
*** Chapter 91 ***
"Kenapa? mau di peluk juga?" tanya Nathan seraya merentangkan kedua tangannya pada Tia.
"Kamu tuh ya..." Tia langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Nathan dengan erat.
"Aku percayakan mereka sama kamu ya, tolong jagain mereka," pinta Nathan.
"Siap pak!" sahut Tia tersenyum pada Nathan saat pria itu menyeka air matanya.
Tia pergi pamit meninggalkan Nathan. Gadis itu tak sengaja menabrak seorang pria saat berada di koridor dan menjatuhkan sekotak rokok tepat di kakinya.
"Maaf pak, saya gak sengaja." Tia menyerahkan kotak rokok tersebut pada pria tersebut yang ternyata Pak Budi.
"Tak apa," ucapnya tersenyum dan perhatiannya tertuju pada kalung liontin di leher Tia.
"Maaf kalau saya boleh tanya, darimana kamu dapatkan liontin itu?" tanya Pak Budi.
"Saya gak tau pak, saat saya di buang di panti asuhan hanya ini menemani saya dalam kardus tersebut. Lho kenapa saya jadi cerita kisah saya yang menyedihkan ini ya pak hehehe maaf ya pak. Mari saya pamit dulu." Tia menundukkan kepalanya pada Pak Budi lalu pamit pergi meninggalkannya.
"Bukankah itu kalung yang sama dengan kalung milik walikota Husein, apakah gadis itu cucu walikota Husein?" gumam Pak Budi bertanya pada dirinya sendiri.
Saat menyusuri koridor untuk kembali ke ruangannya Nathan sempat melihat ke arah Budi yang sedang menghisap rokok di tangannya. Pria tua itu memandang Nathan sekilas lalu menyunggingkan senyumnya. Kalau tak ingat dengan ucapan Gibran tadi, ingin rasanya Nathan menghampiri Budi dan memukulnya saat itu juga.
***
"Hai, Tia!" Sarah yang baru saja datang di halaman parkir rumah tahanan itu menyapa Tia. Wanita itu baru saja keluar dari mobilnya saat bertemu Tia.
"Hai, Sarah!" Tia menyapa balik.
"Kamu habis nengok Nathan?" tanya Sarah.
"Ia baru aja selesai." jawab Sarah.
"Kamu sendiri?"
__ADS_1
"Aku sama Gibran, sama Setta, sama Rania juga," ucapnya seraya menunjuk ke arah mobil Gibran.
"Oh gimana keadaan mereka semua?" tanya Sarah.
"Mereka baik, aku pamit dulu ya nanti aku juga mau ke tempat Bejo." Tia melambai pada Sarah lalu pamit pergi dari hadapan perempuan itu.
Sarah datang menemui Nathan.
"Kamu tahu Dimas?" tanya Sarah pada Nathan.
"Pengacara muda yang lagi naik daun itu kan?"
"Ya benar, aku udah minta tolong dia buat jadi pengacara kamu, dan dia bilang kalau ada saksi yang meringankan kamu, paling enggak masa tahanan kamu bisa ditangguhkan, apalagi menurut kamu pak walikota bisa saja terlibat kan?"
"Hmmm masalahnya Gibran bilang walikota itu menghilang dan saksi yang bisa meringankan aku ya cuma Rania. Dia mendengar semua rencana busuk ayahnya yang berniat menjebak aku," ucap Nathan.
"Kalau begitu bawa Rania ke rumahku, nanti aku pertemukan dia dengan pengacara Dimas."
"Nanti aku bilang sama Gibran, karena untuk sementara ini, Setta dan Rania bersembunyi di rumah Gibran." Nathan memangku dagunya dengan kedua tangannya yang mengepal.
"Belum, Sar. Dia masih kritis," sahut Nathan.
"Hmmm semoga dia lekas sadar dan sembuh seperti sedia kala."
***
Memasuki kamar kos Gibran.
"Aduh gak ngerti lagi deh sama pemikiran Nathan, untung aja ibu kosnya baik mau ijinin kalian tinggal di sini," ucap Gibran seraya membersihkan kamar kosnya.
Untuk ukuran seorang pria sebenarnya kamar Gibran cukup rapih dan bersih. Semua barang tertata dengan rapi di tempatnya.
"Ran, kok bengong?" tanya Setta.
"Aku lagi mikir, sampai kapan ya kita kayak gini, pindah tempat terus. Aku mau nyerah aja ketemu papi, aku mau papi lepasin abang Nathan dan Kak Jin."
__ADS_1
Rania memukul bantal putih yang sudah ia sekap dengan gemas.
"Gak semudah itu Ran, udah yang penting sabar aja dulu. Aku ke mobil ya, kalian tidur yang nyenyak. Maaf kasurnya kecil tapi udah aku ganti kok seprainya."
Gibran meraih sarung yang bertengger di kursi kayu depan meja laptopnya.
"Ka, nih bawa bantal ini!" Setta menarik bantal yang Rania dekap dan menyerahkannya pada Gibran.
"Makasih ya Ta, selamat tidur."
Hening sejenak tercipta di kamar kos milik Gibran.
"Kalian udahan belum pandang-pandangannya, banyak nyamuk nih gara-gara pintunya terbuka," celetuk Rania mengejutkan Gibran dan Setta bersamaan.
"Hehehe maaf, ya udah aku ke mobil ya." Gibran melangkahkan kakinya menuju ke dalam mobilnya untuk tidur.
Sosok kuntilanak dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan duduk di atas kap mobil milik Gibran. Ia menoleh ke arah Gibran seraya tertawa cekikikan menakuti laki-laki itu.
"Jangan berisik mba, saya mau tidur!" ucap Gibran masuk ke dalam mobilnya.
Hantu kuntilanak itu menempelkan wajahnya yang pucat ke kaca mobil di hadapan Gibran. Mata kuntilanak itu menghitam. Sosok itu juga tersenyum menyeringai memperlihatkan giginya yang tajam penuh dengan darah.
Gibran membaca doa tidur dan ayat kursi sebelum ia memejamkan matanya. Dan benar saja sosok hantu perempuan itu langsung menghilang. Ia berpindah duduk di dahan pohon jambu air yang tertanam di depan kos Gibran.
*****
To be continue alias bersambung...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1