
Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊
*** Chapter 55 ***
"Kok cocok sih?" tanya Jin.
"Ya cocok lah, setau saya ya Gibran itu punya kemampuan yang sama kayak Setta, aku denger itu dari Nathan," sahut Bejo.
"Lagian aku juga pernah ketemu pas pelatihan, lumayan lah ganteng," ucap Tia.
"Ah perasaan biasa aja, gak ada yang lebih dari yang namanya Gibran," sahut Jin mulai ketus.
"Kenapa sih kak? nah aku tahu nih, kak Jin cemburu ya?" Rania menunjuk ke arah Jin.
"Iya kenapa?" Jin menyahut spontan dengan tatapan tajamnya.
Rania dan Tia serta Bejo saling bertatapan dan tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Jin.
"Enggak nyangka saya, berani juga kamu suka sama adeknya Nathan ckckkckc," ucap Bejo.
"Emang kenapa bang? salah emangnya kalau saya suka sama adeknya abang Nathan?"
"Enggak sih enggak salah, cuma perlu tahan banting sama Nathan dan punya mental yang kuat kalau jalan sama Setta karena sekeliling dia itu ya gitu deh hantu..." ucap Bejo menakuti Jin.
"Bentar, sekeliling Setta? berarti termasuk kita dong yang suka ada di sekeliling Setta, hantu semua wah parah..." protes Rania.
"Maksudnya sekeliling yang bukan manusia, halah gitu aja ribet sih Rania mah," Bejo menimpuk Rania dengan pilus di tangannya.
***
Sementara itu Setta sudah di pindahkan ke ruangan perawatan di lantai yang sama dengan Tia. Sementara Nathan mengurus biaya perawatan Setta untuk tiga hari ke depan, Gibran menemani adiknya.
"Mau minum Ta?" tanya Gibran.
"Boleh."
Gibran meraih botol minum di atas meja samping ranjang yang di tempati Setta lalu memberikannya pada Setta.
"Makasih ya kak," ucap Setta.
"Eh maaf ya, maaf banget tadi aku ummm aku..."
"Kamu kenapa kak?"
"Tadi aku kasih nafas buatan ke kamu," ucap Gibran lirih.
"APA?! ASTAGFIRULLAH...!!!" Setta menyembunyikan wajahnya di balik bantalnya.
"Ta..."
"Pergi...!!!"
__ADS_1
"Ta maaf ya..."
"Pergi...!!!"
Gibran memandang Setta sekilas lalu membuka pintu kamar Setta.
"Kamu mau kemana?" tanya Nathan yang tiba-tiba hadir di sana.
"Aku mau keluar Tan," ucap Gibran.
"Oh iya kamu tinggal di mana? kamu kan sekarang di tugaskan ke divisi yang sama kan sama aku?"
"Aku belum tahu, aku cari hotel dulu lah besok baru cari kos kosan," ucap Gibran.
"Deket rumahku ada kos khusus pria, kamu bisa kesana, sepertinya sih masih ada kamar kosong," ucap Nathan.
"Oke Tan, makasih ya, dan maaf ya kejadian tadi kayaknya buat Setta marah deh sama aku," ucap Gibran lirih sambil melirik Setta yang masih menutup wajahnya dengan bantal.
"Oh... ya udah nanti aku jelasin sama Setta, ok thanks ya bro," Nathan menepuk bahu Gibran.
"Ta..." Nathan menarik bantal dari wajah adiknya itu.
"Hmmm..."
"Maafin Gibran, dia kan cuma mau nolongin kamu, tadi kamu gagal nafas lho," ucap Nathan.
"Aku gak marah abang sama kak Gibran, tapi aku malu tau..."
"Halah kayak abang pernah aja."
"Yee sembarangan, belum sih hahahaha," Nathan makin menertawai dirinya sendiri padahal ia mengingat sesuatu yang ia tutupi dari Setta.
"Bang, tutup tirainya!" pinta Setta.
"Kenapa Dek?"
"Biasa ada yang ngintip," ucap Setta.
Sosok perempuan dengan rambut acak-acakan mengintip dari balik kaca jendela, lidah panjangnya menjulur ke luar dengan mata terbelalak seolah ingin berontak keluar dari rongga matanya. Senyumnya menyeringai dan tertawa cekikikan saat Nathan menutup tirainya.
***
Pukul dua dini hari, Setta terbangun karena tak tahan untuk buang air.
"Duh abang pules lagi," Setta mencoba turun dari ranjangnya dengan memegangi selang infus di tangan kirinya agar stabil.
"Panggil suster aja deh," gumamnya lalu menekan tombol pemanggil suster.
Tak lama seorang suster datang ke dalam kamar Setta.
"Bisa di bantu?" tanya suster yang di nametag nya bernama Yulia.
__ADS_1
"Mau pipis suster hehehe," ucap Setta agak malu-malu.
"Bentar ya aliran infusnya di hentikan dulu, dah yuk turun, saya bantu ke dalam kamar mandi," ucapnya seraya membukakan pintu kamar mandi untuk Setta.
Setta membaca doa masuk kamar mandi di dalam hatinya lalu masuk melangkah ke dalam kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu.
"Infusnya di taruh sini ya, nanti kalau udah selesai pencet bel di samping kloset ya saya tunggu di depan," ucapnya.
"Oke suster terima kasih," ucap Setta dengan senyum manisnya.
Beberapa menit kemudian Setta selesai menuntaskan hajatnya lalu menekan bel pemanggil suster untuk membantunya dengan selang infus di tangannya. Darah Setta mulai naik di selang infus tersebut.
"Permisi, bapak panggil suster?" tanya seorang suster di hadapan Nathan yang baru saja terbangun sambil merentangkan tangannya ke atas.
"Hah panggil suster perasaan saya baru bangun," sahut Nathan.
"Abang ini Setta di kamar mandi, suster Yulia suruh masuk ke dalam!" teriak Setta dari dalam kamar mandi.
"Oh tuh suster, adik saya yang panggil silahkan ke dalam," Nathan mempersilahkan suster bernama Wati itu ke dalam toilet untuk membantu Setta.
Setelah membantu Setta sampai ke atas ranjangnya, suster itu mengucap akan kembali untuk membersihkan darah di selangnya karena menyumbat aliran infus ke dalam tubuhnya.
Tak lama kemudian suster Wati kembali lagi dengan peralatan pembersih di tangannya.
"Tadi kan yang bantu saya masuk toilet suster Yulia, kok gak balik lagi nolongin saya suster?" tanya Setta.
"Yulia?" tanya suster Wati menegaskan pendengarannya.
"Iya tadi namanya Yulia, orangnya cantik kulitnya kuning langsat, ada ta* lalat di hidungnya," ucap Setta.
Suster Wati terkejut sampai tangannya gemetar.
"Awww... sakit suster," ucap Setta karena tekanan jarum pembersih itu menyakiti tangan Setta.
"Oh maaf, maaf ya..." ucap suster Wati raut wajahnya berubah ketakutan.
****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Special nih dobel up buat kalian
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1