With Ghost

With Ghost
Chapter 38 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 38 ***


"Aaaaaaaaaaa..."


Aryo langsung tak sadarkan diri kala melihat tangan buntung itu di tangan Pak Idris.


"Ini apa?" tanya Pak Idris.


"I-itu, itu tangan Pak," ucap Jin yang buru-buru menolong Aryo.


"Saya tau ini tangan, kenapa tangan ini ada pada kalian?" Pak Idris mulai meninggi nada suaranya yang menandakan kecemasan terdengar.


"Itu... Itu kemungkinan tangan Nia, pak!" sahut Setta.


"APA?! TANGAN NIA?!"


"Pak, aduh kenapa pada ke hutan gini sih?" suara komar menggelegar memecah keheningan dalam hutan tersebut. Udin menyusul di belakangnya dengan nafas terengah-engah.


"Ini, murid saya menemukan ini dalam hutan," ucap Pak Idris.


Udin langsung merangkul Komar ketakutan.


"Kang, jangan-jangan di makan harimau," ucap Udin dengan nada gemetar.


"Ini bukan gigitan binatang, ini rapih seperti potongan benda tajam," ucap Pak Idris mengamati. Beliau paham dengan potongan tangan tersebut karena dia dan istrinya pernah bekerja di penjagalan sapi.


Jin memperhatikan Setta yang selalu melihat ke arah pohon besar tadi tempat ia menemukan Setta.


"Heh anak kecil... jangan bengong kamu, kalau kesambet aku yang repot!"


Suara Jin menyentak Setta menyadarkannya dari tatapan ke arah pohon besar itu.


"Aku lihat Nia, kak dia menangis di sana, apa jangan-jangan jasad Nia ada di sana?"


ucap Setta.


"Kamu yakin Ta?" tanya Pak Idris.


Setta mengangguk mengiyakan.


"Antar saya menemui pak kades, sekarang!" pinta Pak Idris menoleh pada Komar dan Udin.


"Ta, bantuin aku angkat si Aryo," pinta Jin.


"Seret aja kak kayak gini," Setta menyeret tubuh Aryo dengan memegang kedua tangan Aryo.

__ADS_1


"Wah kagak nyangka, sadis juga kamu!"


Kepala Aryo terantuk akar pohon saat Jin menggantikan Setta menarik tubuh Aryo dan menyadarkannya.


"Adaw....!!!" pekik Aryo.


"Nah udah sadar tuh, bagus kalau gitu," ucap Setta menoleh pada Aryo.


"Ah parah Jin, bukannya aku digendong malahan aku di seret," gumam Aryo menggerutu.


"Bukan ide aku Yo, tuh si Setta yang nyuruh," Jin menunjuk Setta yang meringis tersenyum tapi senyumnya tiba-tiba menghilang kala melihat hantu Nia menatap padanya.


Tubuh Nia terlihat jelas tanpa tangan kiri, seluruh kulit pada tubuhnya hilang. Tubuh Nia bagaikan patung peraga Torso yang berada di ruang sains sekolahnya. Tubuh Nia terlihat sangat mengerikan membuat Setta menunduk tak mau menatapnya. Di tubuh Nia hanya tersisa wajahnya yang masih utuh menatapnya jelas.


"Kamu liat Nia ya?" bisik Jin mendekati Setta.


"Iya kak, dia serem banget dia..."


"Udah jangan diceritain, nanti Aryo pingsan lagi, ayo buruan kita ke rumah pak kades," ajak Jin yang sebenarnya tak mau mendengar penuturan penglihatan Setta.


Sesampai di halaman rumah kepala desa, ternyata mobil patroli polisi daerah setempat sudah terparkir di sana.


"Nah kebetulan, ini ada polisi datang untuk mencari keberadaan wanita bule di desa ini yang sudah seminggu menghilang, sekalian saja buat laporannya mengenai kehilangan murid bapak," ucap Pak Rano saat melihat rombongan Pak Idris datang.


