
*** Chapter 27 ***
Setta berusaha bertahan bersama Thalia di dalam rumahnya. Anak itu hanya terdiam sambil memainkan boneka di tangannya duduk di sofa sambil menonton tv.
"Say, pokoknya kamu harus bantuin aku jagain aku dari anak yang di luar itu ya," pinta Setta pada hantu perempuan yang selalu berada di kamarnya.
"Eit... Tapi gak usah nengok ke aku juga ya, bikin jiper nih," Setta menahan hantu tersebut agar jangan menoleh.
Tok..tok..tok...
Pintu kamar Setta di ketuk.
"Tuh kan, haduh gimana nih kalau yang ketok nih pintu si Thalia," gumam Setta.
"Ka-kak...to-long..."
Terdengar suara Thalia yang tercekat.
Setta akhirnya mengintip dengan membuka pintu kamarnya perlahan.
"Astagfirullahalazim...!!!" Pekik Setta saat melihat Thalia menempel di dinding.
Wajahnya menganga terlihat kesakitan dan menangis.
"Ka-kak...to-long..." ucap Thalia yang baru itu suaranya Setta dengar.
Setta segera berlari keluar rumah dengan paniknya.
BRUG...
Setta menabrak Jin yang kebetulan melintas depan gerbang rumahnya.
"Heh anak kecil, elu kenapa sih demen banget nabrak gue?"
ucap Jin sambil bertolak pinggang.
"Maaf kak, itu Thalia, itu Thalia..."
"Thalia kenapa? coba nafas dulu baru ngomong," ucap Jin.
"Ini udah nafas kalau gak nafas aku mati dong, itu Thalia kak tolongin, dia nempel di tembok kayak kesurupan gitu," ucap Setta dengan panik menjelaskan.
"Wah gak bisa di biarin nih," Jin melangkah ke dalam gerbang Setta menuju pintu rumah Setta namun kembali lagi.
"Aku lupa kalau aku takut, mending panggil pak ustad, tungguin di sini, aku mau lari nih ke masjid," Jin langsung berlari menuju masjid.
"Aduh lupa lagi hape di dalam mau nelpon abang," Setta menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba di samping Setta muncul penampakan pocong berwajah hitam yang sering muncul mengganggu Setta.
"Duh, jangan sekarang deh om cong, lagi panik nih," ucap Setta tak mau memandang ke arah pocong tersebut.
Pocong tersebut melompat menuju belakang rumah Setta dan menghilang.
Tak lama kemudian Jin datang bersama ustad Hadi.
"Assalamualaikum,"
Ustad Hadi menyapa Setta.
"Walaikumsalam, itu pak ustad di dalam." Setta menunjuk ke dalam rumahnya.
Thalia sudah menempel di langit-langit rumah Setta sambil berteriak memaki kepada Pak Ustad Hadi. Segala macam umpatan dia ucapkan untuk menghina Pak Ustad.
Setta menghubungi Nathan agar segera pulang bersama Tia terkait dengan tindakan Thalia yang di luar akal sehat.
Ustad Hadi melantunkan ayat suci Al Quran untuk melumpuhkan kekuatan jin jahat yang bernaung di tubuh Thalia.
Thalia berusaha memberontak sekuat tenaganya, bahkan dia menyakiti diri sendiri dengan membenturkan tubuh Thalia ke dinding berkali-kali.
Nathan yang telah tiba langsung memegangi Thalia bersama Jin. Mereka menahan tubuh anak itu agar tak bisa bergerak sekuat tenaganya.
"Beri dia minum air yang sudah saya doakan ini," pinta Pak Ustad Hadi menyerahkan segelas air putih ke tangan Nathan.
Nathan memberikan paksa minum tersebut pada Thalia, sementara Tia dan Jin menahan lengan Thalia dan Setta menahan kaki Thalia agar tak bergerak. Anak kecil itu akhirnya tenang tak berontak lagi.
