With Ghost

With Ghost
Chapter 71 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 71 ***


"Kak bengong aja! tuh di liatin pocong tuh!" Setta menundukkan kepalanya, ia tak mau melihat ke arah pocong yang bertengger di langit-langit gedung Blue House tersebut.


"Nah itu kamu sendiri di ikutin anak kecil," ucap Gibran menunjuk ke belakang Setta.


Setta menoleh ke belakangnya dan langsung bersembunyi di balik tubuh Gibran.


"Kabur kak, aku gak mau dia ngikutin kita," ucap Setta lirih.


Anak kecil berusia kurang lebih sepuluh tahun itu menangis. Namun, tangisannya itu adalah aliran darah yang merembes keluar dari rongga matanya. Dari hidung dan telinga anak itu juga keluar darah.


"Sakit kak..." suaranya lirih pedih menyayat hati yang mendengarnya.


"Ta..." Gibran menoleh pada Setta yang tak mau melihat.


Hantu anak kecil itu menghilang saat seseorang berjalan begitu saja menembusnya.


"Kita pergi Ta dari sini," ajak Gibran.


Ruangan bertuliskan VIP itu terbuka sedikit pintunya.


Tiba-tiba seorang pria berusia kurang lebih lima puluh tahun itu terlihat tak asing bagi Setta. Di kanan dan kiri pria tersebut terdapat dua gadis yang berpakaian seksi dan menjamunya dengan manja nan genit.


"Astaga ada om Sahrudin," ucap Setta menarik jaket yang Gibran kenakan maju. Kini Setta bersembunyi di balik jaket Gibran dengan kepalanya menempel di dada Gibran.


"Kamu kenapa, Ta?" tanya Gibran.


"Ada papinya Rania, bisa gawat nih kalau sampai dia tahu aku ada di sini, bisa ngadu sama abang Nathan," ucap Setta.


"Terus gimana pencarian kita sama Yana?"


"Pulang dulu yuk, aku takut nih, belum siap kalau abang Nathan marah," ucap Setta.


"Hmmm aku bilang apa harusnya kamu gak usah ikut, ya udah ayo pulang!" ucap Gibran lalu memberi kode pada Tia untuk ikut keluar juga.


"Untung kamu ajak aku keluar, duh takut juga lho tadi ada Sandi, aku takut dia ngenalin aku," Tia mengadu saat berada di mobil Gibran.


"Ya udah nanti kita susun rencana lagi," ucap Gibran.


"Tapi aku tuh hampir tadi ketemu langsung sama Madam Laura," ucap Tia.

__ADS_1


"Kamu ngapain mau ketemu sama dia?" tanya Gibran.


"Nah biar aku bisa masuk ke dalam rumah itu, sebaiknya aku mendaftar di sana," Tia mengetuk dagunya.


"Daftar jadi apaan kan?" tanya Setta ikut bergabung dengan pembicaraan dua orang dewasa di hadapannya.


"Gila kamu Tia, kamu mau main sama Om om senang kayak tadi idih parah!" sahut Gibran.


"Ya kan cuma pura-pura, pintar-pintarnya aku lah buat membodohi para hidung belang di sana," ucap Tia.


"Kalau kamu mau nekat seperti itu, paling gak Nathan harus tau, kita gak bisa main belakang gini," ucap Gibran.


"Tapi Bran, daripada sia-sia seperti tadi, kamu udah keluar banyak tapi gak ada hasil apa-apa kan?" Tia menoleh ke Gibran.


"Maaf ya kak, gara-gara aku, kakak kehilangan uang banyak malam ini," ucap Setta merasa bersalah


"Gak masalah Ta, gak usah dipikirin," ucap Gibran yang sedari tadi mengusap dadanya sendiri sambil tersenyum-senyum. Ia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya karena kepala Setta tadi bersembunyi di bagian dadanya. Rasanya ingin melompat salto saat jantung berdegup kencang, tapi ia berusaha untuk menahan diri di hadapan Setta.


"Udah gak usa di bahas lagi, kita sekarang pulang dan istirahat di rumah masing-masing," ucap Gibran.


***


Dua hari kemudian...


"Kalian mau apa disini? mau menertawaiku ya? puas kalian melihat ku seperti ini, hah...?" ucap Ratu berburuk sangka.


"Duh kesel banget ya dengernya, asal tau aja ya kak, kita tuh sebenarnya ogah banget ada di sini kalau bukan Setta yang paksa kita buat jenguk kakak di sini!" ucap Rania dengan nada kesal.


"Ran..." Setta menahan dan meredam amarah Rania.


"Habisnya nyolot banget nih orang, udah di tolong bukannya terima kasih malah langsung maki-maki marah-marah gak jelas sama kita," Rania menggerutu.


"Sabar babe, sabar..." Aryo mencoba menenangkan Rania dengan menepuk punggung gadis itu pelan.


"Heh jangan modus deh, dan aku bukan ba*i, bab beb bab beb seenaknya huh!" umpat Rania menatap Aryo dengan pandangan tajam dan membuat pemuda itu mundur beberapa langkah ketakutan, seolah ada pancaran api yang keluar dari balik tubuh Rania.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Setta berusaha ramah pada Ratu.


"Buruk...! kamu gak lihat apa kaki ku patah seperti ini?" Bentak Ratu ke arah Setta dengan tatapan tajam.


"Heh kak Ratu yang terhormat harusnya tuh kakak berterima kasih sama kita, udah nolongin kakak, terus setiap hari datang ke sini cuma mau lihat kakak udah sadar belum, sekarang mana keluarga kakak mereka cuma hadir via telepon tau gak, makanya aku bersyukur banget punya kawan macam mereka, orang tua ku juga sibuk sama seperti orang tua kakak, tapi aku punya mereka, beda sama kakak yang terlalu sombong, punya temen Santi doang sama Rosi cih... kasian banget!" Rania bersungut-sungut melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


"Kalian keluar! KELUAR...!!!" Ratu berteriak sekuat tenaganya.


"Kita keluar aja yuk, aku ngeri kalau dia kesurupan," celetuk Aryo.


Sepeninggal Setta dan lainnya, Ratu meneteskan air matanya. Kata-kata Rania memang sangat benar. Tak ada yang salah sama sekali.


"Aku memang selalu sendirian..." ucap Ratu lirih.


***


"Gimana kalau kita nonton film zombie yang terbaru?" tanya Aryo di parkiran rumah sakit.


"Kita harus belajar Yo, dua minggu lagi ujian nasional juga," ucap Jin.


"Jadi kamu gak mau ikut?" tanya Aryo.


"Sebagai anak pintar dan rajin, kita mestinya belajar Yo, ya gak, Ta?" Jin menoleh pada Setta yang hanya terdiam.


"Boleh tuh Aryo, yuk kita nonton Resident Evil yang terbaru, yuk Ta kamu mau ikut kan?" tanya Rania.


"Ummm... ya udah aku ikut!" sahut Setta.


"Oke kalau gitu aku ikut juga," ucap Jin.


"Ih gimana sih katanya mau pulang belajar, sekarang aja bilang mau ikut huuuu...!" gerutu Rania.


"Peka dong Ran, kan Setta bilang mau ikut tuh jadi wajar dong dia berubah pikiran mau ikut hahahaha... aduh...!" Kepala belakang Aryo di pukul oleh Jin yang menatapnya kesal.


"Ya udah yuk kita nonton !" ajak Rania.


Lalu ke empat orang tersebut masuk ke dalam mobil Rania. Mereka menuju mall kota untuk menonton film di dalam bioskop Mall Kota.


******


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2