucap Setta.
"Tidur di kamar mbok aja nanti saya tidur di depan tv."
"Eh jangan mbok, saya sama Setta aja tidurnya," sahut Tia.
"Ih non, apa bareng aja sama saya non tidurnya," ucap Mbok Inem menawarkan.
"Ih si mbok mah, saya sama Setta aja," pinta Tia.
"Tuh Nathan pulang, udah sama Nathan aja tidurnya," Gibran meledek Tia dan Nathan.
"Kalau itu mah tak usah disuruh juga aku pasti mau Bran, asal di halalin hehehe," sahut Tia meringis sambil merangkul Setta.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