"Dimana anda temukan ini tadi?" tanya seorang polisi muda bernama Gibran mengamati potongan tangan tersebut.


"Di dalam hutan pak," ucap Pak Idris.


"Siapa yang menemukannya?" tanya Gibran.


"Ini pak kedua murid saya," Pak Idris menunjuk Setta dan Jin.


Gibran menyentuh tangan itu dengan seksama dengan ekspresi wajah yang serius seolah-olah membaca sesuatu dari sana. Setta mendekat ke arah potongan tangan Nia dan mencoba untuk berkonsentrasi saat menyentuhnya.


Bayangan saat Nia terbunuh dan di kuliti terlihat jelas di mata Setta. Gibran menatap Setta saat memasuki dimensi yang sama dengannya dalam melihat pembunuhan yang menimpa Nia. Mereka juga melihat gadis berkulit kaukasoid yang sudah tergeletak mati di ruangan yang sama dengan Nia.


Setta tersadar mundur beberapa langkah sambil menangis.


"Tolong ambil minum buat Setta, Jin."


Pak Idris memberi titah pada Jin yang segera melaksanakannya.


"Amankan potongan tubuh ini, dan segera kirim bantuan dan ahli forensik ke sini," pinta Gibran kepada rekannya.


"Siap pak, laksanakan!" sahutnya lalu pergi menghubungi markas di radio polisinya meminta bantuan.

__ADS_1


"Kamu bisa lihat apa yang saya lihat?" bisik Gibran mendekati Setta.


Pak Idris tak sengaja mendengarnya dengan mengernyitkan dahinya.


Setta mengangguk, masih menangis terisak karena tak kuat melihat penderitaan Nia yang di kuliti dalam keadaan hidup tak sadarkan diri. Lalu jasad Nia di kubur di dalam hutan bersama si gadis bule. Akhirnya Nia menghembuskan nafas terakhirnya di dalam kuburnya.


Jin datang menyerahkan air putih yang dia minta dari dalam rumah kepala desa. Gibran meraihnya dan memberikannya pada Setta.


"Ini minumlah, hebat juga kamu bisa kuat dengan penglihatan tadi," ucap Gibran lirih.


Setelah potongan tangan Nia di amankan, kepala desa akhirnya berani keluar dari rumah nya.


"Pak Kades, dimana rumah seorang dalang yang memproduksi wayang kulit di sini?" tanya Gibran.


"Oh Ki Romo ya, dia baru dua bulan pindah ke desa ini dan terkadang suka membuat pertunjukan wayang kulit yang seru, ramai mendatangkan pengunjung baik dari dalam desa maupun luar desa," ucap Pak Rano menjelaskan.


"Bisa antar saya kesana pak?" pinta Gibran.


"Oh tentu saja bisa, mari pak," ucap Pak kepala desa.


***


Setengah jam kemudian Gibran menggeledah rumah Ki Romo yang sudah menghilang pergi dari desa. Hanya serayu yang di temukan tergeletak tak sadarkan diri di kamarnya. Dan entah benar atau tidak, setelah Ibu Serayu sadar ia langsung terlihat seperti orang yang tak waras saat di tangkap oleh Gibran dan di borgol ke dalam mobil polisi.


Pencarian berlanjut menuju ke dalam hutan untuk menemukan jasad Nia dan lainnya yang di kubur di sana. Jin dan Aryo saling bersahutan memuntahkan isi perutnya yang mual tak tertahankan di pinggir sungai kala melihat jasad Nia dan gadis bule itu di angkat dari dalam tanah.


Nathan menghubungi Setta melalui ponselnya dan berjanji akan menjemput Setta esok hari.


Akhirnya Pak Idris memutuskan untuk menginap di rumah kepala desa sambil menunggu Nathan, daripada nanti tersesat saat pulang atau malah di culik bis hantu seperti Rania tempo hari yang membuat bulu kuduk Pak Idris meremang saat memikirkannya.


*************


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘

__ADS_1


__ADS_2