"Sebaiknya anak ini di titipkan di pondok pesantren milik adik saya," ucap Ustad Hadi.
"Memangnya kenapa ya, pak ustad?" tanya Nathan.
"Banyak pengaruh jin jahat yang ada ditubuh anak ini, bahkan saya takut dia di jadikan media sebagai tempat bersemayamnya jin jahat atau iblis yang bisa mengendalikan manusia.
"Jadi, apa ada kemungkinan anak ini yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap keluarganya sendiri?" tanya Nathan.
"Saya juga tak tahu, tapi melakukan rukyah terhadap anak ini merupakan tindakan yang harus segera di lakukan," ucap Ustad Hadi.
"Masa sih pak anak ini membunuh keluarganya sendiri?" bisik Tia di samping Nathan.
"Ya saya sih gak bakal nuduh dia, tapi kamu lihat sendiri kan tadi gimana dia kesurupan, nah mungkin aja dia ngelakuin tindakan keji tersebut saat dikendalikan oleh jin," ucap Nathan.
"Bukan saya ya, Jin nya saya mah manusia baik-baik," sahut Jin saat Tia tak sengaja memandangnya dengan mengibaskan kedua tangannya.
Tia menahan tawanya saat melihat tingkah Jin.
"Tapi pak, masa iya kita buat laporan satu keluarga di bunuh sama anak yang kesurupan jin jahat?" bisik Tia.
__ADS_1
"Ya gak harus gitu, tetap harus penyelidikan yang logis yang harus kita lakukan.
," jawab Nathan yang juga membalas dengan berbisik.
Setta memandang mata Thalia dengan lekat. Mata gadis kecil itu seperti meminta pertolongan pada Setta atas apa yang menimpanya.
"Baiklah Pak Ustad, demi kebaikan anak ini saya persilahkan untuk di bawa ke pesantren, nanti saya akan mengunjunginya setiap hari untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Baik nak Nathan, ayo gadis kecil kita ke pesantren dulu, nanti di sana kamu banyak ketemu teman-teman," ucap Pak Ustad Hadi.
Thalia memeluk Setta sebelum di bawa pergi oleh pak Ustad Hadi membuat semua yang melihatnya terkejut. Nafas Setta tercekat seketika membuatnya kesulitan bernafas dengan mata melotot berwarna putih.
Setta tersadar berada di sebuah rumah besar berlantai dua. Thalia yang periang sedang bermain petak umpet dengan kakak laki-lakinya. Thalia bersembunyi di bawah tangga. Ayah Thalia sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Pintu rumahnya tiba-tiba di ketuk. Kakak laki-laki Thalia membuka pintunya.
Sepasang pria dan wanita yang mirip dengan wajah ibunya Thalia datang dengan senyum manisnya. Ayah Thalia menoleh.
"Hai Rudi," sapa ayahnya Thalia.
"Halo mas," ucap pria itu dan...
Jleb...
Sebuah pisau langsung di tancapkan ke kepala ayah Thalia. Darah bercucuran ke atas sofa. Sementara si wanita sudah membekap mulut anak lelaki di hadapannya. Dia membuat leher anak laki-laki tersebut terpisah dari tubuhnya.
"Kak Dinda, pasti ada di atas," ucap wanita tersebut lalu menuju lantai dua untuk menghabisi ibunya Thalia. Dia meraih bayi perempuan yang tertidur pulas itu dan melepaskan pakaian bayi tersebut.
"Mas Rudi, lihat...!" wanita bernama Dina itu menunjukkan sang bayi perempuan berusia tujuh bulan tersebut.
"Dia tak bisa menjadi media Putri Agung," ucap Rudi.
"Baiklah kalau begitu," Dina ....(skip) bayi tersebut tewas seketika.
"Thalia, dimana anak itu?" tanya Dina.
"Thalia.... Thalia... sini sama paman sayang..." ucap Rudi memanggil Thalia.
**************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